HIDUP DAN SEHAT JADI NYATA DGN SUSU KAMBING MURNI ORGANIK

HIDUP DAN SEHAT JADI NYATA DGN SUSU KAMBING MURNI ORGANIK (YG TDK BERBAU, TDK PECAH, KENTAL & GURIH !!) Baik bagi Penderita FLEK PARU-PARUHIDUP DAN SEHAT JADI NYATA DGN SUSU KAMBING MURNI ORGANIK (YG TDK BERBAU, TDK PECAH, KENTAL & GURIH !!) Baik bagi Penderita FLEK PARU-PARU RASAKAN ! Dahsyatnya Metode Pengobatan dengan Media Susu Kambing Murni Organik Kualitas terbaik hasil Produksi Kambing Unggulan yang ditangani dengan cara yang unik dan alamiah di peternakan kami, sehingga menghasilkan susu yang TIDAK BERBAU, TDK PECAH, KENTAL & GURIH ! secara alamiah (Organik) tanpa penambahan zat kimia apapun, dan dapat mempercepat menyembuhan berbagai macam penyakit seperti Asma, Tifus, Maag kronis, Jantung Koroner, Darah Rendah dan Tinggi, Talasemia (kelainan darah merah), Anemia, TBC, Rematik, Impotensi (lemah syahwat), Diabetes, Gatal-gatal, Kropos Tulang, Hepatitis, Autis, Hydrocephalus dll serta menjaga kondisi tubuh agar tetap Prima bila dikonsumsi secara teratur dalam jangka waktu tertentu.

Saksi Hidup Penderita Hydrocephalus (Kelebihan Cairan pada otak) sejak bayi pada 7 tahun lalu yang perlahan kembali normal melalui media pengobatan susu kambing organik sejak 1 tahun yang lalu

Dinas Peternakan Propinsi DKI Jakarta telah mengadakan Pengujian Laboratorium atas Susu Kambing kami dengan hasil Positif sebagai Susu dengan Kandungan Kalsium (Ca) 1.153 dan Kalium (K) 737 TERTINGGI se-Indonesia yang berfungsi melancarkan peredaran darah akibat stroke, asam urat, rematik, mengurangi osteoporosis pada tulang

Kunjungi peternakan kami untuk melihat proses pemeliharaan, pemerahan susu dan pengemasan susu kambing organik, selain itu anda dapat minum langsung susu kambing yang baru diperah, BUKTIKAN SENDIRI KUALITAS SUSU KAMBING MURNI ORGANIK


KLIK Gambar Di Atas

QURBAN CERDASKAN BANGSA

QURBAN CERDASKAN BANGSA

Villa Domba Training Camp


MITRA USAHA& PENYEDIA KEBUTUHAN TERNAK ANDA


 

 

PETERNAK& AKADEMISI

Sebuah SMS diterima oleh penulis belum lama ini, “Assalammualaikum. Pak Agus, ini bu Sri dari Fapet Unpad, apakah kita dapat mengadakan pembekalan dan pelatihan di Villa Domba? Pesertanya adalah tim Villa Domba dan mitranya. Ke depan Kita rutinkan program ini sebagai Forum Saresehan.” SMS yang datangnya dari salah satu senior penulis dalam bidang ilmu perdombaan yaitu Prof. Dr. Ir. Sri Bandiati K. Prajoga dari jurusan Produksi Ternak Fakultas Peternakan Unpad. Bentuk dukungan yang sangat berarti bagi Villa Domba bersama mitranya dalam pengembangan usaha ternak dan sinergi cantik antara Peternak bersama Akademisi! Majulah Usaha Ternak Indonesia! Sebagaimana yang pernah penulis sampaikan pada Blog ini bila tengah dilakukan kegiatan penelitian terkait pemuliaan genetic Domba Garut di Villa Domba oleh beberapa mahasiswa Fapet Unpad dan rencana pengembangan village breeding centre melalui hasil penelitian yang didapat nantinya. Amin.

“Ini bukan program bagi-bagi domba loh bang! Ini adalah program kita untuk memitrakan asset induk domba yang kita miliki yang dikarenakan keterbatasan kandang dan lahan kita maka pada akhirnya dipelihara oleh pihak lain dalam bentuk kerjasama yang saling menguntungkan.” pesan yang selalu disampaikan oleh sang penggagas Villa Domba yaitu pak Suhadi Sukama kepada penulis. “Buat sistem yang benar, mulai dari pendataan ternak yang dimitrakan, standar pemeliharaan, rotasi induk dan lainnya di mana akan mendukung program yang dijalankan.” lanjutnya kembali kepada penulis. Alhamdullilah di mana sudah ada 2 mitra Villa Domba yang sangat mendukung upaya ini yaitu Kandaga Organic di desa Panaruban, Ciater Subang dengan dimotori oleh kang Andi bersama Kang Nick berikut baraya Kandaga lainnya dan Neqtasari Farm dibawah pimpinan kang Januar Budhi wilayah Ciwidey berikut peternak rakyat lainnya.

Dari proses yang tengah dan terus berjalan di mana terdapat beberapa hal yang kiranya perlu menjadi perhatian dalam menjalankan konsep kemitraan khususnya upaya pembentukan wilayah pembibitan ternak, “Kita mungkin perlu dukungan veteriner dan tenaga lapangan seperti sarjana masuk desa kang terkait pemeriksaan kesehatan hewan ternak secara rutin. Bila jumlah mitra sudah banyak maka bukan tidak mungkin ini akan jadi suatu kendala bagi kita.” ucap kang Januar Budhi pada suatu perbincangan evaluasi dengan penulis belum lama ini. “Kalau ada teknologi yang bisa menjadikan domba betina birahi serentak kemudian dilakukan IB misalnya maka kemunduran reproduksi ataupun kegagalan perkawinan bisa diminimalkan.” harapan sang penggagas Villa Domba. “Apalagi bila masih terdapat beberapa kandang mitra yang lokasinya berjauhan dan tidak sentra sehingga perlu dipikirkan metode perkawinan yang efektif dengan segala keterbatasan yang ada.” lanjutnya kembali.

“Program kemitraan sebaiknya terus berlanjut dengan penggemukkan anak domba jantan untuk kurban. Sedangkan bibit terpilih maka masuk ke kandang sentra Villa Domba” saran sang penggagas Villa Domba. ”Perlu dibuat tim lapangan yang solid untuk memantau jalannya kemitraan.” ucap kang Nick dari Kandaga Organic. “Pendataan kelompok peternak, kasus kelahiran dan kematian serta jumlah populasi ternak harus selalu update!” perintah sang penggagas kepada adik penulis yaitu Indri dan Alam. “Pengembangan kemitraan ternak harus diikuti dengan pengelolaan lahan rumput kang dan sinergi sektor usaha pertanian lainnya sehingga hasil produksi semakin optimal. Plus adakan pertemuan rutin untuk meningkatkan kekompakan peternak dan juga keahlian peternak” masukan kang Januar Budhi. Sebuah pekerjaan rumah yang semoga dapat terselesaikan secara bertahap dengan adanya pertemuan seperti di atas, Salam Peternak dan Majulah Usaha Ternak Indonesia!
Tantangan& Kunci Keberhasilan,
Kemitraan Pembibitan Usaha Ternak Domba Garut

Update pendataan kelompok peternak, kasus kelahiran dan kematian serta jumlah populasi ternak. Dukungan veteriner dan tenaga lapangan terkait Pemeriksaan Kesehatan Hewan Ternak. Teknologi Perkawinan yang Efektif dan Efesien. Program seleksi anak domba kategori Bibit Unggulan dan kelanjutan program melalui Penggemukkan domba. Pengelolaan lahan rumput sebagai sumber pakan ternak dan sinergi usaha pertanian. Pertemuan rutin untuk pembekalan, pelatihan dan kekompakan peternak. Optimis, usaha ternak Kambing Domba Indonesia akan maju bila semua pihak yang terlibat di dalamnya bersinergi sebagai tim yang solid dalam satu sistem di atas! Apa iya kita harus kalah dengan seorang Nilo Casas di Manila ataupun Alaminos Goat Farm yang kisahnya juga penulis posting pada Blog ini! Mohon saran, kritik dan masukan, Majulah Usaha Ternak Indonesia!

 

RESEP AGRIBISNIS OM BOB

Bob Sadino Bagi Pengalaman Wirausaha pada Petani Binaan P4MI
Di sela-sela waktunya yang padat Bob Sadino, praktisi agribisnis dan kewirausahaan terkenal, masih dapat berbagi pengalaman kepada petani dari Ende, Donggala, Lombok Timur, Blora, dan Temanggung. Acara yang berlangsung secara interaktif ini berjalan menarik. Para petani benar-benar memanfaatkan waktu yang disediakan untuk bertanya secara langsung seluk beluk pengelolaan usaha agribisnis.
Dengan gayanya yang khas, Bob mengungkapkan bahwa dalam merintis usaha harus didahului dengan niat dan tekad yang kuat disertai dengan persiapan pengetahuan bidang agribisnis dan kewirausahaan. Ini perlu mengingat berwirausaha memerlukan kemandirian untuk mengelola dan menjalankan bisnis dengan terjun langsung menggeluti bisnisnya. Bob pun tak segan mengeluarkan tips maupun kiat berusaha dari beberapa orang yang telah sukses untuk dijadikan rujukan agar berani memulai. Pengusaha yang telah malang melintang di dunia agribisnis ini menyarankan agar petani tidak terperangkap pada penyusunan rencana bisnis yang tak berujung, hingga akhirnya tidak ada langkah yang diambil.

“Sebelum memulai usaha agribisnis, berbagai analisis harus dilakukan sebagai pertimbangan penting,” ungkap Sadino. Analisis kelayakan teknis diperlukan untuk menentukan jenis komoditi yang sesuai kondisi lokal. Cuaca/iklim (suhu, kelembaban, curah hujan, ketinggian), jenis tanah (kesuburan, pH, kandungan unsur hara), sumber air (irigasi), termasuk SDM (tenaga ahli dan tenaga pelaksana) harus ditelaah kelayakannya. Tak kalah penting adalah analisis kelayakan ekonomi untuk mengetahui usaha ini benar-benar menguntungkan. Kondisi sosial-budaya, seperti hukum, norma dan adat pun harus menjadi bahan pertimbangan. Pada saat awal memulai usaha, jelas Bob, hendaknya memilih salah satu jenis usaha yang sederhana sesuai dengan kemampuan sumberdaya yang dimiliki. Komoditas dan produknya dijadikan sebagai entry point usaha. Setelah itu terus dikembangkan ke sub-sistem dan komoditas/produk lainnya karena potensi nilai tambah dalam sub-sistem agribisnis beragam. Bob pun menekankan bahwa kegiatan di hilir menunjukkan potensi nilai tambah yang jauh lebih besar.
“Untuk memulai usaha, harus dimulai dengan unit terkecil yang mudah dikelola dengan resiko yang lebih kecil”, ujar pria yang selalu bercelana pendek ini. “Jadikan unit kecil ini sebagai alat pembelajaran terlebih dulu untuk kemudian secara bertahap terus dikembangkan”, lanjutnya. Diingatkan oleh Bob, para pemula jangan terlalu menginginkan memulai dari usaha besar karena bakal menemui kegagalan. Sebab para pemula belum memahami sepenuhnya seluk beluk suatu usaha yang sangat banyak dipengaruhi berbagai faktor internal dan eksternal ini. Pengalaman pragmatis sangat diperlukan bagi pengusaha karena tidak diperoleh dari sekolah tinggi sekalipun yang umumnya hanya dilandasi bekal teoritis saja.

Pebisnis kawakan ini sengaja didatangkan pada acara “Pelatihan Kewirausahaan Mendukung Agribisnis Pedesaan” untuk memberi motivasi, pemahaman dan pengetahuan tentang konsep kewirausahaan dalam mendukung agribisnis pedesaan pada para petani binaan P4MI. Pelatihan yang berlangsung di Bali, pada pertengahan Juni 2008 ini pun menghadirkan narasumber lainnya, seperti Agung Wahyudi (Parung Agro Training) dan Nurfifuad (SPAT Malang). Peserta pelatihan kesempatan pula mengunjungi lokasi pengembangan usaha agribisnis di tiga lokasi di Kabupaten Tabanan, Bali, yaitu Subak Guama, Strawbery Stop dan Subak Wanaya Betan. Kecuali Strobery Stop yang dikembangkan kelompok tani sendiri, dua lokasi tempat kunjungan lapangan ini merupakan kegiatan agribisnis yang dibimbing oleh BPTP Bali sebagai unit kerja Badan Litbang Pertanian di provinsi tersebut.

 

 

MANFAAT KAPULAGA

”Ini dia nih bang yang namanya buah Kapulaga!” ucap pak Odik kepada penulis di lokasi perkebunan organik dan peternakan Villa Domba manakala selepas memanen buahnya dari pohon yang ditanam di Villa Domba. Buah Kapulaga? Jenis tanaman apakah itu dan apa manfaat sebenarnya dari buah yang dihasilkan? Hasil penelusuran penulis pada web. http://id.wikipedia.org/, Kapulaga (Amomum cardamomum) selama ini dikenal sebagai rempah untuk masakan dan juga lebih banyak digunakan untuk campuran jamu. Di beberapa daerah kapulaga dikenal dengan nama kapol, palago, karkolaka, dan lain-lain. Nama asing kapulaga adalah pai thou kou (bahasa Tionghoa). Orang Yunani menyebut buah itu cardamomom yang kemudian dilatinkan oleh orang Romawi menjadi cardamomum. Dalam bahasa Inggris disebut cardamom. Dalam bahasa Thai disebut krava, elaichi dalam bahasa Hindi, dan elakkaai dalam bahasa Tamil. Semula ditemukan tumbuh alamiah di daerah Pegunungan Malabar, pantai barat India. Karena laku di pasar dunia, kemudian banyak ditanam di Sri Lanka, Thailand, dan Guatemala. Di Indonesia mulai dibudidayakan sejak 1986.

Dalam perdagangan kemudian ditawarkan juga varietas kapulaga lain dari pegunungan tinggi Mysore (India) yang buah lonjongnya lebih membulat, dan lebih disukai karena lebih sedap. Berbeda dengan kapulaga Malabar yang tandan bunganya merayap, tandan bunga kapulaga Mysore tumbuh tegak. Dari Sri Lanka ditawarkan Elettaria cadamomum var. major sebagai Ceylon cardamom. Buahnya lebih lebar dan pipih daripada kapulaga Malabar, E. cardamomum var. minor. Dari Thailand, kemudian juga ditawarkan Siamese cardamom yang masih sejenis dengan kapulaga Indonesia , Amomum cardamomum. Tampak gambar adalah tanaman Kapulaga yang sengaja ditanam di lokasi perkebunan organik dan peternakan Villa Domba. Kapulaga dan menu masakan daging kambing dan domba? Silahkan KLIK Web.http://www.resep.web.id/indonesia/tumis-iga-kambing.htm. Tidak hanya untuk menu masakan daging kambing dan domba di mana buah Kapulaga juga memiliki manfaat sebagai campuran pada susu kambing, silahkan KLIK. http://infocondet.com/index.php?option=com_content&task=view&id=97&Itemid=37.

Kapulaga Organik? Pastinya tidak akan jauh dari kandang kambing ataupun domba! Sebuah informasi menarik di mana penulis peroleh dari Web. Kedaulatan Rakyat Edisi 11 Oktober 2008: PURWOREJO (KR) – Para petani desa hutan di Desa Sedayu Kecamatan Loano Kabupaten Purworejo kini diuntungkan dengan tanaman kapulaga. Jenis tanaman rempah-rempah ini hanya sekali tanam dan dapat dipanen berkali-kali setiap bulan. Harganya pun mencapai sekitar Rp 40 ribu per kilogram. Di samping itu, perawatan terhadap tanaman ini tidak terlalu rumit, bahkan sebagian besar menjadi kegiatan sampingan ibu-ibu rumah tangga. “Harga kapulaga kering mencapai Rp 40 ribu per kilogram. Setelah panen, tanaman ini akan terus berbuah,” ujar Kepala Desa (Kades) Sedayu Drs Kosim kepada KR di desanya, Jumat (10/10). Dikatakan, para petani memanfaatkan bantuan bibit kapulaga dari Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Tengah, ditanam secara tumpang sari di lahan hutan Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kedu Selatan, di petak 100 B Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Katerban, yang berbatasan dengan DIY di ujung Barat Laut Kabupaten Kulonprogo. Ditanam di lahan seluas kurang lebih 25 hektar. Dari bantuan benih yang diterimanya pada tahun 2007 itu menurut Kosim, sekarang sudah dapat dipanen dengan masa panen setiap bulan sekali. Kegiatan penanaman kapulaga ini melibatkan sekitar 98 orang dari sekitar 354 petani yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Sedyo Rahayu. Di samping sebagai kegiatan sampingan, tanaman jenis kapulaga ini juga mudah perawatanya. Hal ini juga diakui Sutrisno (34) salah seorang petani setempat. Bahkan menurutnya, pemeliharaan tanaman ini tidak terlalu sulit. “Paling hanya membersihkan rumput yang tumbuh di sekitar tananam disertai pemupukan,” katanya seraya menambahkan, harga kapulaga basah di tingkat petani sekitar Rp 8.000 per kilogram. Kapulaga ini sekaligus juga sebagai program pupuk organik yang dilakukan oleh para petani. Mereka memanfaatkan pupuk kandang dan kompos rumah tangga untuk memupuk tanaman ini. Kapulaga dapat tumbuh subur di tempat teduh atau di bawah kayu tegakan Perhutani, yang sebagian besar berupa tanaman pinus. Kebutuhan pupuk kandang ini lanjut Kosim, juga dibantu dari Dinas Kehutanan, yang merupakan satu paket dengan bantuan bibit. “Bantuan ini diberikan secara langsung kepada masyarakat. Masyarakat terima barang dan langsung menanamnya, dan kini sudah bisa dipanen,” jelasnya. (Nar)-c

 

GALERI KURBAN

Dan Berkurbanlah!
“Dan bagi tiap-tiap umat telah kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, Maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, Karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” QS. Al-Hajj : 34

 

 

BERDAYAKAN RAKYAT

Sebuah percakapan penulis melalui Facebook dengan salah satu sahabat: “Saya malahan ada ide sedikit gila pak.hehe.jgn ketawa dulu ya. Insya Alloh saya mo minta mas kawin kambing aja.10 ekor cukup untuk awalan. Untuk bibit yg penting bagus kan Kang Kambing jantan cukup 2 saja. Yang 8 dikelola masyarakat. Jadi mas kawin saya tiap tahun jumlahnya bertambah terus. Dan masyarakat juga langsung merasakan manfaatnya langsung”. Luar biasa pastinya dengan rencana yang dimiliki oleh teh Ani Handayani, bayangkan saja, berawal dari 8 ekor kambing betina namun memiliki impian agar beranak pinak sehingga menjadi suatu peternakan kambing dengan rencana melakukan pemberdayaan masyarakat. Apa yang tidak mungkin dari suatu impian bilamana hal itu bertujuan untuk kemajuan umat dan bangsa! Majulah usaha pertanian dan peternakan Indonesia!

“Kang, saya rencana terjun dibidang pembibitan domba, mohon saran dan masukan!” demikian ucap pak Andi yang datang bersama keluarganya ke lokasi perkebunan organik dan peternakan Villa Domba. “Niatan awal saya ingin memberikan kegiatan untuk adik-adik Saya yang baru saja selesai nyantri.” Diskusi menarik pastinya terjadi di wisma Villa Domba terlebih pak Andi pun menyertakan adik-adiknya untuk mengikuti Villa Domba Training Camp. Kombinasi usaha pembibitan dan penggemukkan domba Insya Allah akan mulai dijalankan oleh pak Andi untuk dipercayakan kepada adik-adiknya. Majulah Usaha Ternak Indonesia! Sebuah Email masuk yang diterima pula oleh penulis belum lama ini dan bertanya,”Kang, apa betul dengan pernyataan akang pada skema kemitraan di mana biaya pakan ternak akan tetap lebih murah walaupun rumput yang kita tanam berada di lahan sewaan?” KLIK Link berikut, Skema Usaha Kemitraan ternak domba,

 

KISAH KURBAN

Tengah duduk bersantai pada waktu sore hari bersama personil tim Villa Domba lainnya, tanpa sengaja mata penulis melihat sebuah keluarga dengan formasi lengkap ada ayah, ibu, anak dan bersama keponakannya membawa rumput beramai-ramai untuk disetor ke Villa Domba. “Wah, kejer setoran nih bu sampai sekeluarga rame-rame mengarit!” canda penulis kepada si ibu dimaksud. “Enggak Cep, kebetulan bapak sedang sepi kerjaan di kota jadi bantu-bantu untuk mencari rumput.” demikian jawabnya. “Cep, kalau untuk kurban nanti di sini paling murah harganya berapa?” tanya si ibu kepada penulis setelah ia selesai menerima pembayaran rumput. “Ibu ada uang tapi ya tidak banyak, hasil sisihkan seribu rupiah setiap hari dari uang menyetor rumput, ditambah uang tabungan bapak dari hasil buruh bangunan mudah-mudahan cukup.” Ibarat petir menyambar di siang bolong dengan kata-kata si ibu karena cerita-cerita seperti ini biasanya hanya penulis baca dan dapatkan dari internet, akan tetapi benar adanya saat sekarang ini dengan pertanyaan ibu tersebut yang penulis dengar secara langsung di tempat. Selidik punya selidik di mana ternyata ada seorang ustadz di masjid sekitar lingkungan Villa Domba yang mengarahkan warga pencari rumput untuk menabung kurban dari hasil pendapatan ngarit, semakin lebih terharunya hati manakala penulis mendapatkan laporan pula dari personil lainnya bila ustadz tersebut selain mengajarkan ngaji dan ia pun termasuk bagian dari warga yang memasok rumput ke Villa Domba.

 

Nabi Ibrahim dari masa ke semasa pergi ke Makkah untuk mengunjungi dan menjenguk Ismail di tempat pengasingannya bagi menghilangkan rasa rindu hatinya kepada puteranya yang ia sayangi serta menenangkan hatinya yang selalu rungsing bila mengenangkan keadaan puteranya bersama ibunya yang ditinggalkan di tempat yang tandus, jauh dari masyarakat kota dan pengaulan umum. Sewaktu Nabi Ismail mencapai usia remajanya Nabi Ibrahim a.s. mendapat mimpi bahwa ia harus menyembelih Ismail puteranya. Dan mimpi seorang nabi adalah salah satu dari cara-cara turunnya wahyu Allah , maka perintah yang diterimanya dalam mimpi itu harus dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim.

Ia duduk sejurus termenung memikirkan ujian yang maha berat yang ia hadapi. Sebagai seorang ayah yang dikurniai seorang putera yang sejak puluhan tahun diharap-harapkan dan didambakan ,seorang putera yang telah mencapai usia di mana jasa-jasanya sudah dapat dimanfaatkan oleh si ayah , seorang putera yang diharapkan menjadi pewarisnya dan penyampung kelangsungan keturunannya, tiba-tiba harus dijadikan qurban dan harus direnggut nyawa oelh tangan si ayah sendiri.

Namun ia sebagai seorang Nabi, pesuruh Allah dan pembawa agama yang seharusnya menjadi contoh dan teladan bagi para pengikutnya dalam bertaat kepada Allah ,menjalankan segala perintah-Nya dan menempatkan cintanya kepada Allah di atas cintanya kepada anak, isteri, harta benda dan lain-lain. Ia harus melaksanakan perintah Allah yang diwahyukan melalui mimpinya, apa pun yang akan terjadi sebagai akibat pelaksanaan perintah itu.

Sungguh amat berat ujian yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim, namun sesuai dengan firman Allah yang bermaksud:” Allah lebih mengetahui di mana dan kepada siapa Dia mengamanatkan risalahnya.” Nabi Ibrahim tidak membuang masa lagi, berazam {niat} tetap akan menyembelih Nabi Ismail puteranya sebagai qurban sesuai dengan perintah Allah yang telah diterimanya.Dan berangkatlah serta merta Nabi Ibrahim menuju ke Makkah untuk menemui dan menyampaikan kepada puteranya apa yang Allah perintahkan.
Nabi Ismail sebagai anak yang soleh yang sgt taat kepada Allah dan bakti kepada orang tuanya, ketika diberitahu oleh ayahnya maksud kedatangannya kali ini tanpa ragu-ragu dan berfikir panjang berkata kepada ayahnya:” Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu. Engkau akan menemuiku insya-Allah sebagai seorang yang sabar dan patuh kepada perintah. Aku hanya meminta dalam melaksanakan perintah Allah itu , agar ayah mengikatku kuat-kuat supaya aku tidak banyak bergerak sehingga menyusahkan ayah, kedua agar menanggalkan pakaianku supaya tidak terkena darah yang akan menyebabkan berkurangnya pahalaku dan terharunya ibuku bila melihatnya, ketiga tajamkanlah parangmu dan percepatkanlah perlaksanaan penyembelihan agar menringankan penderitaan dan rasa pedihku, keempat dan yang terakhir sampaikanlah salamku kepada ibuku berikanlah kepadanya pakaian ku ini untuk menjadi penghiburnya dalam kesedihan dan tanda mata serta kenang-kenangan baginya dari putera tunggalnya.”Kemudian dipeluknyalah Ismail dan dicium pipinya oleh Nabi Ibrahim seraya berkata:” Bahagialah aku mempunyai seorang putera yang taat kepada Allah, bakti kepada orang tua yang dengan ikhlas hati menyerahkan dirinya untuk melaksanakan perintah Allah.”

Saat penyembelihan yang mengerikan telah tiba. Diikatlah kedua tangan dan kaki Ismail, dibaringkanlah ia di atas lantai, lalu diambillah parang tajam yang sudah tersedia dan sambil memegang parang di tangannya, kedua mata nabi Ibrahim yang tergenang air berpindah memandang dari wajah puteranya ke parang yang mengilap di tangannya, seakan-akan pada masa itu hati beliau menjadi tempat pertarungan antara perasaan seorang ayah di satu pihak dan kewajiban seorang rasul di satu pihak yang lain. Pada akhirnya dengan memejamkan matanya, parang diletakkan pada leher Nabi Ismail dan penyembelihan di lakukan . Akan tetapi apa daya, parang yang sudah demikian tajamnya itu ternyata menjadi tumpul dileher Nabi Ismail dan tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya dan sebagaimana diharapkan.

Kejadian tersebut merupakan suatu mukjizat dari Allah yang menegaskan bahwa perintah pergorbanan Ismail itu hanya suatu ujian bagi Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sampai sejauh mana cinta dan taat mereka kepada Allah. Ternyata keduanya telah lulus dalam ujian yang sangat berat itu. Nabi Ibrahim telah menunjukkan kesetiaan yang tulus dengan pergorbanan puteranya. untuk berbakti melaksanakan perintah Allah sedangkan Nabi Ismail tidak sedikit pun ragu atau bimbang dalam memperagakan kebaktiannya kepada Allah dan kepada orang tuanya dengan menyerahkan jiwa raganya untuk dikorbankan, sampai-sampai terjadi seketika merasa bahwa parang itu tidak lut memotong lehernya, berkatalah ia kepada ayahnya:” Wahai ayahku! Rupa-rupanya engkau tidak sampai hati memotong leherku karena melihat wajahku, cubalah telangkupkan aku dan laksanakanlah tugasmu tanpa melihat wajahku.” Akan tetapi parang itu tetap tidak berdaya mengeluarkan setitik darah pun dari daging Ismail walau ia telah ditelangkupkan dan dicuba memotong lehernya dari belakang.

Dalam keadaan bingung dan sedih hati, karena gagal dalam usahanya menyembelih puteranya, datanglah kepada Nabi Ibrahim wahyu Allah dengan firmannya:” Wahai Ibrahim! Engkau telah berhasil melaksanakan mimpimu, demikianlah Kami akan membalas orang-orang yang berbuat kebajikkan .”Kemudian sebagai tebusan ganti nyawa Ismail telah diselamatkan itu, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim menyembelih seekor kambing yang telah tersedia di sampingnya dan segera dipotong leher kambing itu oleh beliau dengan parang yang tumpul di leher puteranya Ismail itu. Dan inilah asal permulaan sunnah berqurban yang dilakukan oleh umat Islam pada tiap hari raya Idul Adha di seluruh pelosok dunia.

Tersisa 35 hari lagi terkait polling yang penulis adakan pada Blog Domba Garut bertemakan rencana pelaksanaan ibadah kurban 1429 H yang akan datang. Bagi pembaca yang belum berpartisipasi kiranya berkenan mengikutinya pada bagian bawah Blog ini. Majulah Usaha Ternak Indonesia!
Diawali dengan pertanyaan mengenai keberadaan lokasi pembaca saat ini yang diikuti 138 peserta polling: Pembaca Blog Domba Garut terbanyak yaitu berada di wilayah Jabodetabek sebesar 42%, diikuti wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur sebesar 17% sementara di wilayah Bandung, Cirebon, Kuningan dan Pandeglang sendiri hanya sebesar 15%. Adapun pembaca yang berasal dari luar Indonesia adalah 14%.

Berapa harga kambing domba yang dibeli oleh pembaca pada pelaksanaan ibadah kurban 1428 H lalu? Dari 75 peserta polling yang berkenan menjawab pertanyaan ini di mana sebanyak 45% menjawab berada pada kisaran harga Rp. 750.000,- s.d Rp. 1.000.000,-. Kemudian 30% menjawab berada pada kisaran harga Rp. 500.000,- s.d Rp. 750.000,- dan hanya 18% yang menjawab membeli hewan kurban kambing domba pada pelaksanaan kurban 1428 H lalu dengan harga di atas Rp. 1.000.000,-.

Bagaimana dengan sumber ternak sebagai tempat pembelian terkait pengadaan hewan kurban kambing domba pada tahun lalu? Diikuti 60 peserta polling di mana sebesar 51% menjawab dari pedagang ternak di lingkungan sekitar, kemudian 33% menjawab dipercayakan kepada panitia kurban akan tetapi tidak tahu darimana sumber ternaknya berasal dan 11% menjawab dipercayakan juga kepada panitia kurban akan tetapi mengetahui darimana sumber ternaknya berasal.

Polling pembaca terkait pertimbangan saat membeli hewan kurban: Diikuti oleh 68 peserta polling adalah dijawab 67% menginginkan harga yang murah, tampilan fisik meyakinkan dan cukup umur dengan ditandai gigi dewasa.

 

CANTIK DENGAN SUSU KAMBING

Tahukah pembaca? Di zaman mesir kuno, Ratu cantik Cleopatra, menggunakan susu kambing sebagai upaya untuk mempercantik wajah dengan cara mengkonsumsinya serta digunakan untuk mandi susu untuk menjaga kehalusan kulit dan keindahan tubuhnya.Dari hasil penelitian para ahli dan bukti sejarah telah banyak membuktikan bahwa ternyata susu kambing mempunyai banyak kelebihan di banding dengan susu hewan pemamah biak yang lain, Seperti: Sapi, Lembu, Kerbau, Kuda, Onta, Domba, Dan lain-lain. Susu kambing sangat baik bagi penderita penyakit kulit, Eksim serta gatal-gatal pada kulit.

Sebagai mana yang pernah dilakukan oleh Dokter George Dermit dari Ohaio, Amerika serikat. Menggunakan terapi susu kambing bagi anak-anak penderita penyakit kulit tersebut. Bahkan pakar penyakit kulit dari New Zealand, terhadap para pasienya di anjurkan untuk mengkonsumsi susu kambing sebagai peningkatan kesehatan kulit terutama bagian wajah. Kasiat susu kambing yang mengandung gizi tinggi, dapat mempercepat pertumbuhan gigi dan tulang Juga untuk mengembalikan kesehatan seorang ibu yang baru melahirkan,Pendarahan sesudah melahirkan (Postpartum), Memulihkan zat besi sesudah haid, Juga bagi seorang yang kekurangan darah(Anemia). Terhadap orang yang sudah berusia lanjut, Kandungan berbagai mineral dalam susu kambing akan menghambat kerapuhan tulang (Osteoporosis).(http://tcplanet.blogspot.com)

Tahukah Pembaca?
Vitamin dan mineral: Kandungan vitamin A pada susu kambing lebih tinggi daripada susu sapi. Lebih banyak vitamin B, terutama riboflavin. Niacin lebih tinggi. Vitamin C dan D kedua jenis susu tidak berbeda jauh. Selain itu, susu kambing juga kaya mineral seperti kalsium, kalium, magnesium, fosfor, klorin dan mangan, tetapi rendah garam (sodium), sulfur dan zat besi. Enzim: mengandung enzim ribonuklease, alkalin fosfatase, lipase dan xantin oksidase yang diperlukan untuk mencerna susu. Lemak dan Protein: susu kambing memiliki lemak dan protein yang lebih mudah dicerna, karena lemaknya mengandung lebih banyak asam lemak berantai pendek. Ukuran partikel lemak dan proteinnya juga lebih kecil. Selain itu kandungan kolesterolnya juga lebih rendah dibanding susu sapi. Cocok diminum oleh orang yang sedang diet.

 

ILMU KANG LUKI

”Kang, punten, saya teh mau tanya ke akang, kok kang Luki bisa enjoy nikmati hidup, padahal pekerjaan kang Luki banyak sekali, mulai dari pekerjaan tetap di kantor sampai dengan mempersiapkan masa depan antara lain dengan beternak dan berjualan domba?” tanya penulis kepada kang Luki yang disamping pekerjaan tetapnya di mana ia pun giat menekuni usaha ternak domba sembari membantu penulis dalam hal pemasaran hewan kurban. Sebagai informasi di mana perkenalan penulis dengan kang Luki adalah dimulai saat ia membeli ternak domba untuk akikah anaknya melalui Villa Domba. Usianya adalah lebih muda dibandingkan penulis namun penulis yakin pengalaman hidupnya adalah jauh lebih hebat dibandingkan penulis, sangatlah disayangkan tentunya bilamana penulis tidak belajar darinya. Teringat pesan kehidupan dari pak Rahardjo Ramelan selaku Komisaris Sarana Jabar Ventura sewaktu kunjungannya ke Villa Domba, ”Walaupun dia lebih muda akan tetapi bila jauh lebih tinggi ilmunya maka jangan sungkan untuk berguru!”

”Hidup itu harus dinikmati kang! Dinikmati dan penuh perencanaan! Prinsip Saya asalkan niat kita memperkaya orang lain maka kita pasti kaya!” demikian secara garis besar pelajaran berharga pertama yang penulis dapat dari kang Luki. ”Hidup kita sekarang ada uang maka bukan berarti hidup kita besok akan ada uang, hidup kita sekarang tidak ada uang maka bukan berarti hidup kita besok juga lagi-lagi tidak ada uang kang!” ”Pintu rejeki mah selalu ada setiap saat kang dan bisa dari mana saja datangnya! Makanya yang kita kejar lebih baik rejeki kang dan bukan uang! Pintu Rejeki mah pasti halal, nah kalau pintu uang?” lanjutnya kembali. ”Seperti hubungan saya saja dengan akang, saya bantu akang jualan domba dan Insya Allah akang akan kasih sesuatu buat saya, terbuka pintu rejeki! Kemudian seperti hubungan saya dengan pekerja akang, pekerja akang bantu memelihara domba maka pekerja akang akan dapat sesuatu dari penjualan domba. Kan saling memperkaya berkat Pintu Rejeki kang!” terasa kecil diri penulis manakala kang Luki mengucapkan kalimat tersebut. ”Makanya kang, semakin banyak pintu rejeki yang kita buka maka akan semakin membuka juga pintu rejeki bagi yang lainnya!” lanjutnya kembali. ”Kang, sesuatu yang awalnya selalu diukur dengan uang dari pengalaman saya bisa menutup pintu rejeki!” ucap kang Luki. ”Contoh kasus saja kalau akang menjual domba hanya memperhitungkan keuntungan untuk akang, akang tidak berhitung berapa ongkos pekerja, akang tidak membagi jerih payah mitra, tertutup khan pintu rejeki, kalau sudah begitu bukan doa yang terucap untuk semakin memperkaya akan tetapi bisa-bisa tutup nih usaha.” ilmu kang Luki sebagai pembelajaran bagi penulis dalam menjalani arti hidup. Hatur Nuhun kang!

Diposkan oleh Agus Ramada di 10:29 0 komentar

 

BUAH MANIS SILATURAHMI

“Kang, saya Sano dari alumni ITB bermaksud berkunjung ke Villa Domba.” demikian SMS yang penulis terima terkait kunjungan yang dilakukan oleh kang Sano lulusan Teknik Lingkungan ITB bersama rekan-rekannya. Suatu kehormatan bagi Villa Domba atas kunjungan yang dilakukan oleh kang Sano dan rekan-rekannya terlebih informasi tentang Villa Domba didapatnya melalui millis komunitas TDA (Tangan Di Atas) yang penulis ikuti, buah manis tentunya berkat silaturahmi yang terjalin antara penulis dengan presiden Republik Kuliner Bandung yaitu kang Agah, adalah kang Agah yang memberikan informasi kepada penulis untuk bergabung di millis komunitas TDA. KLIK Informasi TDA. http://www.tangandiatas.com .

Awalnya kedatangan kang Sano dan rekan-rekan ke lokasi perkebunan organik dan peternakan Villa Domba direncanakan pada pagi hari menjelang Subuh, “Kita sahur dulu kang dan baru meluncur ke sana untuk sholat Subuh di kebun bilamana diperkenankan.” ucap kang Sano yang rajin berpuasa Senin Kamis ini. Namun dikarenakan posisi penulis sendiri yang masih berada di Bekasi selepas pernikahan adik dan berlanjut dengan beberapa pertemuan di Jakarta maka rencana pun dirubah di mana pertemuan akhirnya disepakati selepas waktu Dzuhur untuk kemudian berlanjut dengan tawaran penulis kepada kang Sano dan rekan-rekan berbuka puasa di Villa Domba, “Kang, kita dalam perjalanan ke sana, membawa tamu lumayan spesial nih di mana beliau merupakan komisaris Sarana Jabar Ventura dan pernah kita ajak pada pertemuan TDA.” info kang Sano via SMS di mana posisi penulis saat itu masih dalam perjalanan menuju Bandung. Bagi penulis yang masih terbilang junior dalam kancah kehidupan adalah suatu kebahagiaan atas ide kang Sano yang entah bagaimana caranya sampai membawa pak Rahardjo Ramelan datang ke Villa Domba, buah manis tentunya berkat silaturahmi yang terjalin antara penulis dengan presiden Republik Kuliner Bandung yaitu kang Agah, adalah kang Agah yang memberikan informasi kepada penulis untuk bergabung di millis komunitas TDA. “Wah kang, punten, tamu sekaliber beliau seharusnya yang menyambut adalah sang penggagas Villa Domba yaitu pak Suhadi Sukama.” respond penulis melalui SMS kepada kang Sano. KLIK Informasi mengenai PT. Sarana Jabar Ventura melalui Link. http://jabar.890m.com/. Email. sjv@elga.net.id.

Pertemuan silaturahmi pun terwujud juga akhirnya antara penulis dengan kang Sano dan rekan-rekan berikut pak Rahardjo Ramelan yang mana beliau merupakan komisaris Sarana Jabar Ventura. Hujan yang mengguyur lokasi perkebunan organik dan peternakan Villa Domba saat pertemuan sebenarnya menjadi penantian bagi penulis namun sekaligus rasa was-was karena khawatir menjadikan kang Sano dan rekan-rekan termasuk pak Rahardjo akan merasa kurang nyaman. Akan tetapi Alhamdullilah di mana rasa was-was dapat terkendali sudah, sosok pak Rahardjo Ramelan yang low profile, kang Sano yang sederhana dan apa adanya berikut rekan-rekan lainnya telah menjadikan suasana pertemuan begitu bermakna dan penuh manfaat khususnya bagi penulis, “Kalian ini yang muda-muda jangan pernah gengsi! Hidup bukan untuk mencari uang akan tetapi mencari rejeki!” begitu banyak petuah dan nasihat yang disampaikan oleh pak Rahardjo Ramelan selaku senior kepada Kami saat pertemuan itu. “Dalam hidup di mana kita harus selalu mau untuk belajar, kepada siapapun, baik yang sudah tua ataupun yang masih muda.” pesan lain dari pak Rahardjo, “Kemajuan bangsa ini adalah berada ditangan kalian yang muda!”

“Kang, dalam hidup saya memiliki prinsip untuk bisa selalu saling berbagi dan memberikan manfaat!” sebuah kata-kata penyengat yang diucapkan oleh kang Sano dengan usia yang jauh lebih muda dibandingkan penulis. Luar Biasa! Seakan terdapat arus listrik 1000 watt yang mengalir dalam tubuh penulis di mana sebelumnya dan belum lama kata-kata yang kurang lebih sama juga diucapkan oleh sang penggagas Villa Domba kepada penulis, saat itu penulis mengobrol hingga larut malam dengan sang penggagas yaitu tepatnya 2 hari sebelum pertemuan dengan kang Sano, “Bang, hidup itu harus mau untuk selalu saling berbagi, jangan egois! Nikmati saja dan percaya bila Tuhan akan selalu memberikan jalan, jangan jadikan beban karena itu suatu kemuliaan.” Salut dengan kang Sano dalam usianya yang jauh lebih muda dibandingkan penulis namun memiliki tingkat keyakinan yang lebih luar biasa bila hidup memang harus saling berbagi! ”Jangan lupa bila kita sudah cukup dalam hidup di mana sisihkan pula penghasilan kita untuk yang belum cukup.” pesan penutup dari pak Rahardjo sebelum beliau harus kembali ke Bandung karena ada tamu mendadak yang harus ia temui, ”Kang, aku masih punya hutang janji ya untuk berbuka di Villa Domba. Luangkan waktu untuk menginap” ucap penulis kepada kang Sano. Buah manis tentunya berkat silaturahmi yang terjalin antara penulis dengan presiden Republik Kuliner Bandung yaitu kang Agah, adalah kang Agah yang memberikan informasi kepada penulis untuk bergabung di millis komunitas TDA. ”Kang, Selasa besok tanggal 28 Oktober bisa datang tidak ke peringatan Kongress Pemuda!” tanya kang Sano kepada penulis. ”Punten kang, kebetulan diminta hadir seminar di Puslitbangnak Bogor dan berlanjut rapat DPP HPDKI siangnya.” jawab penulis di mana memang pada pagi hari sebelumnya ditelepon oleh pak Abdul Jabbar selaku Sekjen dan memberikan informasi dimaksud kepada penulis. Majulah Petani dan Peternak Muda Indonesia!

KLIK Video Youtube:
http://www.youtube.com/watch?v=1nyLZyZbyVU
“Kang, kita dalam perjalanan ke sana, membawa tamu lumayan spesial nih di mana beliau merupakan komisaris Sarana Jabar Ventura dan pernah kita ajak pada pertemuan TDA.” info kang Sano via SMS di mana posisi penulis saat itu masih dalam perjalanan menuju Bandung. Bagi penulis yang masih terbilang junior dalam kancah kehidupan adalah suatu kebahagiaan atas ide kang Sano yang entah bagaimana caranya sampai membawa pak Raharjo Ramelan datang ke Villa Domba, buah manis tentunya berkat silaturahmi yang terjalin antara penulis dengan presiden Republik Kuliner Bandung yaitu kang Agah, adalah kang Agah yang memberikan informasi kepada penulis untuk bergabung di millis komunitas TDA.

 

PETANI& PENELITI

Suatu kehormatan bagi Villa Domba belum lama ini manakala juga mendapatkan kunjungan dari Bp. Mohd. Shafie Dato’ Mahmud selaku Managing Director dari Prigel Agro Sdn Bhd, ”Kang, kita Insya Allah akan jadi datang ke Villa Domba.” demikian ucap Ibu Muni salah satu pembaca setia Blog Domba Garut dan Organic Indonesian Vanilla yang pada kunjungannya lalu sengaja tidak memberitahu dahulu bila juga akan membawa serta Bp. Shafie seorang peneliti lulusan Jepang untuk datang ke Villa Domba. Tidak hanya sekedar berkunjung, dimulai dengan topik seputar tanaman Vanilla maka diskusi menarik pun terjadi manakala Bp. Shafie berkenan memberikan ilmu dan pengetahuannya seputar penelitian yang sedang dilakukannya saat ini terkait bidang pertanian dan tanaman perkebunan. Silaturahmi cantik antara Petani dan Peneliti. Silahkan KLIK Video Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=rsym-TJDO4E.

 

Kebahagiaan yang sebenarnya masih kurang lengkap bagi Villa Domba di mana disayangkan karena kedatangan Bp. Shafie yang bertemakan kejutan sehingga Villa Domba tidak bisa ikut menyertakan salah satu putra bangsa terbaik dalam bidang penelitian Vanilla untuk ikut hadir pada diskusi tersebut yaitu Dr. Ir. Mesak Tombe. ”Bang, petani Indonesia harus selalu punya harapan! Apa salah bila petani ingin hidup enak? Apa tidak boleh bila petani ingin mendapatkan penghasilan layak dan terus maju? Punya rumah, punya kendaraan, punya kandang dan ternak yang banyak!” demikian selalu pesan sang penggagas kepada penulis. Termenung diri penulis dengan pemikiran yang umumnya berkembang di masyarakat saat ini, petani hanya identik dengan bersawah, petani hanya identik dengan kotornya tanah, kandang domba seadanya dan hidup ala kadarnya. Bisakah Indonesia? Indonesia Bisa!


Petani tanpa peneliti? Indonesia kaya akan koleksi jenis tanaman pertanian dan perkebunan, lahannya teramat luas dan belum termanfaatkan optimal, sinergi petani dan peneliti tentunya akan menjadikan koleksi kekayaan yang ada semakin lebih baik kualitasnya, lebih banyak kuantitasnya dan memiliki nilai jual tinggi harapannya baik di pasar lokal maupun internasional. KLIK Video. http://www.youtube.com/watch?v=W98J4WFdGKc. Topik diskusi semakin berkembang dan tidak hanya seputar tanaman Vanilla, mulai dari tanaman Tomat, Wortel, Jagung dan aneka buah-buahan, Silaturahmi cantik antara Petani dan Peneliti! ”Bila Villa Domba mengijinkan kang, Insya Allah nanti kita berkenan mendukung dengan mendatangkan peneliti kalau perlu dari Jepang langsung sehingga akan semakin memperkuat sektor produksi yang ada. Tidak perlu khawatir soal biaya.” demikian informasi Ibu Muni kepada Kami. Semoga dapat terwujud sehingga memajukan usaha pertanian dan peternakan Indonesia! Merdeka!

Diposkan oleh Agus Ramada di 10:23 0 komentar

 

KABAR DARI YOGYA

Silaturahmi adalah cikal bakalnya segudang ilmu dan rejeki, pengalaman inilah yang kiranya penulis dapat dengan adanya beberapa kunjungan ke lokasi perkebunan organik dan peternakan Villa Domba belum lama ini. ”Mohon maaf kang, awalnya kita rencanakan pak direktur untuk ikut, akan tetapi karena beliau diminta untuk mendampingi pak menteri maka semoga silaturahmi kita dapat berlanjut.” demikian ucap Bp. Sofyan Ardiansyah, MM selaku manager dari PT. Gama Multi Usaha Mandiri (Gama Multi) sebagai salah satu unit usaha yang dimiliki oleh Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta manakala kunjungannya ke Villa Domba belum lama ini.

 

”Insya Allah kang, diluas lahan yang ada sekarang ini kurang lebih 153 ha dengan struktur tanah tandus dan bercadas di mana mungkin sama seperti Villa Domba dahulu, Kami bermaksud mengembangkannya sebagai upaya penghijauan berikut pengabdian dan pemberdayaan masyarakat kurang mampu melalui kegiatan dibidang pertanian dan peternakan.” info Bp. Sofyan kepada penulis. ”Peternakan domba adalah salah satunya kang, semoga akang berkenan bertukar pengalaman di mana selepas dari Villa Domba maka Kami pun akan meluncur ke pak haji Bunyamin di Bogor.” lanjutnya kembali. Semangat! Majulah usaha pertanian dan peternakan Indonesia! KLIK Informasi Gama Multi. http://www.gamamulti.com/, Email. http://www.gamamulti.com/contact-us.html.

Kapasitas penulis yang masih terbilang junior dalam bidang manajemen agribisnis pastinya akan jauh lebih baik bilamana sang penggagas Villa Domba yaitu pak Suhadi Sukama untuk ikut pula memberikan saran dan masukan, semoga informasi ini dapat memberikan manfaat: ”Saya mulainya justru dari pertanian di mana usaha ternak awalnya justru hanya memerlukan pupuknya saja” ucap sang penggagas Villa Domba manakala ditanyakan mana yang lebih dulu dimulai oleh Villa Domba, KLIK. Video Youtube Kabar dari Yogya, http://www.youtube.com/watch?v=Dik1UpiCwdk. Informasi Bp. Sofyan tentang kondisi lahan yang akan dikelola oleh Gama Multi, struktur tanah tandus dan bercadas, KLIK. http://www.youtube.com/watch?v=Pz1o7iIxovs. ”Dukungan Peneliti dan Teknologi mutlak diperlukan” ucap sang penggagas manakala pak Sofyan menyampaikan informasi tentang jumlah ternak yang akan dipelihara, KLIK. http://www.youtube.com/watch?v=QxfJot8sziQ. ”Kenapa Indonesia tidak bisa menjadi pemain agribisnis di negara sendiri?” Silahkan KLIK Video Youtube. http://www.youtube.com/watch?v=g06kuZr3JIg. Indonesia Bisa! Semangat! Majulah usaha pertanian dan peternakan Indonesia!

Diposkan oleh Agus Ramada di 10:20 0 komentar

 

ANAKKU& SATWA

”Opa, katanya janji mau ajak Rama ke Taman Safari!” pinta jagoan cilik penulis si kecil Rama kepada opanya sang pengagas Villa Domba. Kebetulan sedang cuti selepas pernikahan adik akhirnya janji sang penggagas kepada si kecil Rama pun dipenuhinya. ”Tapi di sana enggak ada domba loh!” jawab opanya. Bersyukur penulis di mana untuk anak seusianya yang mungkin si kecil Rama pun akrab dengan permainan video games ataupun komputer akan tetapi beberapa keinginannya cukup membuat penulis takjub untuk anak seusianya, ”Pah, Rama khan sudah pernah ke keraton nah sekarang pengen ke yang namanya museum!” pintanya.

Pengalaman baru bagi si kecil Rama yang selama ini lebih sering berinteraksi dengan hewan ternak domba, pengalaman kali ini ia dapat dengan melihat dari dekat walaupun dari balik kaca mobil tentang jenis binatang lainnya: Harimau Sumatera, Macan Tutul, Kuda Nil, Burung Unta dan aneka satwa koleksi Taman Safari lainnya. ”Hebat euy si Rama, mulai dari pegang domba dan foto bareng orang utan tapi berani.” puji sang penggagas Villa Domba. Maaf bukan promosi akan tetapi Taman Safari adalah pantas untuk dijadikan pilihan tepat dalam memperkenalkan jenis aneka satwa kepada anak-anak kita sedari dini, selamatkan satwa Indonesia!

”Kalau Gajah yang badannya sebesar itu bisa diajarkan beratraksi, pasti domba juga bisa!” angan-angan penulis manakala melihat pertunjukan Gajah Sumatera di Taman Safari Indonesia. Pertunjukkan ini tidak lain sengaja ditampilkan secara rutin disamping memiliki nilai hiburan yang patut diacungi jempol juga rupanya bertujuan sebagai upaya penggalangan dana untuk menyelamatkan jenis Gajah Sumatera yang terancam punah keberadaannya, setiap baju yang dilukis oleh belalai gajah akan dijual pada pertunjukkan ini. Silahkan KLIK Web berikut: http://www.tamansafari.com/, Email. pr@tamansafari.com.

Tampak gambar di atas adalah jenis Gajah Sumatera yang dapat melakukan beragam atraksi di Taman Safari Indonesia. Pertunjukkan dikemas dalam suatu alur cerita tentang kehidupan Gajah Sumatera yang terancam punah keberadaannya di alam bebas sebagai akibat ulah manusia yang tidak bertanggungjawab antara lain dengan penebangan hutan secara liar, KLIK Video Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=JNkOUL35L1w, KLIK pula Video Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=lKpofs08rQk dan KLIK upaya penggalangan dana untuk menyelamatkan jenis Gajah Sumatera yang terancam punah keberadaannya melalui pertunjukkan yang diadakan di Taman Safari Bogor Indonesia, http://www.youtube.com/watch?v=lKpofs08rQk. Selamatkan Indonesia, Indonesia Bisa! Tanamkan kecintaan anak pada hewan ternak dan binatang dari sejak dini!

Diposkan oleh Agus Ramada di 10:12 0 komentar

Rabu, 22 Oktober 2008

 

PAMIT DAHULU

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami, dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Q.S. 25:74). “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik.Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do’a.” (Q.S. 3-38).

“Aa, bisa enggak ade minta tolong agar Aa fokus dulu untuk kelahiran adiknya Rama.” pinta isteri kepada penulis. Mohon doa dari pembaca Blog sekalian: Insya Allah dari hasil pemeriksaan dokter kandungan terakhir di mana adik si kecil Rama akan lahir dalam minggu-minggu ini. Olehkarenanya ucapan permohonan maaf penulis bilamana blog Domba Garut dan Organic Indonesia Vanilla pamit dahulu selama beberapa waktu sampai dengan awal bulan November tahun 2008. Semoga silaturahmi tetap berjalan dengan dapat menghubungi HP Penulis melalui 0815.941.3826 ataupun Email. agusramadas@yahoo.co.id. Layanan Produk Villa Domba lainnya tetap berjalan seperti biasa khususnya Pengadaan Hewan Kurban berupa Domba Garut terkait menjelang datangnya hari raya Idul Adha 1429 H. Majulah Usaha Ternak Indonesia! Hatur Nuhun!

Diposkan oleh Agus Ramada di 09:25 0 komentar

 

KIAT SUKSES ALA BOB SADINO

”Pada awalnya sebagai peternak ayam, Bob menjual telor beberapa kilogram per hari bersama istrinya. Dalam satu setengah tahun, dia sudah banyak relasi karena menjaga kualitas dagangan, dengan kemampuannya berbahasa asing, ia berhasil mendapatkan pelanggan orang-orang asing yang banyak tinggal di kawasan Kemang, tempat tinggal Bob ketika itu. Selama menjual tidak jarang dia dan istrinya dimaki-maki oleh pelanggan bahkan oleh seorang babu. Namun Bob segera sadar kalo dia adalah pemberi service dan berkewajiban memberi pelayanan yang baik, sejak saat itulah dia mengalami titik balik dalam sikap hidupnya dari seorang feodal menjadi servant yang ia anggap sebagai modal kekuatan yang luar biasa yang pernah ia miliki”, demikian cuplikan artikel yang menceritakan sukses seorang juragan Agrobisnis bernama Bob Sadino manakala ia merintis usahanya.( http://duniaentrepreneur.com/Kisah%20Sukses/Bob%20Sadino.html)

”Melihat keberhasilan seseorang hendaknya jangan dari kondisinya saat ini bang! Akan tetapi coba lihat bagaimana perjuangannya di masa lalu!” demikian semangat yang selalu disampaikan oleh sang penggagas Villa Domba kepada penulis. ”Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diimbangi kegagalan, perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira orang, dia sering berjumpalitan dan jungkir balik dalam usahanya. Baginya uang adalah nomer sekian, yang penting adalah kemauan, komitmen tinggi, dan selalu bisa menemukan dan berani mengambil peluang.” cuplikan lainnya masih dalam artikel yang sama.
”Kang, mau tanya nih, kalau saya mau beli iga dombanya saja bisa?” sebuah telepon yang diterima oleh penulis, ataupun ”Tolong kirim paha domba yang besar ya kang, paling tidak 5 Kg lah!” Jangan dulu secepatnya berkata tidak bisa! ”Bisnis itu harus dibuat mudah bang dalam mengambil setiap peluang!” pesan sang penggagas Villa Domba. Segera berhitung cost nya dan sampaikan kondisi nyata pada pelanggan terkait tugas kita sebagai pelayan yang baik, Insya Allah bilamana sudah rejekinya maka peluang yang dikejar tidak akan lari ke mana.
Alhamdullilah, selain layanan pengadaan bibit domba, layanan pengadaan ternak untuk akikah, kurban maupun karkas domba utuh untuk kebutuhan pesta dan syukuran, Kami pun mulai memberanikan diri untuk pengadaan daging domba per bagian bilamana ada permintaan pelanggan yang ingin ususnya saja misalnya, atau paha nya saja umpamanya dan bisa jadi cukup iganya.
”Usaha Bob pun berkembang menjadi supermarket, kemudian dia pun juga menjual garam,merica, sehingga menjadi makanan. Om Bob pun akhirnya merambah ke agribisnis khususnya holtikultura, mengelola kebun-kebun yang banyak berisi sayur mayur konsumsi orang-orang Jepang dan Eropa dia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah untuk memenuhi.” Ternyata adalah betul bila menjalankan bisnis memang tidak bisa seorang diri, dalam arti silaturahmi dengan produsen lain pastinya akan sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan pelanggan yang kita miliki. Kata kuncinya adalah yakinkan dahulu faktor kualitas! Mohon saran, kritik dan masukan!

Villa Domba Siap!

Perlu layanan pengadaan daging domba? Pahanya saja? Ususnya saja atau Iganya saja barangkali? Silahkan hubungi HP Penulis. 0815.941.3826, Email. agusramadas@yahoo.co.id. Layanan Produk Villa Domba lainnya tetap berjalan seperti biasa khususnya Pengadaan Hewan Kurban berupa Domba Garut terkait menjelang datangnya hari raya Idul Adha 1429 H. Majulah Usaha Ternak Indonesia!

Diposkan oleh Agus Ramada di 09:21 0 komentar

 

ANEKA PRODUK BULU DOMBA

Aneka produk yang berbahan baku bulu domba, tidak sekedar sweater akan tetapi hingga kerajinan hasil tangan bahkan alat pembersih debu kendaraan, potensi yang amat luar biasa bilamana dapat lebih dikembangkan sebagai rangkaian pengembangan ekonomi kerakyatan. Majulah Usaha Ternak Indonesia!
Alas Kereta Bayi Bulu Domba

Alas duduk untuk kereta dorong bayi/balita anda. Sangat mewah dan nyaman. Gampang dibersih dari debu karena higenis dan terbuat dari 100% bulu domba import dari Australia. Ukuran 30cm x 69cm x 20mm.(http://www.sangdewi.tokobagus.com/)
Karpet Bulu Domba

Carpet Bulu Domba Ukuran empat kambing dewasa dijahit jadi satu, Warna Putih, bisa juga sebagai Penutup Kursi ataupun jok mobil anda, menjadikan kemewahan diruangan anda. keterangan lebih lanju silahkan hubungi kami….!!!(http://joindo.indonetwork.or.id/)

Tas Tangan Rotan Bulu Domba

Kindah Bags membuka cabang di Jogja untuk memberikan nuansa baru bagi pengemar tas tangan yang terbuat dari bahan alami asli Indonesia. Bukan hanya tas rattan biasa, dalam pembuatannya Kindah Bags selalu memperhatikan desain dan detail ornamen yang akan digunakan untuk mempercantik tas-tas tersebut. Biasanya Kindah Bags akan menggunakan kombinasi kulit berkualitas sebagai handle, maupun bahan kulit yang di bentuk menjadi hiasan berbentuk bunga maupun kuku-kupu misalnya. Dalam perkembangan terbarunya Kindah Bags mencoba menambahkan kombinasi bulu domba yang ternyata hasilnya luar biasa cantik. Dengan budget yang sedikit anda sudah dapat memiliki koleksi tas tangan cantik dan unik dari Kindah Bags. Kalo gitu tunggu apa lagi?(http://id.88db.com/)

Kemoceng Bulu Domba

Sebelum mulai mencuci dengan air, ada baiknya bila kendaraan dibersihkan dahulu dengan kemoceng berbulu halus (bulu domba / wool duster) agar partikel debu tidak dapat menggores permukaan mobil.(http://www.ppsindo.com/carcare)

Tahukah Pembaca,
Bulu Domba Organik? Bahasa gaulnya Organic Wool Sheep!
Sumber.
http://www.squidoo.com/ideasforgoinggreen

If you suffer from environmental allergies, you’re probably aware that your bed can be your worst nightmare…especially if it’s a hideout for dust mites. There’s a better than average chance you’re sharing your bed with these microscopic monsters…and they aren’t under it! Dust makes even mild allergies worse, so you want to keep your sleep environment as clean as possible. Dust mites feed on dead skin and your bed is where you spend the most time…shedding your skin. Yuk! How to get rid of dust mites? Vacuum and dust the room regularly, change bedding frequently and wash it in the hottest water possible. Even more important, protect your mattress, box springs, comforters and pillows with allergy relief bedding covers.

Wool is a natural dust repellent…and organic wool is the best anti allergy bedding you can buy. Wool from the organic production of sheep has no chemical residue in it because no chemicals were ever put on the land where the sheep graze. The fields are rotated so they are not overgrazed, preventing the buildup of parasites. The hay that is produced to feed the sheep is also grown organically. Now, the idea of a cozy, warm, wool-covered bed may be very appealing in winter but what about the summer? The idea of cozy and warm turns into extreme physical cruelty, right? You may be pleasantly surprised to learn: Wool is “nature’s air conditioner”, wicking away moisture so you won’t wake up in a sweat. It breathes better than any other fabric, allowing the body to reach a comfortable sleeping temperature faster and maintain that comfort level longer. This insures a deeper, more restful sleep. In addition to being comfortable and dust-mite resistant, wool is a natural fire retardant. An excellent source for purchasing this allergy-relief bedding:


 

JANGAN BUANG BULUNYA!

Sebuah informasi bermanfaat di mana penulis peroleh dari web. http://library.usu.ac.id/download/fp/ternak-eniza.pdf, Mencukur bulu domba? Jangan dibuang bulunya! Tahapan pertama yang dilakukan dalam pemanfaatan bulu domba adalah dengan pencukuran bulu domba itu sendiri, adapun pencukuran dapat dilakukan dengan menggunakan gunting ataupun mesin pencukur elektrik. Bulu domba untuk selanjutnya dikumpulkan dan dibersihkan dari kotoran (feses), rumput ataupun ranting yang masih menempel, tahapan ini dinamakan dengan penyortiran. Masuk pada tahapan berikutnya dalam pemanfaatan bulu domba yaitu pencucian bulu, proses ini dilakukan dalam 3 tahap, Tahap 1: Bulu direndam dalam air selama 12 jam (satu malam) di mana untuk selanjutnya dibilas. Tahap 2: Pencucian bulu dengan larutan deterjen, larutkan 100 gram deterjen dalam 10 liter air kemudian rendam bulu selama 15 menit, angkat dan bilas dengan air bersih . Tahap 3: Pencucian dengan Desinfektan, Larutkan desinfektan (lisol atau densol) sebanyak 100 cc ke dalam 10 liter air kemudian Celupkan bulu yang sudah dicuci dengan deterjen tersebut ke dalam larutan desinfektan, angkat, peras dan langsung dijemur. KLIK Video: http://www.youtube.com/watch?v=LdQdTnpoVtU

Setelah tahapan pencucian bulu selesai dilakukan maka masuklah pada tahapan berikutnya yaitu penjemuran, Hamparkan (tipis saja) di atas meja penjemuran. Jemur selama 1-2 hari pada waktu yang cerah. Pemisahan Bulu mulai dilakukan setelah penjemuran, sobek-sobek bulu yang masih menggumpal dengan kedua tangan sampai bulu menjadi terurai. Apabila gumpalan bulu tersebut sulit diuraikan, maka digunting dan dibuang saja. Penyisiran Bulu, Bulu diletakkan di atas sisir, Kemudian sisir diputar-putar sampai bulu tersebut terbentuk lembaran-lembaran tipis. Pemintalan, Bulu yang sudah disisir dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam lubang benang alat pintal Kemudian putar roda dengan kaki terus menerus sampai terbentuk helai-helai benang. Setiap dua helai benang dipintal/digabung menjadi benang.KLIK Video Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=3_f9kfS3Z7Y&feature=related.

Pemutihan: Benang hasil pintalan perlu diputihkan. Rebus air 2 liter sampai mendidih lalu masukkan 2 sendok (± 10 ml) H2O2 dan 2 sendok deterjen. Kemudian didihkan lagi dan masukkan benang yang akan diputihkan, diaduk-aduk sampai berbusa (± 5 menit) Angkat dan bilas dengan air sampai bersih, lalu dijemur. Pewarnaan: Pewarnaan benang menggunakan pewarna tekstil, sesuai dengan warna yang diinginkan. Campur 10 liter air + 0,3 liter biang cuka + pewarna. Rebus benang dalam campuran pewarna tersebut selama 1 jam, lalu angkat dan ditiriskan. Kemudian benang dicuci sekali lagi dan terakhir dikeringkan. Pembuatan Disain Disain disesuaikan dengan barang kerajinan yang akan dibuat (misalnya: keset, tas, hiasan dinding) Gambar ukuran dan motif yang diinginkan. Tentukan warna-warna pada motif yang diinginkan. KLIK Video Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=oQRGIjNCKGo.

Tahukah Pembaca?
http://web.ipb.ac.id
Peningkatan usaha kerajinan bulu domba di Bogor melalui perbaikan disain dan sistem manajemen” telah dilaksanakan dengan sukses melalui pendekatan restrukturisasi kelompok, pelatihan, studi lapang dan persiapan pelaksanaan sistem usaha. Kelompok sasaran terdiri dari 3 lokasi pedesaan yaitu (Situ Daun, Ciampea; Suka Jadi, Ciapus dan Carangpulang, Darmaga ). Proses restrukturisasi diawali dengan kunjungan langsung ke lokasi untuk mengetahui keadaan sekarang dan motivasi usaha kerajinan bulu domba. Dari ketiga kelompok tersebut, umumnya para pengrajin masih sangat semangat sekali untuk mengembangkan usaha tersebut dengan mengharapkan Pembinaan yang kontinyu dan efektif dari pelaksana vucer. Struktur organisasi disederhanakan menjadi koordinator dan anggota pengrajin, karena pekerjaan koordinasi proes produksi secara keseluruhan, pembuatan desain dan pemasaran diharapkan dilakukan oleh IPB. Hasil Pelatihan menunjukkan bahwa para pengrajin memang relatif sangat terampil dalam teknik penyisiran, pemintalan dan penenunan. Hal ini dapat dilihat dari kualitas produk yang sudah relatif rapih dan baik, namun dari segi pemilihan keserasian warna benang dan motif memang masih belum memuaskan. Oleh karena itu masalah desain memang akan dikerjakan oleh rekan kerjasama IPB dalam hal ini Jurusan Desain ITB dan Balai Tekstil Bandung. Dalam hal manajemen usaha termasuk pemasaran ternyata para pengrajin sangat memerlukan bantuan pembinaan dari IPB, karena saat ini kemampuan mereka masih terbatas sebagai operator/penenun saja . Hasil studi lapang ke Jurusan Desain ITB dan Balai Tekstil Bandung menunjukan hasil yang menggembirakan yaitu keinginan kerjasama yang kuat dari para ahli yang dihubungi dalam hal pembuatan desain produk dan pemasaran hasil. Manajemen usaha kerajinan ini akan menggunakan sistem kemitraan antara Fapet IPB, ITB, Balai Tekstil dan para pengrajin dengan pembagian hak dan kewajiban yang jelas. Dengan kerjasama yang baik ini diharapkan pengembangan usaha kerajinan bulu domba ini akan berjalan dengan baik, sehingga akan nyata dalam membantu peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan.


 

INFO DOMBA KURBAN

Dan Berkurbanlah!
“Dan bagi tiap-tiap umat telah kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, Maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, Karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” QS. Al-Hajj : 34

Assalammualaikum Wr. Wb.

Villa Domba Siap! Alhamdullilah, ucapan terimakasih atas kepercayaan yang telah diberikan oleh konsumen sekalian sehingga Kami dapat memenuhi kebutuhan pengadaan hewan kurban pada 1428 H lalu, tentunya ini menjadi semangat bagi Kami agar lebih berupaya memberikan pelayanan yang terbaik pada pengadaan hewan kurban 1429 H nanti. Insya Allah, didukung oleh kesiapan sarana kandang yang memadai, lokasi kandang sentra di Banjaran kabupaten Bandung provinsi Jawa Barat, kemudian kandang plasma dengan melibatkan 30 (tiga puluh) orang petani dan peternak sebagai mitra dan keterlibatan ratusan warga di sekitar kandang sebagai pemasok rumput guna pemberdayaan ekonomi rakyat, Villa Domba Siap dalam melayani kebutuhan konsumen sekalian terkait pengadaan hewan kurban berupa Domba Garut pada pelaksanaan ibadah kurban 1429 H. Pengadaan Wilayah Bandung dan sekitarnya, Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Cirebon dan Tasikmalaya.

Cukup Umur: Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir bahwasanya Rasulullah saw bersabda., “Jangan kamu menyembelih untuk qurban melainkan yang ‘mussinah’ (telah berganti gigi) kecuali jika sukar didapat, maka boleh berumur satu tahun (yang masuk kedua tahun) dari kambing/domba” (HR. Muslim). Berkualitas: Sehat, tidak sakit, hilang atau cacat sebagian tubuhnya Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits, “Tidak bisa dilaksanakan qurban binatang yang pincang, yang nampak sekali pincangnya, yang buta sebelah matanya dan nampak sekali butanya, yang sakit dan nampak sekali sakitnya dan binatang yang kurus yang tidak berdaging.” (HR. Tirmidzi). Layanan Prima: Pemeriksaan Kesehatan Ternak& Pengiriman di wilayah Bandung dan sekitarnya, Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Cirebon dan Tasikmalaya tanpa dikenakan Biaya Tambahan walaupun jumlah pemesanan hanya 1 (satu) ekor.


Pemesanan Hewan Kurban sejak dini Insya Allah akan sangat membantu kelangsungan program kemitraan yang tengah Kami jalankan. Semoga konsumen sekalian berkenan memesan hewan kurban terlebih dahulu di mana pembayaran dapat dilakukan pada menjelang hari pelaksanaan ataupun saat pengiriman. Bersama kita memajukan usaha ternak sebagai usaha kerakyatan yang Insya Allah dapat bermanfaat pula nantinya untuk kesejahteraan bangsa! Amin. Villa Domba tidak bisa sendiri, Salam Peternak dan Majulah Usaha Ternak Indonesia!

Diposkan oleh Agus Ramada di 11:37 0 komentar

 

BERITA DARI CINA

Sebuah telepon diterima oleh penulis dari paman yang memiliki sebuah pabrik sweater di kota Bandung, “Gus, boleh kirim sampel bulu dombanya ya! Teman Om yang di Cina minta dan siapa tahu nantinya layak untuk ekspor!” demikian ucap paman penulis yang memang terbiasa melakukan ekspor produk sweater ke negeri tirai bambu tersebut. Keluarga ibu mertua penulis memang merupakan keturunan Tionghoa dan sebagian adalah mualaf. Terlepas nantinya apakah sampel bulu domba yang penulis kirim kepada paman penulis dimaksud akan memenuhi persyaratan atau tidak namun suatu ketertarikan guna mengetahui lebih jauh tentang pemanfaatan bulu domba di negeri Cina! Belajar sampai ke negeri Cina!

Data menarik dari web Kerjasama Ekonomi dan Perdagangan antara Tiongkok dan Indonesia: Januari hingga Agustus, 217 perusahaan tekstil ringan dalam sistem yang berskala di Ningxia merealisasi total nilai produksi industri 11056 juta yuan, meningkat 33,28% dibandingkan masa sama tahun lalu, merealisasi nilai tambahan industri 3467 juta yuan, meningkat 21,66%. Nilai barang ekspor 410 juta yuan, meningkat 514,13%. Laba total 439 juta yuan, meningkat 34,91%. Industri tekstil ringan Ningxia berkeunggulan yang nyata, sudah berhasil membina 6 industri, yaitu pengolahan bulu domba, pembuatan kertas, pembuatan arak, produk susu, produk ragi dan produk ciri khas Islam. Bagaimana Indonesia? Indonesia Bisa!

Penelusuran pun terus berlanjut, Tahukah pembaca? Walaupun Cina merupakan negara dengan populasi ternak domba terbesar di dunia akan tetapi Cina pun merupakan negara pengimpor bulu domba terbanyak di dunia. Data ini penulis peroleh dari web. http://www.wool.com.au/ di mana dari web tersebut diterangkan pula bila kebutuhan wool di negeri tirai bambu saat ini adalah dominan 50% dipasok dari Australia. Lagi-lagi Australia! Apakah berita dari Cina pada Blog ini terkait bulu Domba Garut akan menjadi berita baik? Kita nantikan saja bersama perkembangannya dan mohon doa untuk Kemajuan Peternak Indonesia! Lalu seperti apa sebenarnya proses pengolahan bulu domba berlangsung? Sekilas penulis pernah mengulasnya pada Blog ini namun sebuah web lainnya semoga dapat memberikan informasi lebih mendetail, KLIK. http://www.americanhomerugs.com/consumer/sheep_to_rug.htm. Salam Peternak dan Majulah Usaha Ternak Indonesia!

Link Bermanfaat:

Rancangbangun Model Mesin Pengering
http://one.indoskripsi.com/content/rancangbangun-model-mesin-pengering
Pemanfaatan ternak domba di pedesaan biasanya hanya untuk produksi daging, hewan aduan, kulit, dan bulu. Bulu domba merupakan salah hasil dari peternakan domba yang mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi. Pada proses pembuatan kerajinan bulu domba dikenal adanya proses pencucian bulu. Umumnya pengeringan bulu domba dilakukan secara tradisional yaitu dengan penjemuran. Pengeringan dengan cara ini masih memiliki beberapa kendala dan kekurangan. Dengan adanya kendala tersebut maka diperlukan penggunaan mesin pengering. Salah satu keuntungan dari penggunaan mesin pengering yaitu suhu dapat diatur dan kadar air bulu domba dapat merata, proses pengeringan tidak terikat oleh cuaca, dan waktu pengeringan yang lebih pendek. Berdasarkan kondisi tersebut alternatif teknologi yang dapat diaplikasikan adalah dengan membuat mesin pengering yang cocok dengan memperhatikan sifat dan karakteristik bulu domba.

Diposkan oleh Agus Ramada di 11:34 2 komentar

 

REJEKI PERNIKAHAN

“Kang, Alhamdullilah, setelah domba diolah maka cukup untuk dijadikan 400 tusuk sate dan juga gulai untuk 800 orang tamu undangan pernikahan.” demikian SMS yang penulis terima dari salah seorang pelanggan yang memesan 1 ekor Domba Garut terkait acara resepsi pernikahan di Bandung. “Mengantarnya jangan terlambat seperti kemarin kang, sebelum jam 5 subuh sudah harus di Jakarta karena perlu waktu agar bumbu domba gulingnya meresap.” sebuah kritik membangun dari usaha layanan catering terkait penyelenggaraan resepsi pernikahan. Rejeki di musim bulan resepsi pernikahan, permintaan daging domba untuk diolah sebagai menu masakan sate dan gulai ataupun domba guling.

 

Data menarik di mana penulis peroleh dari web. http://blogkage.wordpress.com/2008/04/27/diany-pranata-berbisnis-penyelenggara-pesta-pernikahan,…. Lantas, muncul ide untuk membuat wedding organizer yang memberikan jasa konsultasi untuk pesta pernikahan. Maklum, di tempat kerjanya terdahulu Diany memang banyak berurusan dengan masalah pesta pernikahan. Selain itu, dia juga punya pengalaman yang tak terlupakan pada saat pesta pernikahannya. “Saya yang mengurus sendiri pesta pernikahan saya. Akibatnya, saya justru tidak bisa menikmati hari pernikahan saya, karena sangat letih,” ujarnya. Oleh karena itu, timbullah keinginan untuk membantu calon-calon pengantin supaya bisa menikmati hari terpenting mereka……. Langkah pertama Diany adalah menyebarkan kartu nama. Kebetulan, sewaktu bekerja dulu Diany telah membina hubungan baik dengan manajer banquet hotel atau pengelola gedung pertemuan. Maka Diany pun gencar menitipkan kartu nama ke hotel-hotel, gedung-gedung pertemuan, dan relasi-relasinya dahulu….. Tapi, usaha Diany untuk mengenalkan jasa wedding organizer ini tak pernah surut. Satu per satu klien selalu dia dapatkan. Meriah dan megahnya pesta pernikahan yang diselenggarakannya membuat nama Bella Donna menjadi dikenal. “Mereka mengetahui Bella Donna dari mulut ke mulut,” cerita Diany. Akhirnya, banyak orang ternama di Indonesia yang memakai jasa Bella Donna…..Alhasil, Bella Donna menjadi salah satu wedding organizer dengan tarif mahal. Kalau dulu Diany mematok tarif Rp 5 juta untuk setiap perhelatan, kini tarif Bella Donna mencapai Rp 30 juta. Dalam satu tahun rata-rata Diany menerima 68 ajang pesta pernikahan.

Bayangkan saja, bila 1 wedding organizer sekelas di atas dapat terjalin hubungan baik dengan peternak untuk menyerap produk domba yang dimiliki, maka dalam periode waktu 1 tahun sudah dimiliki pasar ternak domba sebanyak 68 ekor bila rata-ratanya 1 ekor domba untuk setiap pesta. Dan bila ada 10 wedding organizer dapat terjalin hubungan baik dengan peternak maka terdapat potensi 680 ekor domba dalam periode waktu 1 tahun dan seterusnya dan seterusnya. ”Kang Agus, bila kartu nama bisa didesign mentereng dengan jabatan direktur, saya lebih bangga memiliki kartu nama dengan bertuliskan peternak! Bukan suatu aib khan dan kenapa harus malu?” canda pak Teddy salah seorang peternak di wilayah Bogor. Sebuah pesan berharga yang pernah penulis dapat dari salah seorang dosen penulis semasa kuliah dahulu terkait mata kuliah pengantar bisnis, ”Contoh kasus bila orang sedang trend mendirikan kafe tenda, saran saya kamu jangan ikut mendirikan kafe tenda, kenapa tidak kamu menjadi raja dengan mendirikan usaha penyewaan kafe tenda ataupun peralatannya! Dari situ kamu bisa jadi raja juga untuk kafe tenda.” Ketika orang sedang jatuh hati pada usaha penggemukkan domba, cermati peluang sektor usaha pembibitan domba! Pesan Domba untuk Acara Pernikahan?

 

INFO BARELANG

Sumber.
Situs Kerjasama Ekonomi& Perdagangan antara Tiongkok& Indonesia
PT Barelang Livestock Centre menggandeng Lanzhou Sanyuanhe Modern Agriculture Limited Liability Company, China, untuk membangun pembibitan dan penggemukan kambing serta domba senilai US$50 juta di sejumlah pondok pesantren (ponpes). Pembangunan pembibitan dan penggemukan itu dilakukan di sejumlah pondok pesantren dan tahap pertama tersebar di Yogyakarta, NTB, Jabar, dan Jatim.
Preskom Barelang Livestock, Tjetty Abbas, menjelaskan kerja sama dua perusahaan peternakan untuk membangun pembibitan dan penggemukan kambing itu didukung dana dari Kerajaan Arab Saudi dan International Development Bank (IDB). “Tahap pertama, pada akhir Oktober 2008, Barelang-Lanzhou akan mengirim 60.000 ekor kambing dan domba untuk dikembangkan di ponpes di empat daerah,” ujarnya seusai menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Direktur Pelaksana Lanzhou Sanyuanhe, Chen Guang Ren, yang disaksikan Utusan Khusus Presiden RI untuk Timur Tengah, Alwi Shihab, kemarin. Menurut dia, pola ini akan mencontoh sistem pembibitan yang selama 30 tahun dilakukan Lanzhou. Mereka berhasil mengembangkan pembibitan kambing dan domba dengan kapasitas produksi 10 juta ekor per tahun.
Sebagian besar penduduk yang memelihara kambing dan domba itu dibentuk Lanzhou dengan sistem koperasi. Setiap tahun, selama tiga tahun, Barelang-Lanzhou mengirimkan 1 juta ekor kambing senilai US$250 juta yang akan diterima mitra bisnis mereka di Arab Saudi, Sheikh Sulaiman Al Jabri. Barelang merupakan perusahaan niaga yang berbasis di Batam. Di perusahaan ini, Sudomo, mantan Menteri Koordinator Polkam di era Orde Baru, tercatat sebagai komisaris utama, sementara Alwi Shihab sebagai penasihat senior Barelang. Tjetty menyatakan rintisan kerja sama tersebut tidak terlepas dari peran Alwi Shihab.
Web Balerang.

 

AIR MATA KEBAHAGIAAN

Air mata kebahagiaan tampak menitik dari sang penggagas Villa Domba yaitu pak Suhadi Sukama beserta ibu manakala adik perempuan penulis tercinta melangsungkan akad dan resepsi pernikahannya belum lama ini. Ucapan selamat menempuh hidup baru dari segenap keluarga besar Villa Domba kepada Indri Yuniawati dan pasangannya Dhani Suhendar di mana doa Kami agar dapat mewujudkan keluarga yang sakinah, mawadah dan warrahmah. Amin.

Indri yang merupakan adik penulis nomor dua dalam peranannya di Villa Domba selama ini adalah banyak membantu penulis terkait bidang administrasi dan keuangan. Teringat pra wedding dahulu di mana Indri dan Dhani menjadikan lokasi perkebunan organik dan peternakan Villa Domba sebagai tempat pengambilan foto. Unik dan menarik di mana kandang domba seakan menjadi tempat untaian tali kasih antara mereka berdua. “Bang, Indri cuti dulu ya kurang lebih 1 minggu untuk menikmati masa bulan madu.” ucapnya kepada penulis. Selamat menempuh hidup baru ya In!

Diposkan oleh Agus Ramada di 10:56 0 komentar

 

SUSU KAMBING? BUNGKUS!

“Punten kang, kebetulan di rumah sedang berkumpul keluarga besar dan ingin minum susu kambing, apakah bisa awet bila dibawa ke Bekasi?” demikian tanya penulis kepada kang Januar Budhi raja Kambing PE Bandung Selatan. “Bagus untuk menjaga stamina agar tetap prima!” pinta sang penggagas Villa Domba kepada penulis. Acara akad dan resepsi pernikahan adik perempuan penulis tercinta menjadikan sanak keluarga dan saudara banyak berkumpul di kediaman sang penggagas Villa Domba. Ilmu baru pun didapat tentang cara pengemasan susu kambing bilamana dikirim untuk perjalanan jauh, susu kambing Neqtasari Farm dari Pasir Jambu, Ciwidey hasil perahan kang Januar Budhi raja Kambing PE Bandung Selatan.

Susu kambing hasil perahan yang telah dibekukan untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam kotak yang bahannya terbuat dari gabus saat pengiriman berlangsung. Mengetahui lebih banyak tentang Gabus: Gabus merupakan suatu bahan apung yang mempunyai banyak kegunaan. Gabus digunakan sebagai penutup botol terutama minuman beralkohol seperti anggur. Selain itu, kandungan udara yang banyak di dalam gabus menyebabkannya digunakan sebagai pengapung dalam jaket penyelamat pada masa lalu. Selain itu, kandungan udara yang banyak dalam gabus juga menjadikan gabus sebagai penebat yang baik. Oleh itu gabus telah digunakan sebagai alas meja untuk makanan panas dan dingin, dan penebat untuk peti air batu. Gabus juga digunakan dalam pembuatan dinding rumah di negara-negara 4 musim. Gabus sebenarnya berasal dari tumbuhan, yaitu kulit sejenis pohon. Pada masa sekarang, gabus telah banyak digantikan dengan bahan buatan manusia yang lain seperti styrofoam. Bagaimanapun, gabus masih merupakan bahan terbaik kerana gabus adalah sejenis bahan ramah lingkungan, mudah terurai, dan tidak meracuni alam sekitar. Seorang ilmuwan bernama Robert Hooke menjadi orang pertama yang menggambarkan sel. Robert Hooke telah meneliti irisan kulit gabus menggunakan mikroskop dan mendapati irisan tersebut terdiri dari susunan unit-unit kecil (http://id.wikipedia.org/wiki/Gabus).

Info Susu Kambing: Dari hasil tes laboratorium tersebut memang menunjukkan hasil yang positif. Salah satu manfaat susu kambing adalah khasiatnya untuk pengobatan, misalnya untuk diabetes. Prof. Hembing dan Lukman Basyrahil mempopulerkan penggunaan susu kambing ini untuk penyembuhan berbagai penyakit. Untuk yang mudah terkena diare jika minum susu, susu kambing cocok dikonsumsi karena mudah dicerna di lambung. Dibandingkan susu sapi ada perbedaan-perbedaan khas. Pertama adalah jika dibekukan susu sapi akan memisah antara lemak dan cairan sedangkan susu kambing tidak demikian, karena itu bisa dibekukan tahan hingga 3 Minggu. Perbedaan kedua, menurut penelitian di Australia, susu kambing memiliki komposisi yang lebih mendekati ASI (air susu ibu) dibandingkan susu sapi. “Susu kambing cocok untuk bayi yang mengidap alergi terhadap laktosa yang terkandung dalam susu sapi” tutur pak Reza ketika menceritakan pengalaman pribadinya memberi susu kambing bagi bayinya yang alergi laktosa.(http://www.infocondet.com)

 

ORDER BY REQUEST

“Kang, saya mau pesan anak domba keturunannya si Kilat bisa? Rencananya akan saya pelihara dan besarkan untuk bibit!” demikian permintaan dari salah satu pembaca setia Blog Domba Garut yang disampaikan via SMS kepada penulis. Kilat adalah nama dari salah satu Domba Garut Jantan Dewasa yang dipelihara di kandang sentra Villa Domba. Lain harga untuk pasar bakalan penggemukkan kurban lain pula harga untuk pasar bibit anak domba yang Kami tetapkan. Berawal dari anak domba yang lahir dan lulus seleksi kemudian menjadikannya bibit domba terpilih yang diminati oleh pemburu bibit dan juga penghobi, harga yang berbeda tentunya akan ditetapkan bila dibandingkan harga bakalan penggemukkan kurban. Tidak hanya ukuran rangka tubuh yang harus di atas rata-rata anakan domba lainnya, keharmonisan corak dan motif bulu juga menjadi pertimbangan para pemburu bibit dan juga penghobi domba manakala menyetujui penawaran harga, ”750 ribu deh kang saya tawar!” ucap seorang penghobi Domba Garut di kandang Villa Domba manakala ia melihat seekor anak domba berusia 4 bulan yang diyakininya akan menjadi domba bibit dan tangkas unggulan. Harga yang pastinya jauh berbeda bilamana domba tersebut tidak lulus seleksi untuk bibit dan hanya masuk kepada pasar bakalan penggemukkan dengan harga antara 400 s.d 500 ribu.

”Kang, saya minta induk domba betina yang sudah hamil dan mengandung anak si Geser ada?” permintaan lain dari pembaca setia Domba Garut. Geser adalah nama dari salah satu Domba Garut Jantan Dewasa yang dipelihara di kandang sentra Villa Domba, gelar bintang 1 yang disandang si Geser saat ini akan menjadikan hasil anakannya nanti menyandang gelar bintang 2 bilamana lulus seleksi. ”Induk betinanya minta yang grade bagus ya kang, ukuran tubuhnya harus gede!” pintanya kembali. Harga Induk Domba Garut Betina di Villa Domba adalah bervariasi bergantung ukuran tubuhnya, harga mulai Rp. 1 juta s.d Rp. 2.5 juta dalam kondisi sudah hamil. Menarik bilamana melihat para penghobi sedang mencari bibit anak domba unggulan yang diyakininya sebagai domba bibit dan tangkas unggulan, order by request kadang terjadi walaupun anak domba masih dalam perut induknya, ”Kalau nanti sudah lahir langsung hubungi saya ya kang, saya mau lihat anaknya dan langsung bayar!”

Pasar Bibit Domba memang menarik pastinya, terlebih dengan harga jual yang bisa di atas harga untuk pasar bakalan penggemukkan ataupun pedaging bilamana domba sudah diincar oleh para penghobi. Namun satu hal yang kiranya patut diingat oleh para pelaku pembibitan kambing domba di negeri ini, pertahankanlah sebisa mungkin bibit unggulan yang dimiliki terkait upaya pemuliaan genetik dan peningkatan kualitas ternak yang kita kembangkan. Silahkan melepas bilamana harga jualnya cukup cantik dan menggiurkan selama untuk pasar lokal, di mana tentunya tetap dengan catatan yaitu produksi sejenis sudah kita miliki dan didukung oleh indukan betina sebagai mesin yang kita pelihara. Majulah Usaha Ternak Indonesia! Pemesanan Bibit Domba, Hubungi HP Penulis. 0815.941.3826, Email. agusramadas@yahoo.co.id.

Diposkan oleh Agus Ramada di 08:34 0 komentar

 

50 EKOR PER MINGGU

“Kang, saya dapat nomor telepon akang dari internet, apakah akang bisa pasok daging domba untuk sebuah restoran di Jakarta? Enggak banyak lah sekitar 50 ekor per minggu!” demikian ucap seseorang kepada Handphone penulis belum lama ini. Tertarik mengetahui lebih dalam tentang penyebab kenapa si penelepon dimaksud menghubungi HP penulis, “Dulu kita biasa mengambil ternak dari Kediri, tapi di sana sudah mulai susah kang untuk mencari ternak.” Bukan bermaksud menolak rejeki akan tetapi moment kurban yang kian mendekat menjadikan Villa Domba pun per bulan ini lebih memutuskan untuk berkonsentrasi melayani pesanan kurban konsumen. Ternak kambing domba kian langka? Ataukah ternak kambing domba suatu saat akan bernasib sama dengan ternak sapi? “Betina juga tidak apa-apa kang bilamana ada untuk dipotong!” lanjut si penelepon dimaksud. Janganlah itu sampai terjadi! Kembangkan sektor pembibitan kambing domba sedari kini! Indonesia Bisa! ! ! “Maaf kang, saya bukan pedagang domba lagi sekarang karena mencari ternak murah semakin susah! Saya sekarang beralih profesi jadi penjual sabut kelapa!” demikian informasi dari salah satu pembaca setia Blog Domba Garut.

Sebuah artikel bermanfaat bersumber dari salah seorang senior penulis yang juga merupakan pengelola web http://www.sentralternak.com/, Artikel ini sengaja kami tulis dan kami publish semestinya pada akhir bulan puasa sebagai perenungan buat kita semua terutama yang akan pulang kampung alias mudik. Ketika kita pulang nanti cobalah berfikir sejenak di tengah-tengah kegembiraan anda bisa berkumpul dengan sanak saudara. Coba perhatikan sejenak ke sekeliling atau kalau perlu menuju ke belakang rumah, masih adakah ternak yang kita lihat sewaktu kecil dulu?. Masih adakah suara kokok sang jago yang memecah kesunyian malam, atau bunyi anak ayam yang sedang mencari induknya, atau suara sapi yang menggema karena lapar atau sesuatu hal? Mungkin jawaban yang kita dapatkan adalah MASIH, tapi berapa persen dari jumlah sebelumnya?. Ya, ternak asli kita sadar atau tidak sadar terus berkurang jumlahnya dari tahun ke tahun. Tapi mengapa seolah-olah kenyataan ini tidak kita sadari? Karena masing-masing kita tidak peduli dengan sumber daya alam kita. Yang kita pikirkan hanyalah eksploitasi semata tanpa memikirkan keseimbangan populasi. Kebutuhan manusia akan protein hewani tidak bisa dipungkiri peningkatannya dari tahun-ketahun. Gerakan sadar gizi dan yang lainnya merebak di mana-mana. Sampai ada yang mencanangkan program back to nature (kembali ke alam) yaitu dengan mengkonsumsi daging, telur, atau sayuran hasil dari yang alami (non kimia) seperti ayam kampung, telur ayam kampung asli, telur itik yang hanya di gembalakan, dan lain sebagainya. Eksploitasi tidak dilarang tapi perlu upaya menyeimbangkan dengan jumlah ternak yang ada. Sangat miris hati kami mendengar salah seorang dosen atau ilmuwan yang akan menangani project cloning banteng asli Indonesia. Coba kita bayangkan plasma nutfah asli Indonesia akan dijual atau diberikan kepada pihak asing sedang keuntungan dari project tersebut masuk kantong pribadi. Apakah tidak ada sisi negatif dari kegiatan pelaksanaan tersebut? Apakah nasib kita puluhan tahun mendatang bahwa untuk melihat banteng asli Indonesia harus pergi ke luar negeri? Apakah kita mau mengulang peristiwa tanaman apel yang konon berasal dari Malang dan tumbuh subur di sana sedangkan untuk mendatangkan bibitnya harus import? Maukah terulang??? Berikut adalah usaha dan upaya untuk menyelamatkan ternak asli kita, dan tidak menutup kemungkinan masih banyak cara lain yang belum kami ketahui. Untuk itu kepada siapa saja yang mempunyai pikiran dan saran untuk menyempurnakan apa yang sudah kami tulis untuk disebarluaskan atau mengirimkannya kepada kami:

Menghindari pemotongan induk produktif baik itu unggas, kambing dan domba (Kado), sapi, dan kerbau. Masalah ini pernah menjadi satu judul skripsi yang kami ajukan untuk bahan skripsi dengan judul “Trend Pemotongan Kambing PE Betina Produktif di salah satu RPH kota Malang”. Tujuannya tak lain adalah untuk mengetahui trend populasi 5-10 tahun ke depan. Sehingga kalau sudah ada gambaran jumlah populasi 5-10 tahun kedepan, sudah ada langkah yang telah dipersiapkan untuk mengantisipasi masalah tersebut. Sayang, kami terpaksa pindah judul skripsi karena sesuatu hal.
Menjaga mutu genetik ternak asli Indonesia. Diperlukan daerah breeding tertentu seperti pulau sapodi yang ada di madura sebagai pelestari plasma nutfah sapi madura, daerah amuntai sebagai pelestari itik alabio, mojosari, tegal, nunukan sebagai pelestari ayam nunukan. Tidak mengawinkan ternak sembarangan juga merupakan salah satu usaha untuk menjaga mutu genetik ternak.
Alternatif pemotongan ternak : ternak yang dipotong adalah ternak yang benar-benar sudah afkir (baik afkir dari produksi, karena penyakit, atau cacat), ternak yang produktifitasnya menurun, dan ternak hasil import. Banyak kita jumpai pemotongan ternak yang dipaksakan seperti menciptakan kondisi agar ternak bisa dipotong seperti ternak dipatahkan kakinya, ternak dilukai, dan cara-cara lainnya. Jangan hanya memikirkan keuntungan pribadi sedangkan kepentingan orang banyak diabaikan. Kami pernah melihat dengan mata kepala kami bahwa di RPH besar (Sapi) dan RPH kecil (kambing dan domba) masih melakukan pemotongan betina produktif. Padahal betina tersebut sudah bunting bahkan ada yang sudah siap beranak.
Upaya pengembangbiakan degan cepat seperti IB pada sapi, kambing, domba, ayam, penetasan telur dengan mesin penetas pada unggas, dan lain sebagainya. Banyak manfaat dari pelaksanaan kegiatan tersebut. Mungkin pada kesempatan lain kami akan menulisnya sebagai makalah tersendiri.
Jangan menciptakan iklim yang akan mengundang tersebarnya penyakit. Kurang memperhatikan sanitasi lingkungan, tidak memperhatikan kesehatan ternak, makanannya, dan juga dari segi reproduksinya. Hal ini akan berakibat pemusnahan massal kalau sampai terjadi mewabahnya penyakit yang berbahaya. Dan tidak menutup kemungkinan penyebabnya adalah kita sendiri. Sehingga yang rugi bukan diri sendiri tapi juga orang lain akan ikut merasakannya.

Semua hal tersebut di atas tidak akan berjalan tanpa upaya dari pemerintah khususnya dinas terkait untuk mensosialisasikan. Jadi itung-itung bagi-bagi tugas pak, peternak yang menjalankan program dan pemerintah sebagai pengontrolnya. Dan harapanya adalah terjalin hubungan kerjasama yang saling menguntungkan. Nah, sekarang pertanyaannya adalah sudahkan kita merasa memiliki ternak asli Indonesia? Atau berapa persenkah usaha kita untuk ikut menyelamatkan ternak asli Indonesia? Harapan kami setelah membaca artikel ini kita bisa merenungi masalah ini. Kita semua akan sadar ancaman musnahnya ternak asli kita beberapa tahun kedepan. Tidak ada kebanggaan bagi kami kalau isi kebun binatang penuh dengan satwa manca negara yang didatangkan ke Indonesia. Mana ternak asli kita???*(SPt)

Diposkan oleh Agus Ramada di 08:30 0 komentar

 

TERNAK DOKA DI FILIPINA

Menarik dan ingin mengetahui lebih jauh manakala penulis membaca perkembangan sebuah negara bernama Filipina dalam usaha ternak kambing domba, Filipina? Tahukah pembaca bilamana kambing yang dikembangkan di Filipina dahulunya adalah berasal dari bumi Indonesia tercinta di mana salah satunya Kambing Kacang! Jenis kambing ini berkembangbiak dan digenjot produksinya di sana. Luar Biasa! ! ! Berita ternak di Filipina, sebuah terjemahan di mana penulis peroleh dari web. http://philgoat.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1, Filipina GOAT RAISERS KONFERENSI 2008 bertujuan untuk mempertemukan para pakar dari Filipina, Amerika Serikat dan negara-negara lain untuk menyediakan sebuah forum untuk pertukaran ide dan pemahaman serta untuk membahas inovasi dan peluang bisnis dalam industri kambing. To be held in the bustling City of Davao, in the island of Mindanao, the PHILIPPINE GOAT RAISERS CONFERENCE 2008 will be an important venue for the gathering of participants with various interests in the goat industry but with a common objective to enhance knowledge and collaborate in a sustainable partnership for the strengthening of collective opportunities throughout the supply chain of the industry. Dilaksanakan di Kota Depok ramai, di pulau Mindanao, Filipina GOAT RAISERS KONFERENSI 2008 menjadi penting sebagai tempat untuk mengumpulkan peserta dengan berbagai kepentingan dalam industri kambing tetapi dengan tujuan umum untuk meningkatkan pengetahuan dan bekerjasama dalam berkelanjutan untuk memperkuat kemitraan kolektif kesempatan seluruh mata rantai suplai dari industri.A wide mix of delegates from all over the country will converge at the PHILIPPINE GOAT RAISERS CONFERENCE 2008 for the opportunity to meet face to face with the industry experts and other players to discuss various issues. Beragam tamu dari seluruh negara akan bertemu di Filipina GOAT RAISERS KONFERENSI 2008 untuk kesempatan untuk bertemu muka dengan muka dengan industri ahli dan pemain lain untuk membahas berbagai masalah.For two days, a panel of speakers will present a range of essential topics covering three areas: 1.) Breeding and Rearing of Goats 2.) Funding the Goat Farms and 3.) Processing and Marketing the Dairy and Meat Goat. Selama dua hari, panel speaker akan hadir berbagai topik penting yang meliputi tiga wilayah: Breeding dan menternak Peternak kambing, Dana yang Farms Kambing dan Pengolahan dan Pemasaran yang Dairy dan Daging Kambing. Outstanding breeders from the US will speak on their experiences in establishing outstanding breeding farms for both dairy and meat goats. Posisi peternak dari US akan berbicara tentang pengalaman mereka dalam pembentukan beredar pembiakan pertanian baik untuk susu dan daging kambing.

Sebuah web menarik tentang organisasi peternak kambing domba di Filiphina, FGASPAPI, Federation of Goat and Sheep Producers Association of the Philippines Inc., http://www.fgaspapi.com/, sebuah kongres akan digelar pada tanggal 06 Mei hingga 08 Mei tahun 2009 nanti di Tuguegarao City, sebuah kongres tentang domba dan kambing di mana akan disertai penyelenggaraan pameran teknologi pula yang diikuti oleh peserta dari beragam negara. Tentang FGASPAPI, Mei 2001, yang ditandai 1st Nasional Kambing dan Domba Kongres di Nueva Ecija. The provincial associations organized in 2001 and prior led to the formation of the Federation of Goat & Sheep Producers Associations of the Philippines, Incorporated (FGASPAPI). The newly formed Federation consolidated our country’s goat and sheep raisers and served as the unified voice of the Small Ruminant Industry. The appreciation of the economic potentials of these humble animals created the current market situation described as a “seller’s market.” FGASPAPI is recognized as the official representative of the small ruminant industry, it is an active conduit in the development and implementation of programs of the Department of Agriculture. Provinsi asosiasi disusun pada tahun 2001 dan sebelum menyebabkan pembentukan Federasi Kambing & Domba Asosiasi Produsen dari Filipina, Incorporated (FGASPAPI). Yang baru dibentuk Federasi konsolidasian negara kami, kambing dan domba raisers dan menjabat sebagai unified suara Industri Kecil merenungkan. The apresiasi dari potensi ekonomi yang rendah hati hewan ini menciptakan situasi pasar saat ini dijelaskan sebagai “penjual pasar.” FGASPAPI diakui sebagai perwakilan resmi dari hewan besar industri kecil, cara ini merupakan cara yang aktif di saluran air pembangunan dan pelaksanaan program dari Departemen Pertanian. FGASPAPI is also a member of the Livestock Development Council and National Agriculture and Fishery Council. FGASPAPI juga merupakan anggota dari Ternak dan Dewan Nasional Pembangunan Pertanian dan Perikanan Dewan. In line with the goal of unifying and strengthening the goat and sheep industry, we would like to invite you or your association to join the Federation, with main objectives as followSejalan dengan tujuan unifying dan penguatan kambing domba dan industri, kami ingin mengajak Anda atau asosiasi untuk bergabung dengan Federasi, dengan tujuan utama sebagai berikut: • To provide members with breeder animals with good genetic makeup whenever availabUntuk menyediakan anggota dengan peternak hewan dengan baik genetik rias kapan tersedia.• Expand and strengthen the marketing network of the small ruminant industry , Perluas dan memperkuat jaringan pemasaran dari hewan besar industri kecil, • Consolidate our voice in the industry, the Federation being organized by the Department of Agriculture as the umbrella organization to represent the Goat & Sheep IndustKonsolidasi suara kami di industri ini, Federasi yang diselenggarakan oleh Departemen Pertanian sebagai organisasi payung untuk mewakili Kambing & Domba Industri, • To conduct series of goat and sheep seminaUntuk melakukan serangkaian kambing dan domba seminar. • Promote camaraderie and fellowship among commercial and small hold goat and sheep raisers, breeders, and product and service providers for the small ruminant industrMeningkatkan persahabatan dan persahabatan antara komersial dan kecil terus kambing dan domba raisers, peternak, dan produk dan layanan selular untuk merenungkan industri kecil. Pertanyaan adalah, Bisakah Indonesia? Indonesia Bisa ! ! !

Penyelenggaraan seminar ini dimaksudkan untuk mencari jawaban atas adanya penilaian negatif (prejudice) terhadap ternak kambing yang selalu dipersepsikan sebagai perusak lingkungan. Kontribusi ternak kambing kepada masyarakat dan perekonomian negara sedang berkembang masih dianggap tidak ada/sangat rendah, karena produksi ternak kambing dianggap masih rendah dan produknya jarang masuk ke dalam sistem pemasaran formal. Lebih populernya ternak kambing hanya sebagai tabungan, yang baru dilihat bila dibutuhkan. Namun kenyataannya, paling tidak bagi masyarakat di negara Asia, kambing sebenarnya mempunyai peran penting sebagai sumber protein dan menjaga kestabilan kehidupan ekonomi keluarga petani di pedesaan. Pengembangan peternakan kambing akan membantu program mengentaskan kemiskinan, tercapainya keamanan pangan dan perbaikan tarap hidup dan kehidupan petani dipedesaan. Bahkan di beberapa negara di kawasan Asia, konsumsi daging kambing lebih banyak dari konsumsi daging lainnya. Belakangan ini ternak kambing juga banyak dimanfaatkan untuk produksi susu.

Disadari hal ini akan membantu peningkatan konsumsi gizi masyarakat disamping sebagai sumber pendapatan baru pada sub-sektor peternakan. Mengingat pentingnya peran ternak kambing, teknologi modern telah berkembang untuk meningkatkan produksi termasuk teknologi breeding/reproduksi, pembuatan silase, pemanfaatan limbah hasil pertanian, formulasi pakan lengkap, perkandangan dan pemanfaatan pupuk organik. Terkait dengan isu lingkungan, penggembalaan ternak kambing secara bebas dikhawatirkan mengganggu ekosistem wilayah bersangkutan. Dalam hal ini diperlukan keseimbangan antara sistem produksi yang diterapkan dan pelestarian lingkungan, dan ini harus menjadi perhatian seluruh petani/peternak ternak kambing.

Disadari bahwa ternak kambing memberikan kontribusi cukup berarti dalam mengentaskan kemiskinan dan membantu pembangunan masyarakat pedesaan, Food and Fertilizer Center (FFTC) for The Asian and Pacific Region, Balitnak dan Livestock Research Institute (LRI)-Taiwan bersama-sama melaksanakan Seminar Internasional Kambing Potong Dan Perah pada tanggal 5-7 Agustus 2008, bertempat di Hotel Seruni, Cisarua-Bogor. Tema seminar adalah ”Peningkatan produksi daging dan susu kambing melalui perbaikan teknologi dan imfrastruktur untuk petani kecil Asia”. Melalui seminar ini akan terjadi diseminasi teknologi yang sudah diperoleh di masing-masing negara, dan diharapkan akan terjadi kerjasama yang lebih erat di antara negara peserta seminar di kawasan Asia ini.

PELAKSANAAN KEGIATAN:

Seminar Internasional Kambing Potong dan Perah dihadiri oleh 71 peserta yang terdiri dari 11 orang peserta yang diundang langsung oleh FFTC berasal dari 7 negara di Asia (Malaysia, Indonesia, Phillipina, Thailand, Vietnam, Taiwan dan Korea Selatan) dan 4 delegasi dari FFTC. Disamping itu terdapat sekitar 56 peserta dari berbagai instansi/organisasi di Indonesia yaitu Puslitbangnak, Balitnak, Lolit Kapo, Ditjennak, LIPI, Universitas (Pajajaran, GAMA, Brawijaya, Papua dan IPB), HPDKI dan pelaku bisnis kambing (Swasta).

Selama 2 hari seminar, sebanyak 11 makalah undangan dari ke 7 negara telah dipresentasikan secara oral, dan 21 makalah dipresentasikan sebagai poster. Disamping itu Himpunan Peternak Kambing dan Domba Indonesia (HPDKI) telah memperkenalkan organisasinya berikut visi dan misinya dalam memajukan peternakan kambing dan domba di Indonesia.

Pada hari ketiga delegasi diajak berkunjung ke peternakan kambing perah PT. Bangun Karso di Bogor, ke perusahaan pengolahaan susu PT. Yummy Food Utama di Pasar Rebo, Jakarta serta ke Balai Penelitian Ternak di Ciawi, Bogor. Berdasarkan topik bahasan maka 11 makalah undangan dapat dikelompokkan menjadi 3 sub kelompok, sebagai berikut:

Perbaikan ternak kambing melalui breeding (3 makalah: Vietnam, Malaysia dan Indonesia).

Managemen produksi dan perbaikan imprastruktur untuk petani kambing skala kecil (3 makalah: Taiwan, Korea Selatan dan Malaysia).

Status dan tren produksi kambing saat ini di Asia (5 makalah: Thailand, Taiwan, Vietnan, Philipina, dan Indonesia).

Sedangkan makalah penunjang yang dipresentasikan dalam bentuk poster (21 makalah) merupakan hasil penelitian primer maupun review dari berbagai disiplin ilmu (Breeding/reproduksi: 6 makakah, Nutrisi: 11 makalah, Sosek: 2 makalah, Pasca panen: 1 malakah, dan Penyakit: 1 makalah).

Seminar ini sangat bermanfaat bagi peneliti lokal untuk bertukar pikiran menyangkut perkembangan ilmu dan teknologi pada ternak kambing khususnya kambing perah yang sedang berkembang di banyak negara khususnya di Asia. Beberapa catatan yang dapat diperoleh dari hasil penelitian yang dipresentasikan dalam seminar tersebut antara lain:

Pemanfaatan bahan pakan lokal dan kontrol penyakit di Vietnam meningkatkan produtivitas ternak kambing sebesar 35%. Pengembangan kambing perah telah mampu meningkatkan pendapat petani di pedesaan sebesar 35-40%, dan memberikan kontribusi terhadap pengentasan kemiskinan. Oleh karena itu pengembangan kambing perah skala kecil merupakan strategi pemerintah Vietnam dalam meningkatkan kesejahteranan petani di daerah perbukitan dan pengunungan.

Suplai daging kambing di Malaysia sangat tergantung dari impor, produksi dalam negerinya baru bisa memenuhi 9% dari kebutuhan. Untuk mengurangi ketergantungan tersebut pemerintah Malaysia telah menetapkan program breeding secara terstruktur bekerjasama dengan perusahaan swasta komersial sebagai multiflier/perbanyakan bibit. Disamping itu dilakukan penerapan teknologi tinggi seperti AI dan MOET.

Dari Taiwan dilaporkan pemanfaatan hasil samping pertanian sebagai bahan pakan untuk membuat pakan lengkap yang dapat menekan biaya pakan sebesar 20-25%, tergantung jenis hasil samping industri pertanian yang digunakan. Dalam peningkatan infrastruktur, terdapat 6 bagian perbaikan perkandangan kambing yaitu desain lantai slatted, sistem penampungan feces, pengaturan pen, suplai air, pengaturan temperatur dan hal-hal kecil yang dapat secara nyata mempengaruhi produktivitas ternak kambing.

Korea juga tergatung dari importasi daging kambing untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Hingga saat ini konsumsi daging kambing di Korea masih sebagai makanan sehat, atau sebagai bagian dari ramuan makanan untuk tujuan pengobatan. Perubahan pola konsumsi daging kambing juga sudah mulai nampak ke arah seperti konsumsi daging sapi maupun daging babi, yaitu seperti grill dan bentuk olahan lainnya.

Pada mulanya peternakan kambing di Philipina sebagai usaha sampingan, namun sekarang telah tumbuh menjadi usaha yang mendatangkan keuntungan sehingga istilah Kambing adalah sapi perahnya orang miskin kini tinggal kenangan. Di Philipina terkenal dengan adanya Revolusi Kambing dimana bisnis peternakan kambing berkembang pesat memanfaatkan banyak lahan kosong. Perkembangan kambing perah skala komersial juga cukup maju dan telah ada industi pengolahan susu dan menghasilkan berbagai produk berbahan baku susu kambing kualitas export seperti sabun mandi, pelembab kulit dan lulur, disamping produk olahan lainnya.

Industri peternakan kambing (daging dan susu) di Taiwan sudah berkembang. Importasi kambing unggul dari luar seperti kambing Boer untuk disilangkan dengan kambing lokal (produksi daging), sedangkan Alpine, Saanen dipelihara murni sebagai kambing perah, dan Nubian dan disilangkan dengan lokal. Kebutuhan daging kambing dalam negeri Taiwan baru 12.6% dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Disisi lain produksi susu kambing cenderung menurun karena menurunnya tingkat kelahiran penduduk Taiwan yang mengakibatkan perubahan struktur konsumsi di negara tersebut. Diperlukan pendidikan dan penyuluhan kepada masyarakat dalam hal pola konsumsi daging dan susu kambing. Susu kambing adalah minuman yang sempurna. Kandungan kolesterol pada susu kambing (12 mg/100 ml) lebih rendah dibandingkan pada susu sapi (15 mg/100 ml), sehingga kekhawatiran terhadap isu kolestrol pada susu kambing janganlah berlebihan.

Berdasarkan makalah yang disampaikan dan diskusi yang berkembang, forum seminar telah berhasil merumuskan beberapa kesimpulan dan rekomendasi sebagai brikut:

Pentingnya Peranan Produksi Kambing. Peran ternak kambing bervariasi antar Negara, dari yang bersifat subsisten sampai pada peternakan komersial dengan produknya yang bernilai ekonomis tinggi. Kebanyakan hasil peternakan kambing diperuntukkan untuk pasar domestik, bahkan masih diperlukan impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Sebagian besar peternakan kambing di Asia masih merupakan peternakan kecil (rakyat) dengan sistem pengelolaan tradisional. Organisasi produksi masih perlu ditata lebih baik untuk terciptanya peternakan kambing yang lebih produktif, efisien dan berdaya saing tinggi.

Teknologi produksi yang lebih maju sudah tersedia untuk meningkatkan produksi dan efisiensi produksi ternak kambing. Breed kambing lokal di masing-masing Negara tersedia dengan kelebihan dan kekurangannya. Berbagai program breeding telah tersedia untuk meningkatkan produksi seperti seleksi dalam rumpun kambing sendiri ataupun persilangan (cross breeding), namun harus secara hati-hati agar rumpun kambing lokal tidak musnah.

Penggunaan breed kambing impor (eksotik) telah banyak dilakukan untuk tujuan perbaikan produksi daging maupun susu. Pemanfaaatan teknologi maju seperti inseminasi buatan, fertilisasi in-vitro dan embrio transfer dilakukan terbatas pada peternakan komersial maju. Disamping memanfaatkan bahan pakan konvensional, pemanfaatan produk samping hasil pertanian dan hijauan memberikan banyak keuntungan secara ekonomis maupun biologis. Teknologi untuk meningkatkan nilai gizi, kecernaan dan formulasi ransom ternak kambing telah tersedia dari hasil beberapa penelitian.

Dalam hal manajemen kesehatan hewan, pemanfaatan berbagai jenis tanaman obat merupakan alternatif yang diterapkan petani disamping obat-obat modern. Kastrasi kambing jantan merupakan teknologi yang tepat dalam meningkatkan produksi dan kualitas karkas.

Diseminasi teknologi maju untuk petani kecil. Peningkatan pengetahuan petani kembali (reeducation) dalam penerapan managemen yang baik, melalui pelatihan, pengembangan model peternakan kambing atau cara-cara lain yang bermanfaat bagi petani. Membangun dan mengembangkan pusat-pusat pembibitan (pemerintah atau komersial) sebagai sumber bibit unggul. Membangun proyek kerjasama antar pemerintah atau dengan organisasi internasional. Menerapkan prosedur penyuluhan dan bimbingan yang tepat melalui petugas penyuluhan. Komponen Penting untuk Produksi Kambing Berkelanjutan. Meningkatkan pengetahuan konsumen tentang daging dan susu kambing, dan sistem pemasaran yang baik. Mengciptakan kerjasama antara pemerintah dengan swasta komersial dalam membangun pusat pembibitan dan distribusi ternak unggul. Menerapkan program breeding jangka panjang yang tepat dan rencana implementasinya. Menyedianka kredit bagi petani. Memanfaatkan sumberdaya alam secara efisien dan bijak, seperti penerapan sistem produksi kambing yang terintegrasi dengan komoditas pertanian lainnya. Menentukan skala usaha yang ekonomis

Tindak Lanjut dari Seminar: Point ini masih memerlukan diskusi lebih inten sehingga belum dapat memberikan suatu konklusi yang tegas. Namun peserta sepakat untuk menjalin semacam net-working secara informal diantara peneliti peserta seminar

Diposkan oleh Agus Ramada di 08:34 0 komentar

 


Kisah Yu Timah
(Dicuplik dari RESONANSI – Republika Desember 2006/Ahmad Tohari)

 

Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta. Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri.
Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah. Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta . Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta.
Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu. Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya.

Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta . Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus. Untung di kampung kami ada pesantren kecil. Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.
Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi pengurus. Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu. Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah. ”Pak, saya mau mengambil tabungan,” kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil. ”O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila Senin?” ”Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.” ”Mau ambil berapa?” tanya saya. ”Enam ratus ribu, Pak..” ”Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?”Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu. ”Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.”

Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban. ”Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?” ”Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama Ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.” ”Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.” Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.
Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya? Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya. Mungkin saya juga begitu. Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji.

 

NONTON SI DEDEN

Pembaca Blog sekalian, semoga pembaca masih ingat dengan posting penulis terdahulu tentang Senyuman Si Deden, Wendi dan Chepi, bagaimana khabar mereka saat ini? Kemarin baru saja penulis bertemu dengan si Deden manakala ia seperti biasa menyetor rumput untuk Villa Domba, musim hujan yang sudah rutin mengguyur lokasi desa Kami menjadikan Deden bersemangat dalam mencari rumput, ”Den, jangan lupa ya nonton kamu di Trans7 hari Jumat nanti!” pesan penulis sesuai amanat mba Melly dari Cita-Citaku Trans7.

Semoga pembaca Blog sekalian berkenan menyaksikan Deden, Wendi dan Chepi pada acara Cita-Citaku, episode Peternak Domba yang akan ditayangkan oleh stasiun televisi Trans7 pada hari Jumat, tanggal 17 Oktober tahun 2008 dimulai pukul 14:00 WIB. Tidak hanya seputar pemeliharaan hewan ternak domba, seni ketangkasan Domba Garut akan tetapi bilamana sesuai informasi maka akan disampaikan pula cara pembuatan pupuk organik, pembuatan pakan ternak dan pembuatan jaket kulit Domba Garut. Hanya di Trans7, Majulah Usaha Pertanian& Peternakan Indonesia!

 

BAGAIMANA DENGAN PEMBACA?

Cukup lama penulis berada di kandang sentra Villa Domba sehingga menjadikan Blog Domba Garut dan Organic Indonesian Vanilla tidak dapat up dated sementara waktu, tidak lain disamping evaluasi program kerja perkebunan dan peternakan, pengelolaan lahan di musim hujan, persiapan pengadaan hewan kurban 1429 H dan di mana suatu kehormatan bagi penulis atas kunjungan beberapa tamu ke lokasi perkebunan dan peternakan Villa Domba. Alhamdullilah penulis temukan warnet yang cukup baik di sekitar Soreang kabupaten Bandung sehingga bisa up dated Blog dan menyampaikan perkembangan informasi yang semoga dapat memberikan manfaat. Selain berbagi informasi seputar dunia ternak maka pastinya kesempatan bagi penulis untuk belajar tentang ilmu kehidupan dari setiap tamu yang berkunjung, adalah menarik bagi penulis untuk belajar dari pengalaman orang lain sebagai bekal hidup. ”Keinginan saya mulai beternak tidak lain untuk persiapan kehidupan kalau sudah tua nanti kang! Logikanya kalau saya memiliki 200 ekor ternak induk saja kang, paling tidak setiap 2 tahun akan lahir 600 ekor anak bila rata-rata 1 ekor, kalau harga 1 anak saya jual 500 ribu saja maka uang terkumpul dalam 2 tahun adalah 300 juta atau setara 12,5 juta per bulan. Makanya kang saya lagi garap lahan saya untuk rumput sehingga tidak akan pusing soal pakan, pengawas cukup 1 orang di mana selebihnya masyarakat yang nantinya akan datang ke kandang saya untuk memberikan pakan, hasil penjualan ya bagi hasil.” ucap pak Teddy seorang pengusaha yang tengah menjalani usaha ternak domba kepada penulis ketika beliau berkunjung ke Villa Domba. Lebih dasyat lagi di mana sinergi antara peternakan dan perikanan juga terjadi di lahan pak Teddy, sumber air yang melimpah dan mengalir deras dimanfaatkan potensinya menjadi kandang domba berupa panggung di atas kolam. Air pun mengalir ke area persawahan dan berfungsi sebagai pupuk organik. Luar Biasa! ! !


”Loh pak, bapak khan sudah pengusaha? Usia bapak belum genap 45 tahun?” tanya penulis penasaran kepada pak Teddy. ”Semakin tua umur seseorang maka lebih cenderung mencari bisnis yang nyaman dan sejuk kang.” jawab pak Teddy. ”Dan mumpung belum genap 45 tahun maka pikiran ini masih bisa diajak berat untuk mempersiapkan bisnis nyaman dan sejuk di masa tua nanti.” lanjutnya kembali. Teringat pesan sang penggagas Villa Domba, ”Ibarat bekerja pada suatu perusahaan yang pastinya memiliki jenjang karir secara bertahap sampai memasuki masa pensiun, begitu pula dengan memulai usaha yang pastinya memiliki tikungan dan belokan. Persiapan masa pensiun harus dilakukan dari sejak dini sehingga tidak panik saat tikungan dan belokan harus dihadapi. Kalau tidak maka bisa MANTAP alias Makan Tabungan Pensiun!” ucap sang penggagas selalu kepada penulis. Banyak pilihan dan tidak hanya agribisnis di mana setiap orang pastinya memiliki cara yang berbeda dalam mempersiapkan masa pensiunnya. Bagaimana dengan pembaca?


Lain lagi dengan tamu Villa Domba lainnya yaitu mas Pedro, peternak muda yang saat ini masih aktif bekerja pada salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia. Usia yang lebih muda dibandingkan penulis namun memiliki langkah seperti saat awal sang penggagas Villa Domba dahulu merintis usahanya namun dimulai umur 50 tahun. Usia mas Pedro saat ini masih 26 tahun akan tetapi mulai berinvestasi sebidang tanah untuk membangun kandang ternak. ”Aku cari tanah murah dipelosok desa sesuai anggaran yang aku punya kang, dapatnya jauh lebih luas dibanding misalkan aku membeli tanah di tengah ataupun pinggiran kota.” ”Ternak kita beli bertahap yang penting ketika umur 30 tahun maka sudah banyak beranak pinak.” Ketika jiwa dan raga ini masih kuat untuk berbuat hebat maka berikan kemampuan terbaik untuk membuka peluang usaha yang juga mendukung ekonomi rakyat! Bravo mas Pedro! Bagaimana dengan Pembaca? ”Aku sih simple saja kang, saat ini aku masih anggap beternak adalah sebagai hobby. Hobby disaat aku sudah mumet dengan pekerjaan di kota, paling tidak aku bisa membantu warga sekitar punya penghasilan dan intinya aku dapat kesempatan menghilangkan mumet dengan melihat domba.” ucap pak Lulu manakala berkunjung ke lokasi perkebunan dan peternakan Villa Domba. ”Selain itu ya sayang juga seandainya tanah yang ada sekarang ini tidak dimanfaatkan optimal.” lanjutnya kembali kepada penulis. Setiap orang pastinya memiliki banyak alasan untuk terjun dan menggeluti sektor agribisnis, mulai dari alasan persiapan menghadapi hari tua, niat mulia untuk berbagi dengan masyarakat sekitar bahkan sampai dengan hobby untuk menghilangkan rasa mumet dari rutinitas pekerjaan harian yang ada. Tikungan dan belokan pasti ada namun janganlah lekas berputus asa, tetap Optimis dan Semangat! Bagaimana dengan pembaca?

Sekelompok anak muda datang ke Villa Domba, tidak lain mereka adalah sahabat ternak muda dari Fakultas Peternakan Unpad yang sedang melakukan kegiatan penelitian terkait pemuliaan genetik domba di Villa Domba, ”Kalau rencana terjun ke pertanian dan peternakan mah ada kang, makanya sekarang sedang mendalami ilmunya dulu agar lebih mantap saat terjun nanti!” Aneka ragam jawaban di mana penulis dapatkan manakala penulis bertanya tentang keputusan mereka mengambil jurusan peternakan. Terlepas apapun jawabannya, Ayo sahabat ternak muda! Siapa lagi yang akan membangkitkan negeri ini dibidang pertanian dan peternakan bilamana bukan kita? ”Jaman sekarang kang, baru punya ruangan kantor sepetak, modal telepon dan mesin fax plus office boy sudah bangga dengan kartu nama bertitelkan direktur, nah kita sebagai petani dan peternak seharusnya juga bangga dengan profesi kita!” nasihat pak Teddy kepada penulis. Bagaimana dengan pembaca? Salam Petani dan Peternak serta Majulah Usaha Ternak Indonesia!

 

OBROLAN ANGAN-ANGAN

Alhamdullilah bila program kemitraan inti plasma antara Villa Domba bersama peternak lokal di wilayah Bandung Selatan semakin terus disempurnakan dengan berbagai pembenahan. Program kemitraan berupa pembibitan Domba Garut yang niatan awalnya lebih dikarenakan terbatasnya kapasitas kandang di Villa Domba. Adalah kang Januar Budhi sang raja Kambing PE Bandung Selatan yang mana telah berkenan melangkah bersama Villa Domba sebagai pendamping dengan tangan dinginnya untuk membimbing peternak mitra. Dengan modal yang terbatas di mana Villa Domba tetap bersemangat dalam mengembangkan sektor usaha pembibitan. ”Pelan saja bang dalam melangkah dan mengembangkan jaringan, terpenting mengakar dan menghasilkan.” demikian pesan yang selalu disampaikan oleh sang penggagas Villa Domba. Berkat koordinasi rutin dan komunikasi intensif yang dilakukan antara Villa Domba sebagai inti dengan kang Budhi selaku perwakilan peternak mitra sebagai plasma maka kemitraan di kawasan Bandung Selatan telah terlaksana di dua desa dengan jumlah populasi ternak domba sebanyak 50 ekor.

Apa yang dapat diperoleh nantinya bagi kang Budhi sebagai pendamping mitra Villa Domba sebenarnya? Di mana ia pun juga merupakan peternak plasma Villa Domba terkait pemeliharaan induk domba. Sebagaimana yang selalu penulis sampaikan pada Blog ini, upaya kemitraan sangatlah membantu Villa Domba dalam memperluas sektor produksinya terkait pembibitan domba, keterbatasan kandang pada akhirnya dapat tersiasati dengan menitipkan induk domba untuk dipelihara oleh peternak mitra, lahan pakan dapat terbantu dengan upaya penggarapan yang dilakukan oleh peternak mitra dan utamanya domba Kami pun tetap dapat berproduksi serta terawat dengan baik harapannya. Kami tidak berani ambil resiko sebagai pemula dalam mengembangkan usaha, olehkarenanya persyaratan utama Villa Domba saat ini adalah setiap calon mitra Villa Domba dalam posisi beternak dan wajib memiliki kandang. Disamping itu memang terdapat persyaratan lainnya pula sebagai bagian dari proses seleksi. Penulis banyak belajar dalam hal ini dari pak Purnomo selaku Direktur Kampoeng Ternak Dompet Dhuafa Republika dan mendengarkan nasihat pak Zulkifli selaku Sekjen DPP Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI) yang Alhamdullilah saat ini HPDKI sebagai organisasi payung peternak telah mengakar di 12 provinsi Indonesia. Adapun posisi penulis dalam organisasi tersebut adalah dijebloskan oleh pak Zulkifli guna menduduki bidang kehumasan, bahasa gaulnya adalah Public Relation.

Kembali ke Kang Budhi, posisinya sebagai pendamping berhak mendapatkan 10% dari penjualan anak domba setelah lepas sapih, adapun posisinya sebagai peternak mitra adalah berhak mendapatkan 50% sedangkan Villa Domba sendiri sebagai pemilik ternak adalah cukup 40%. Contoh illustrasi perhitungannya adalah sebagai berikut: Misalkan kang Budhi memelihara 5 ekor Induk Domba yang dimiliki oleh Villa Domba di kandang kepunyaan kang Budhi sendiri, paling tidak bila 1 ekor induk domba dapat beranak sebanyak 3 kali dalam periode 2 tahun, kemudian rata-rata kelahiran jumlah anak adalah 2 ekor per kelahiran maka selama 2 tahun akan dimiliki sebanyak 30 ekor anak domba. Dan bila harga anak domba minimnya adalah Rp.450.000,- per ekor pada usia lepas sapih atau antara usia 4 s.d 5 bulan maka selama 2 tahun akan dimiliki proyeksi pendapatan kotor sebesar Rp.13.500.000,- atau setara dengan Rp. 562.500,- per bulan! Untuk selanjutnya maka pendapatan kotor inilah yang akan dibagi antara Villa Domba sebagai pemilik ternak, kang Budhi sebagai peternak mitra dan juga kang Budhi sebagai pendamping. Jadi secara perhitungan di mana hak yang didapat oleh Villa Domba dari kemitraan 5 ekor Induk Domba adalah sebesar Rp. 225.000,- per bulan, kang Budhi sebagai peternak mitra sebesar Rp. 281.250,- per bulan kemudian kang Budhi sebagai pendamping yaitu sebesar Rp. 56.250,- per bulan. Angka Bagi Hasil ini masih bersifat fleksibel dalam arti melihat perkembangan prestasi yang terjadi di lapangan.

Lalu pertanyaannya siapa yang akan membeli anak domba lepas sapih tersebut? Berikut penjelasannya, khusus anak domba jantan di mana program berlanjut ke arah kemitraan penggemukan yang didukung program tabungan kurban dengan jangka waktu paling tidak 12 bulan, ataupun dapat dijual bilamana ada pasar yang membutuhkan, misalnya pasar peternak penggemukkan yang juga membutuhkan anak domba untuk digemukkan, kemudian ada pula pasar konsumsi harian pedaging, pasar bibit dan bilamana cukup umur maka dapat dijual melalui pasar akikah dan juga konsumen langsung saat kurban. Program Tabungan Kurban? Detailnya dapat dijabarkan sebagai impian penulis yang sedang terus diwujudkan sebagai berikut: Pemesanan hewan kurban sejak dini melalui tabungan kurban dari pengalaman Kami adalah akan sangat menunjang keberlanjutan program kemitraan pembibitan ini. Anggaplah pembaca sudah merencanakan untuk memesan hewan kurban semenjak 1 tahun sebelumnya, bila pada lembaga perbankan mewajibkan setoran awal untuk suatu produk tabungan, begitu pun dengan program tabungan kurban yang Kami adakan. Setoran awal sebesar Rp. 450.000,- untuk pemesanan per 1 ekor hewan kurban berupa domba wajib dilakukan oleh pembaca ketika bulan pertama keikutsertaannya pada program tabungan kurban. Setoran awal ini yang akan dicatat sebagai pembelian bakalan domba kurban (anak domba) di mana sebenarnya ternaknya bersumber dari sektor pembibitan yang Kami kembangkan. Illustrasi berlanjut di mana memasuki bulan kedua dan seterusnya sampai dengan kurban di mana pembaca kembali harus menabung dengan jumlah setoran yang telah Kami tentukan diawal. Penentuan jumlah setoran diawal adalah berdasarkan perhitungan biaya yang harus dikeluarkan oleh peternak selama periode pembesaran anak domba dengan ditambah keuntungan bagi peternak, sebagai contoh misalnya biaya pakan, biaya sewa kandang, biaya obat-obatan ataupun biaya transportasi pengiriman.

Unik dan Menarik: Biaya pakan yang sebenarnya selain untuk pengadaan pakan ternak penunjang seperti konsentrat maka akan dialokasikan pula bagi peternak dengan Kami wajibkan sebagai biaya penggarapan lahan rumput. Tidak lain ini bertujuan bilamana penggarapan lahan rumput pastinya tidak hanya akan menunjang sektor penggemukkan yang sedang dijalankan akan tetapi dapat meningkatkan pula kemampuan mereka dalam menerima induk domba yang dititipkan oleh Villa Domba (Kemandirian Pakan). Kemudian khusus biaya sewa kandang tetap unik dan menarik di mana bagi peternak diwajibkan pula untuk dialokasikan sebagai biaya pembuatan kandang yang pastinya juga akan lebih dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam menerima induk domba yang dititipkan oleh Villa Domba (Kemandirian Sarana). Sinergi kemitraan pembibitan dan penggemukkan! Keuntungan bagi Konsumen? Harga jual hewan kurban bagi konsumen yang mengikuti program tabungan kurban jauh sejak lama yaitu 1 tahun menjelang kurban tentunya akan berbeda dengan harga jual konsumen dadakan menjelang kurban, harga program tabungan kurban pastinya lebih murah dibandingkan harga konsumen dadakan!

Sayang seribu sayang di mana nasib malang belum didatangi keberuntungan! Kenyataan yang terjadi di lapangan justru adalah kebalikannya! Peminat tabungan hewan kurban mohon maaf ternyata masih sangat sedikit di mana masyarakat kita lebih cenderung untuk membeli hewan kurban menjelang pelaksanaan idul kurban dan identik dengan satu kata yaitu mencari yang murah! Sangatlah disayangkan tentunya terlebih bilamana kita lebih mendalami makna kurban itu sendiri! Produksi anak domba di Villa Domba dan Mitranya justru lebih terserap kepada pasar peternak penggemukkan yang membutuhkan anak domba untuk digemukkan, kemudian ada pula pasar konsumsi harian, pasar bibit dan bilamana cukup umur maka dapat dijual melalui pasar akikah dan juga konsumen langsung saat kurban. Tidak bisa Kami tolak karena Villa Domba sebagai suatu usaha membutuhkan cash flow pendapatan tentunya! Potensi pemberdayaan ekonomi umat yang masih terabaikan!

Masih sebatas angan-angan, mungkin perlu kepiawaian sebuah lembaga perbankan dalam hal ini untuk menggencarkan promosi tabungan kurban di mana sebenarnya dapat menggerakkan roda ekonomi nyata masyarakat. Semoga dimaklumi, posisi Villa Domba dalam hal ini hanyalah petani dan peternak. Dan rasanya sungguh aneh bila untuk produk barang elektronik ataupun kendaraan bermotor dapat dijual secara kredit dengan penentuan harga diawal yang lebih mahal namun kenapa untuk hewan kurban tidak? Atau bila tabungan haji bisa digencarkan maka kenapa tabungan kurban tidak? Villa Domba sendiripun sebenarnya tidak mau dibuat pusing dengan dana tabungan kurban yang masuk nantinya seandainya terdapat sebuah lembaga perbankan yang berani menggencarkannya sebagai suatu produk tabungan. Aliran dana tabungan yang masuk nanti adalah tetap harus melalui lembaga perbankan tersebut dan sebagai peternak di mana Kami sangatlah baik bila diaturkan distribusi dana pada tiap bulannya. Dari peninjauan penulis di lapangan di mana psikologis peternak lebih bersemangat menerima uang untuk operasional misalnya dibandingkan pusing memikirkan pengembalian pinjaman. Tidak hanya lembaga perbankan, bisa pula pola ini dilakukan oleh koperasi misalnya? Yayasan dan lainnya. Tinggal membagi saja prosentase dari kue 100 persen yang ada untuk kesejahteraan tiap pihak yang ikut andil didalamnya. Mohon saran, kritik dan masukan. Email. agusramadas@yahoo.co.id, HP. 0815.941.3826. Sebuah telepon diterima oleh penulis belum lama ini, ”Kang, saya dari sebuah yayasan di Jakarta, apakah kita bisa pesan 600 ekor untuk kurban tapi yang murah ya untuk dijual lagi?” ataupun sebuah pernyataan lainnya yang pernah penulis terima pula dari sebuah yayasan yang juga masih berlokasi di Jakarta, ”Akang jualnya kemahalan, rumput kok dihitung sebagai biaya? Ya jelas mahal!” Bukan ini yang penulis impikan, tanya kenapa? Pola-pola pemesanan kurban seperti ini hanya memberikan keuntungan ditingkat bandar ataupun pedagang pengumpul saja! Kenapa Kami bisa berkata seperti ini karena baru 30% produksi pembibitan Kami yang dialokasikan ke penggemukkan kurban, kekurangannya Kami pun terpaksa membeli bakalan hewan kurban dari luar untuk digemukkan, mudahkah? Yang jelas harga ditentukan oleh kekuatan permodalan bandar ataupun pengumpul dimaksud, dan bukan tidak mungkin suatu saat nanti di mana bandar dan pengumpul yang pandai akan naik tingkat menjadi importir! Mohon saran, kritik dan masukan.

Banyak keuntungan yang sebenarnya bisa didapat bilamana program tabungan kurban ini dapat berjalan, sebagai contoh adalah perencanaan jumlah pemotongan hewan kurban yang dilakukan akan selalu diimbangi dengan pertumbuhan populasi ternak melalui sektor pembibitan yang sedang dikembangkan. Ingat, ingat! Naiknya harga hewan kurban pada tiap tahunnya adalah lebih dikarenakan semakin langkanya produksi ternak di negeri ini, apa iya domba dan kambing suatu saat nanti harus diimpor pula oleh ibu pertiwi dikarenakan produksi ternak di luar negeri akan jauh lebih murah? Padahal negeri kita juga memiliki potensi untuk menciptakan produk murah, sudah murah dan berkualitas pula! Keuntungan lain misalnya anak domba betina lulus seleksi tetap dapat dipelihara dengan subsidi dari biaya anak domba jantan secara tidak langsung melalui penggarapan lahan rumput, adanya pembukaan lapangan kerja dan potensi pendapatan masyarakat, dan jangan lupa pula sumber pupuk organik bagi petani dibidang pertanian. Sangatlah disayangkan tentunya terlebih bilamana kita lebih mendalami makna kurban itu sendiri! Potensi pemberdayaan ekonomi umat yang masih terabaikan! Pertanyaan selanjutnya, bila semua anak domba jantan untuk kurban lalu bagaimana untuk kebutuhan konsumsi daging harian masyarakat? Berlakukan sistem seleksi terhadap setiap anak domba yang lahir, mana yang cocok untuk digemukkan sampai dengan kurban? Mana yang dapat dipotong dalam waktu dekat? Mana yang pantas diselamatkan sebagai bibit untuk pemuliaan genetik? Terpenting mesin produksi sudah kita miliki sehingga mudah bagi kita untuk menggolongkannya. Mohon saran, kritik dan masukan. Email. agusramadas@yahoo.co.id, HP. 0815.941.3826. Pola yang sama kiranya bisa kita terapkan pula pada peternak Kambing Perah, keuntungan lainnya di mana susu Induk bisa kita perah manakala anaknya telah lahir sebagai pendapatan cash flow harian. Semakin sejahtera harapannya petani dan peternak Indonesia!

Tertib administrasi perlahan terus semakin diperbaiki oleh Villa Domba terkait pembentukan kelompok ternak pada dua desa dimaksud berikut pendataan ulang para plasma dan kevalidan recording ternak. ”Manajemen itu harus seperti dashboard mobil ataupun ruang kokpit pesawat bang, kita bisa kontrol setiap perkembangan yang ada dengan cukup melihat dari satu tempat.” saran sang penggagas Villa Domba yaitu pak Suhadi Sukama kepada penulis. Tiap-tiap kelompok memiliki ketua dan anggota atas rekomendasi kang Budhi dan berkewajiban melaporkan setiap perkembangan yang ada secara periodik baik berupa lisan maupun tertulis melalui kang Budhi untuk kemudian dilaporkan ke Villa Domba. Masih banyak pekerjaan rumah yang belum terselesaikan, sebagai contoh adalah kerinduan Kami yaitu Villa Domba dan peternak mitra terkait sentuhan teknologi untuk percepatan dan akurasi reproduksi antara lain berupa sinkronisasi birahi dan aplikasi inseminasi buatan, kemudian apakah memungkinkan dilibatkan peran serta pemuda melalui program sarjana masuk desa misalnya, ataupun bantuan petugas penyuluh lapangan? Ketertarikan Perbankan untuk menggencarkan promosi tabungan kurban dan membimbing Kami sebagai peternak yang hanya ingin berkonsentrasi penuh dalam beternak serta pekerjaan rumah tertunda lainnya.


Sebuah SMS diterima oleh penulis dari salah seorang senior dalam bidang peternakan, Dr. M. Winugroho, APU, ”Kang Agus, silahkan buka web http://www.blc-batam.com/, secara aktif pak Alwi Shihab minta Timur Tengah untuk bantu mengembangkan peternakan di Indonesia, khusus Jabar di mana pak gubernur minat sekali. Kapan kita bisa bertemu dan bersama ke Ditjennak, kita bina daerah kambing domba!” SMS lainnya yang penulis terima dari beliau, ”Meeting sebaiknya fokus sebagai tindaklanjut operasional workshop kambing domba asia pasifik lalu”. Indonesia Bisa! Kemudian SMS dari salah satu guru penulis di bidang peternakan yang sangat penulis hormati, Drh. Sapto, ”Salam teman-teman semua. Saya sudah menghadap Doktor Riwantoro selaku Kasubdit Ternak Potong Deptan, Dokter Zulkifli di Kampoeng Ternak, Doktor Teguh Budiyana dari APFINDO, Dokter Joni dari Disnak Brebes dan sebagian kecil masyarakat peternak Brebes. Berikutnya, saya ingin bertemu Doktor Syafi’i Antonio, Ir. Nono Setiawan, karib saya yaitu Agus Ramada dan sambil berjalan saya akan ke Dirjen Peternakan serta gubernur Jawa Tengah. Semoga cita-cita ini tidak hanya sebatas SMS. Mohon supportnya.” Peternak Siap! Telepon masuk ke HP Penulis dari wilayah provinsi Jawa Timur, sahabat penulis yaitu mas Moenir dengan bendera Kopontren Nusya, ”Kang, kita harus sepakat kembangkan breeding, mbok ya disuarakan ke yang di Jakarta.” ”Lihat saja tahun depan nanti kang, saya akan melakukan strategi pemasaran yang revolusioner! Setiap anak domba lepas sapih akan Saya foto dan membuat semacam cd presentasi, artinya orang sudah bisa memiliki hewan kurban dengan melihat foto ternaknya dari sejak ternak masih kecil dengan harga jual berdasarkan proyeksi ke depan! Tiap keping CD akan dikeep oleh konsumen sebagai tanda bila kita telah sepakat bertransaksi.” ucap pak Teddy sebagai pengusaha yang saat ini mulai terjun dalam bidang usaha ternak domba. ”Bila stock saya kurang maka tinggal ambil stock dari sentra Villa Domba ataupun mitra lainnya namun tetap dalam jaringan Villa! Ini yang dinamakan arti Sinergi dan pengertian Marketing Board sebenarnya kang! Sama Harga, Sama Kualitas dengan adanya Kesamaan pula dalam Standar Pemeliharaan!” lanjut pak Teddy yang berkunjung ke lokasi perkebunan organik dan peternakan Villa Domba belum lama ini bersama keluarganya. Majulah Usaha Ternak Indonesia!

 

BELAJAR DARI PASAR TRADISIONAL

”Marketing bukan hanya sekedar seni dalam menjual akan tetapi harus disertai seni dalam mengerti dan memahami keluh kesah serta permasalahan pelanggan.” teringat penulis dengan pesan yang pernah disampaikan oleh seorang manajer pemasaran sebagai atasan pada suatu perusahaan di mana penulis dahulu bergabung di dalamnya. ”Komunikasi ini yang akan menjadikan hubungan dengan pelanggan tidak akan pernah putus karena selalu terjalin hubungan entah dalam suka maupun duka. Ingat Gus, pelanggan adalah asset pada perusahaan dan bukan sekedar omzet bagi perusahaan!” lanjutnya kembali pada penulis saat itu. Pantas saja kalau begitu dengan usia relatif sama dengan penulis di mana ia saat ini sudah menjadi seorang National Sales Manager. Dan pantas pula bila banyak perusahaan-perusahaan besar yang umumnya membentuk dengan apa yang dinamakan Layanan Pelanggan, bahasa gaulnya bilang customer service, atau ada pula perusahaan yang siap dengan kelebihan layanan purna jualnya. Pilih Asset atau Sekedar Omzet? Sebuah cara paling unik untuk belajar mengerti dan memahami keluh kesah serta permasalahan pelanggan? Belajar dari Pasar Tradisional!

Suatu ketika penulis mengantarkan isteri untuk pergi berbelanja ke pasar tradisional yang lokasinya tidak jauh dari komplek perumahan, di mana seakan ada keunikan kompetisi pada beberapa produk komoditi yang dimiliki oleh tiap-tiap penjual dengan letak lokasinya yang berdekatan. Untuk urusan membeli produk sebagai olahan masakan memang isteri penulis coba terbiasa dengan mendapatkannya di pasar tradisional ataupun paling tidak dari tukang gerobak sayur terdekat yang selalu setia melintas di depan rumah, namun lain kondisinya bila produk yang rencana dibeli sudah tidak mungkin didapat lagi melalui pasar tradisional maka barulah setirpun dibanting ke supermarket terdekat. Keunikan pertama yang terjadi adalah manakala Kami bermaksud membeli tempe di pasar tersebut, penulis pun bertanya kepada isteri, ”De, kok ade memilih pedagang tempe yang tadi? Padahal pedagang tempe begitu banyak berjejer!” Jawaban isteri penulis adalah, ”Beda seratus rupiah kalau untuk ibu-ibu mah juga lumayan Aa.” Jawaban yang bagi penulis adalah normal untuk seorang ibu rumah tangga.

Keunikan yang kedua pun terjadi adalah ketika Kami ingin membeli pete yang juga masih di pasar bersangkutan, penulis pun kembali bertanya kepada isteri, ”Nah kalau sekarang kenapa membeli pete nya di pedagang tadi?” Jawaban isteri penulis adalah, ”Orangnya pinter milihin pete yang bagus jadi tidak perlu repot-repot lagi.” Mulai berbeda bilamana penulis coba membandingkan dengan jawaban yang pertama. Keunikan yang ketiga adalah manakala Kami akan membeli buah dengan tetap di lokasi pasar yang sama, ”Pedagang buahnya banyak loh de, kok dipilih yang ini?” tanya penulis lebih lanjut kepada isteri. ”Kalau buah yang kita beli kemarin rasanya tidak manis nanti si penjualnya kasih potongan harga pas kita ke sini lagi. Orangnya juga pinter milih buah yang bagus, kalau manis ya dibilang manis terus kalau kecut ya dibilang kecut.” ucap isteri penulis.

Dan sebagai keunikan terakhir adalah saat penulis mengantarkan isteri ke kios tukang jahit langganannya yang ada di lantai 2 pasar dimaksud, ”Kenapa pilih tukang jahit yang ini de?” tetap dengan pertanyaan yang bertema senada. ”Ongkosnya klop dengan bahan kain dan hasil jahitan walaupun agak mahal, tidak sungkan kasih komentar kalau keinginan ade ternyata tidak akan cocok nantinya, ukuran kurang pas karena kesalahannya masih bisa dirombak dan enggak perlu bayar lagi.” Marketing bukan hanya sekedar seni dalam menjual akan tetapi harus disertai pula seni dalam mengerti dan memahami keluh kesah serta permasalahan pelanggan. Pilih Asset atau Sekedar Omzet? Mencari cara paling unik untuk belajar mengerti dan memahami keluh kesah serta permasalahan pelanggan? Belajarlah di Pasar Tradisional. Salam Petani& Peternak!

MEKANISME pasar dalam penentuan harga komoditas pertanian dinilai sangat tidak adil. Petani sering menjadi pihak yang tidak berdaya dan dirugikan. Di kala harga komoditas melonjak, petani tidak memperoleh keuntungan yang wajar. Sebaliknya, saat harga jatuh, petanilah pihak pertama yang harus menanggung kerugian. Hal ini diperparah oleh adanya aksi spekulan yang berusaha mengeruk keuntungan sebesar-besarnya tanpa mempedulikan kesejahteraan petani. Tak pelak lagi, praktik seperti ini secara perlahan telah menyebabkan kemelaratan dan kebodohan petani yang umumnya tidak memiliki jaringan pemasaran.
Kondisi ini rupanya telah memicu keprihatian di kalangan LSM dan organisasi non-profit lainnya. Sebagai bentuk nyata pembelaan mereka terhadap petani, maka dibentuklah sebuah sertifikasi yang dinamakan Fair Trade. Sertifikat ini diberikan oleh organisasi independen (FLO: Fair Trade Labeling Organization) kepada distributor atau pedagang yang dinilai ikut berkontribusi terhadap peningkatan taraf hidup produsen serta pengembangan komoditi agrobisnis secara berkesinambungan. Diharapkan dengan adanya proses pemantauan pihak ketiga melalui sertifikasi, kemitraan dagang yang dilandasi semangat keterbukaan dan keadilan dapat terwujud.
Association Indonesien Professional Sciences and Enterprises (AIPSE), sebagai wadah bagi profesional Indonesia di Jerman, merasa terpanggil untuk mensosialisasikan sertifikasi yang belum banyak dikenal oleh masyarakat tersebut. Memanfaatkan momentum peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional baru-baru ini APISE bekerjasama dengan KJRI Frankfurt menyelenggarakan workshop yang bertajuk Fair Trade & European Market Penetration Strategies.
Dalam workshop ini, AIPSE menampilkan pakar fair trade, yaitu Friedrun Sachs (dari Naturland International), Johannes Schwegler (Direktur Swisscontact Germany GmbH) dan Mr Xavier Huchet (dari Fair Trade e.V). Friedrun Sachs memaparkan aktivitas dan kompetensi Naturland, seperti proses sertifikasi produk organik dan program pelatihan untuk 47.000 petani di 32 negara. Naturland merupakan salah satu organisasi pertanian organik terbesar di Jerman yang sudah menerapkan kerjasama dagang sesuai dengan prinsip fair trade.
Pada sesi kedua, Johannes Schwegler berbagi pengalaman tentang keberhasilannya membina petani jambu mete di Flores. Sebagai organisasi non-profit yang berusia 49 tahun, Swisscontact merupakan kini memiliki cabang di 25 negara, termasuk di Indonesia. Salah satu proyek sukses yang digarap oleh organisasi ini adalah LED-NTT (Local Economy Development – Nusa Tenggara Timur), di Ende, Flores, dengan keberhasilannya mempromosikan jambu mete dari Flores ke pasar Eropa.
Di hadapan peserta workshop, pria yang fasih berbahasa Indonesia ini menceritakan berbagai kendala saat memulai proyek. Di antaranya adalah infrastruktur yang tidak memadai, volume produksi yang fluktuatif, serta kualitas komoditas yang tidak merata. Untuk mengatasi berbagai masalah itu, Swisscontact menggandeng pemerindah daerah untuk mengadakan pembinaan dan pelatihan petani. Dalam pelatihan tersebut, petani dibekali berbagai pengetahuan tentang pertanian modern dan kewirausahaan. Di sanalah kali pertama fair trade di perkenalkan kepada petani di Flores. Kerja keras ini membuat petani Flores kini mampu memproduksi 3,2 ton jambu mete perbulan dengan kualitas ekspor. Bahkan 700 petani di antaranya sudah memperoleh sertifikasi IMO. Selain untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal, jambu mete telah diekspor ke Amerika Serikat dan Eropa. Kni program serupa diterapkan untuk komoditi coklat.
Xavier Huchet tampil di sesi ketiga membahas berbagai aturan dalam fair trade melalui berbagai contoh proyek yang selama di tangani oleh Fair Trade e.V. Xavier menyebutkan bahwa distributor produk kopi yang sudah memegang sertifikat fair trade diwajibkan menyetorkan US$ 200 kepada petani untuk setiap penjualan 1 ton kopi. Di bawah pengawasan pihak ketiga, uang tersebut harus dimanfaatkan untuk pengembangan komoditi kopi selanjutnya, sehingga diharapkan ada peningkatan kesejahteraan para petani. Hingga kini sudah ada 20 negara yang berafiliansi dengan FLO. Selain itu, tercatat 1.500 produk dari 55 negara di dunia telah mendapat sertifikasi fair trade. Diperkirakan, sebanyak 1,5 juta petani mendapat keuntungan langsung dari sertifikasi ini dan 7,5 juta keluarga memperoleh keuntungan secara tidak langsung. Di Indonesia sendiri tercatat ada 40 organisasi yang memiliki hubungan dengan FLO per Juni 2008. Sepuluh di antaranya telah memegang sertifikat FLO sedangkan 30 lainnya dalam proses pengajuan. Komoditas yang didaftarkan meliputi kopi, coklat, vanili dan mente. Dalam kesimpulannya, Xavier menegaskan kembali tentang manfaat fair trade bagi masyarakat di negara berkembang khususnya petani. [P1] Penulis adalah PR Manager Association Indonesien Professional Sciences and Enterprises (AIPSE), Bonn, Jerman

 

Tampak gambar di atas adalah sewaktu kedatangan Xavier Huchet ke lokasi perkebunan organik dan peternakan Villa Domba pada tahun lalu. Kagum penulis terhadap dirinya di mana dengan usia yang jauh lebih muda dibandingkan penulis namun telah banyak berbuat untuk memajukan nasib para petani! Bravo to Xavier Huchet! KLIK FLO Web: http://www.fairtrade.net/, Indonesia, Bisa ! ! ! !

 

PAMIT DAHULU

Salam Petani& Peternak!
Pembaca Blog sekalian, kembali tugas lapangan harus dilakukan oleh penulis, Insya Allah Blog Domba Garut dan Organic Indonesian Vanilla akan kembali aktif per hari Selasa, tanggal 14 Oktober tahun 2008. Silahkan menghubungi penulis via Handphone. 0815.941.3826 untuk tetap terjalinnya tali silaturahmi. Email. agusramadas@yahoo.co.id. Pemesanan Domba Kurban telah dibuka, mari mendukung pemberdayaan peternak Indonesia! Salam Petani& Peternak!
Hatur Nuhun
Agus Ramada S
SUMPAH PEMUDA
Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.

 

 

HITUNG MUNDUR: KURBAN 1429 H

Semoga informasi ini dapat memberikan manfaat tentang pengetahuan teknis dalam penyelenggaraan ibadah kurban bersumber dari beberapa web yang ada: Salah satu sarana yang diperlukan untuk menunjang penyelenggaraan ibadah kurban. Ucapan permohonan maaf penulis bilamana terdapat kekurangan dan kekeliruan, di mana saran, kritik serta masukan sangatlah penulis harapkan. Hewan qurban disembelih sesudah shalat Idul Adha sampai dengan 3 hari sesudahnya (hari-hari Tarsyik), jadi ada 4 hari kesempatan kita untuk menyembelih hewan qurban. Namun biasanya hewan kurban sudah mulai dibawa oleh orang yang hendak berkurban ke lokasi pemotongan pada 7 hari sebelum pelaksanaan dan akan mencapai puncak banyaknya populasi ternak biasanya pada 1 hari sebelum pemotongan. Berikut beberapa persiapan sarana yang kiranya dapat dilakukan di mana akan sangat membantu dalam menjaga kesehatan hewan ternak sebelum hari pemotongan:

Persiapkan sarana penampungan hewan kurban yang lokasinya diupayakan tidak begitu jauh dengan tempat pemotongan. Dianjurkan membuat tenda agar hewan kurban terlindungi dari hujan dan terik matahari. Alas tempat penampungan harus dijaga agar tetap bersih dan kering kemudian diberikan pakan yang cukup untuk menjaga stamina dan kesehatan hewan kurban. Tampak gambar di atas salah satu tempat sarana penampungan hewan kurban yang dibuat oleh tim Villa Domba bersama salah satu panitia di masjid penyelenggara. Hewan kurban diberikan tempat yang terlindungi dari hujan dan terik matahari kemudian kebutuhan pakan ternak harus tetap tercukupi dengan dibuatkan tempat pakan sederhana. Villa Domba menyertakan 3 (tiga) orang pekerjanya untuk merawat dan memelihara hewan kurban dimaksud sampai dengan pemotongan berlangsung. Info Kurban Villa Domba silahkan kiranya pembaca sekalian berkenan KLIK Link berikut: http://dombagarut.blogspot.com/2008/10/bersiap-kurban-1429-h.html.

 

ULURKAN TANGAN KITA

Sebuah informasi bermanfaat diterima melalui Email penulis tentang Yayasan Ar-Rahmah berlokasi di Jl. Taman Pagelaran, Gg. H. Lasim No. 9, Ciomas Bogor. Beritanya pernah penulis posting pada Blog. Seperti tampak pada gambar di bawah yaitu sebuah pondok sederhana yang dihuni oleh anak-anak yatim piatu dan kurang mampu di wilayah Bogor. Uluran tangan pembaca akan semakin memberikan senyum kebahagiaan pada mereka: Zakat, Infaq, Shodaqoh, Perlengkapan Sekolah, Perlengkapan Sholat, Pakaian Bekas, Sembako dan lain-lain. Tidak hanya sekedar bersekolah, hari-hari kegiatan mereka juga diisi dengan kegiatan bercocok tanam dan berkebun untuk memperoleh pendapatan. Bagi pembaca Blog yang bermaksud berpartisipasi sebagai donatur maka silahkan dapat langsung menghubungi Bp. Jonih Rahmat melalui Phone. (0251) 637.200, HP. 0812.105.6155.

Insya Allah terkait pelaksanaan ibadah kurban 1429 H pada bulan Desember tahun 2008 yang akan datang di mana Villa Domba bermaksud menjadikan Yayasan Ar-Rahmah sebagai salah satu tempat pemotongan dan distribusi daging hewan kurban berupa Domba Garut. Proposal Kurban 1429 H akan Kami kirimkan via Email di mana pembaca sekalian dapat mengisi formulir pemesanan terlebih dahulu yang terdapat pada proposal dimaksud. Tentang pembayaran adalah dapat via transfer yaitu 1 minggu menjelang waktu pelaksanaan pemotongan. http://dombagarut.blogspot.com/2008/10/bersiap-kurban-1429-h.html.

Informasi lainnya yang datang dari Yayasan Bhakti Anak Negeri: Layanan Jemput Zakat, Semakin Cepat& Sasaran Tepat. ”Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (Qs.Adz Dzariat: 19). Informasi Detailnya silahkan KLIK web. http://www.pkpu.or.id/ atau silahkan menghubungi Yayasan Bhakti Anak Negeri, Phone. (022) 705.06113. Aktivitas PKPU: Ekonomi: Kelompok Usaha Bersama (KUBE) mendapatkan bantuan dari PKPU berupa pendampingan keuangan, pemasaran dan organisasi. Pendidikan: Beasiswa pelajar Dhuafa dengan Pembinaan menuju Kemandirian, Taman Bacaan, Perpustakaan dan Sanggar Kreativitas Anak. Kesehatan: Program Tanggap Darurat, PKPU memberikan bantuan berupa Investigasi, Evakuasi, Layanan Kesehatan, Air Bersih, Dapur Umum, Makanan Bayi dan sebagainya. Pondok Gizi: Program peningkatan Gizi Balita.

 

PP DARUL FALLAH

Benarlah kiranya bila silaturahmi memperpanjang umur dan menambah rejeki, Amin. Selain itu akan diperoleh pula ilmu pengetahuan baru dan manfaat positif lainnya. Alhamdullilah, terjalin komunikasi melalui Email yang dikirimkan oleh kang Ucu (Nursyamsu Mahyuddin) dari PP Darul Fallah yang berlokasi di Ciampea, Bogor. Bergerak dalam bidang pembibitan tanaman dengan teknik kultur jaringan dibawah bendera DaFa Teknoagro Mandiri, peternakan Sapi dan Kambing Perah dan siap merambah kepada usaha pengolahan susu. Indonesia Bisa!

Sekilas Pesantren Darul Fallah: Pesantren Pertanian Darul Fallah merupakan lembaga pendidikan pertama di Indonesia yang memadukan antara pendidikan Islam dengan ilmu pertanian sebagai kompetensi utamanya, didirikan di atas tanah wakaf seluas 26,5 hektar pada tahun 1960. Selain sebagai lembaga pendidikan formal, Pesantren Pertanian Darul Fallah merupakan lembaga dakwah, lembaga pengembangan dan penerapan teknologi pertanian, serta lembaga pembinaan masyarakat dalam bidang pertanian, dengan memiliki keunggulan yang khas sehingga mampu menghasilkan SDM yang memiliki ketaqwaan, keahlian dan kemandirian.

Tujuan utama pendirian Pesantren Pertanian Darul Fallah adalah untuk memajukan pendidikan dan dakwah Islam dalam rangka membentuk generasi baru yang berilmu dan bertakwa, sehingga berperan aktif dalam pembangunan agama, bangsa dan negara. Sebagai lembaga pendidikan yang memiliki ciri utama pertanian, Pesantren Pertanian Darul Fallah telah mengembangan beberapa unit usaha pertanian, termasuk di bidang peternakan, antara lain Peternakan Sapi Perah, Peternakan Kambing Perah (Peranakan Etawa), Pabrik Pakan Ternak, Pengolahan Hasil Peternakan berupa produk Youghurt, Kefir, Susu segar, Susu Pasteurisasi dan lain-lain.

Kontak PP Darul Fallah, kang Ucu, HP. 0812.911.2250. Sungguh dasyat dan luar biasa ternyata potensi yang dimiliki oleh negeri kita tercinta! Seperti sebuah lirik lagu Koes Plus: “Bukan lautan, hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu, tiada badai tiada topan kautemui, ikan dan udang menghampiri dirimu.orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.” Mari bersama memajukan sektor usaha pertanian dan peternakan Indonesia! Optimis, Indonesia Bisa! Salam Petani Organik& Peternak!

 

DESA TERNAK

Sebuah informasi menarik di mana penulis temukan dari Web. http://www.dpu-online.com/, Email. info@dpu-online.com, sebuah program yang dinamakan Desa Ternak Mandiri. Apakah yang dimaksud Desa Ternak Mandiri di sini? Suatu program yang berupaya memfasilitasi para masyarakat dhuafa di perdesaan, khususnya para peternak agar bisa mengelola kegiatan usaha terpadu, berupa penggemukkan domba dan pengolahan singkong. Usaha pengolahan singkong dimana setiap keluarga peternak peserta program akan mengolah 40 kg singkong setiap hari. Hasilnya berupa tepung tapioka (tepung aci) dan rasi (beras singkong) akan dijual kepada mitra yang ada dan siap menampung hasil pengelolaan singkong sehingga tidak perlu mencari pembeli hasil pengolahan tersebut, sebagian lagi dikonsumsi sendiri sebagai pangan pokok alternatif pengganti beras. Konsumsi 1kg rasi setara dengan 3 liter beras. Sehingga uang untuk membeli beras, bisa dialihkan sebagian untuk memberi lauk pauk yang bergizi seperti telur atau ikan. Sedang sebagian lagi bisa dialokasikan untuk pendidikan dan kesehatan. Sedangkan kesempatan memelihara / pengge-mukkan domba, merupakan upaya mereka untuk menambah penghasilan keluarga. Dimana setiap keluarga peternak akan diberi kesempatan untuk memelihara / menggemukkan 5 ekor domba selama 3 bulan. Sehingga setiap 3 bulan sekali, mereka akan mendapat tambahan penghasilan dari usaha peternakan mereka. Luaaaaaar Biasa! ! !

Informasi menarik lainnya dari Web. http://www.pkesinteraktif.com/, Email. pkes_data@yahoo.com, sebuah program yang dinamakan Desa Ternak Makmur. Apakah yang dimaksud Desa Ternak Makmur di sini? Kepala Divisi program Pelaksana Harian BAZNAS, Sujadi, mengatakan, Baznas dan BAMUIS BNI besok (09/5) akan melakukan peresmian program Desa Ternak Makmur (DETEM). Dalam program DETEM, kata Sujadi, selama ini telah berhasil memberdayakan sekitar 268 kepala keluarga di provinsi Nusatenggara Barat (NTB). Program—DETEM cukup berhasil di NTB, karena NTB merupakan daerah yang kaya ternak dan lahannya mendukung untuk budidaya ternak. Desa Ternak Makmur merupakan program pendampingan kelompok peternak potensial dengan sistem dana bergulir untuk mengembangkan potensi ternak wilayah. Sesuai namanya program ini mendampingi peternak agar memiliki kemampuan berternak yang baik dan di tempatkan dalam satu cluster. Terdapat empat cluster yang sudah dibentuk yaitu : Detem Mataram Nusa Tenggara Barat, kabupaten Lombok, Detem Lembata Nusa Tenggara Timur, Detem Cililin Jawa Barat dan Detem Payakumbuh, Sumatera Barat. (Zarkasih.www.pkesinteraktif.com)

 

PPKM MALAYSIA

PPKM MALAYSIA

 

Persatuan Penternak Kambing Malaysia

Bila di Indonesia memiliki organisasi payungnya peternak bernama HPDKI, Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia maka penelusuran penulis di internet mendapatkan informasi tentang keberadaan organisasi Persatuan Penternak Kambing Malaysia atau disingkat dengan PPKM (http://kambing-ppkm.blogspot.com/). Email. Admin.ppkm@gmail.com. Sekilas informasi tentang PPKM sebagai organisasi peternaknya Malaysia ini: Satu inisiatif telah (sejak 2007) dan sedang diambil untuk menubuhkan satu badan berkebajikan untuk menyatukan semua penternak dan usahawan ternakan kambing seluruh Malaysia di dalam Persatuan Penternak Kambing Malaysia. Persatuan yang sedang di dalam proses penubuhan ini bertujuan untuk membantu usahawan ternakan kambing seperti kursus dan latihan, memasarkan hasil ternakan, mendapatkan baka kambing, mendapatkan makanan ternakan dan ubat-ubatan dengan harga istimewa daripada pihak pembekal dan sebagainya.

Informasi lainnya tentang PPKM: Persatuan Penternak Kambing Malaysia (PPKM) berharap dapat mengumpulkan anggaran seramai 4,000 orang penternak sedia-ada di seluruh negara untuk bernaung di bawah satu organisasi yang akan dapat menjaga kepentingan ahli. PPKM berhasrat untuk mencari kaedah dan jalan yang terbaik membantu ahli bagi memastikan harga makanan ternakan kambing lebih ekonomik dan terkawal. Disamping itu juga ahli akan dapat merujuk permasalahan yang mereka hadapi kepada persatuan untuk mencari jalan penyelesaian yang terbaik dalam menangani sesuatu masalah tersebut seperti penyakit ternakan dan sebagainya. Selain daripada itu, PPKM berhasrat untuk mengadakan sistem pemasaran semua hasil ternakan kambing dengan lebih sistematik dan terancang untuk kepentingan ahli.

HPDKI Indonesia

Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia

Bagaimana dengan HPDKI? Alhamdullilah, mengakar saat ini pada 12 provinsi di Indonesia dengan kantor DPP di Jakarta, potensi 4.3 juta peternak rakyat menjadikan HPDKI memiliki peran strategis untuk ambil bagian dalam memajukan usaha ternak domba kambing di Indonesia. Sejarah kemunculan Himpunan Peternak Domba-Kambing Indonesia (HPDKI) tidak dapat dilepaskan dari kemunculan organisasi-organisasi peternakan rakyat yang sejak lama tumbuh di berbagai wilayah Indonesia dari tingkatan desa, kecamatan, kabupaten, hingga propinsi. Organisasi-organisasi kedaerahan ini biasanya merupakan organisasi peternak yang memelihara satu jenis ternak, misalnya Kambing Peranakan Etawa (PE) di Jawa Tengah dan Domba Garut di Jawa Barat. Di Jawa Timur ada Forum Komunikasi Peternak domba Kambing (FKPDK). Dari banyak asosiasi/forum peternak yang ada di daerah, boleh dikatakan bahwa Jawa Barat relatif mempunyai sejarah paling lama dengan struktur kepengurusan yang lebih mengakar dan menyebar. Sejarah asosiasi/forum peternak domba di Jawa Barat dimulai sekitar tahun 1900-1920. Sekitar tahun 1970an didirikan organisasi penggemar domba di tingkat Jawa Barat Yang dipimpin oleh H. Husein Wangsaatmadja yang saat itu juga menjabat sebagai walikota Bandung dengan nama HPDI, Himpunan Peternak Domba Indonesia. Tahun 1980an diselenggarakan MUSDA HPDI Jawa Barat di Padalarang dengan salah satu hasil rumusannya adalah mengadakan perubahan nama dari HPDI menjadi HPDKI, Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia. Pada 13 September 2003, di Taman Mini Indonesia Indah, diselenggarakan Sarasehan Nasional Peternak Domba Kambing yang diprakarsai oleh Departemen Pertanian (Dirjen Peternakan), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Dompet Dhuafa Republika yang menghasilkan rekomendasi pembentukan Asosiasi Peternak Domba Kambing Indonesia dengan tim formatur : Ir. H. Ateng Sutisna (HPDKI Bogor), Dr. Ir. Tantan R. Wiradarya (IPB), Drh. Abduljabbar Zulkifli (Dompet Dhuafa Republika), Made Satria (HPDKI Cianjur) dan Dede Bahar (Jawa Timur). Tanggal 26 Mei 2004 Tim Formatur mengadakan rapat pleno di Aula Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak) yang dihadiri oleh perwakilan peternak dari seluruh Indonesia dengan hasil: Penyebutan nama Asosiasi Peternak Domba Kambing Indonesia menjadi Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia, disingkat HPDKI. Telah dibentuk kepengurusan HPDKI periode 2004-2009 dengan Ketua Umum Drs. H.A.M. sampurna, MM. Kemudian Penetapan Anggaran Dasar. Majulah Usaha Ternak Domba Kambing Indonesia!

 

KOPINYA VILLA DOMBA

Sebuah Email masuk menanyakan kepada penulis tentang tanaman Kopi yang sedang Kami kembangkan saat ini di lokasi perkebunan organik dan peternakan Villa Domba. Berikut informasi yang dapat Kami sampaikan di mana saran, kritik dan masukan sangatlah penulis harapkan: Cerita dimulai berawal dari lahan yang masih tersisa diantara pohon rambatan tanaman Vanilla yang sudah ditanam sebelumnya dan ada peluang untuk diterapkan pola tumpang sari dengan tanaman lainnya. Pada akhirnya perjalanan Kami terhantar pada jenis tanaman Kopi yang memikat hati saat itu yaitu jenis Kopi Arabika Kate atau disebut juga jenis Kopi Ateng karena banyak ditanam di wilayah Aceh Tengah. KLIK Informasinya tentang jenis kopi ini:

Terdapat beberapa alasan kenapa Kami memilih untuk menanam jenis tanaman Kopi Kate ini. PERTAMA, umur pertama tanaman berbunga dihitung sejak pemindahan ke lubang tanam adalah lebih cepat, antara 1.5 s.d 2 tahun. KEDUA, umur ekonomis tanaman bisa mencapai lebih dari 20 tahun. KETIGA, tipe pertumbuhannya yang Kate sehingga cocok sebagai tanaman tumpang sari dengan lahan Kami yang terbatas. KEEMPAT di mana ini yang paling utama, harga jual biji kopi jenis Arabika adalah jauh lebih baik dibandingkan dengan harga jual biji kopi jenis lainnya. Silahkan KLIK informasinya:

http://prasetyowidi.wordpress.com/2008/04/03/indonesia-genjot-produksi-kopi-arabika/.

Data yang penulis peroleh dari web http://www.kopigayo.blogspot.com/ menjelaskan: Hampir 75% produksi kopi di dunia merupakan kopi jenis ini (Arabica), Indonesia menyumbang 10% dari jumlah tersebut.

Lalu bagaimana cara kita dalam memulai budidaya tanaman kopi Arabika, dari obrolan di lapangan dan dengan para senior perkopian yang ada berikut beberapa informasi yang semoga dapat memberikan manfaat. PERTAMA, jenis tanaman kopi Arabika memiliki syarat tumbuh pada ketinggian 800 s.d 1200 m dpl. KEDUA, sumber benih berasal dari kebun induk di mana untuk jenis tanaman Arabika dilakukan secara generatif. KETIGA, Diawali dengan penanaman pohon pelindung sebagai naungan seperti Gamal, Dadap dan Lamtoro. KEEMPAT, bibit siap tanam pada lubang tanam adalah berumur 8 s.d 12 bulan dengan tinggi bibit 20 s.d 40 cm, jarak tanam 1,25 m x 1,25 m maka pada luasan 1 ha dapat ditanami 6.400 bibit tanaman. Alhamdullilah, tidak hanya buah Vanilla namun tanaman Kopi pun tergarap. Informasi tentang Budidaya Kopi Arabika KLIK:http://www.disbun.jabarprov.go.id/data/arsip/Budidaya%20Tan.%20Kopi.doc.

Buah Kopi Organik? Semakin bahagia hati ini manakala mengetahui bila sinergi usaha antara bidang perkebunan dan peternakan yang dilakukan Insya Allah memberikan manfaat yang positif, buah kopi organik memiliki pasar yang menjanjikan! Tidak sengaja sebenarnya Kami melakukan ini pada awalnya di mana keputusan memelihara usaha ternak domba lebih dikarenakan harus membeli pupuk yang harganya selangit! Sebuah informasi bermanfaat dari web. http://www.ipard.com/penelitian/penelitian_kopi.asp: Pasar kopi baru yaitu specialty coffee merupakan peluang yang harus diraih, dalam kopi organik termasuk di dalamnya. Kopi organik merupakan kopi yang diproduksi dengan menganut pada paham pertanian yang ber-kelanjutan.

Dalam budidaya organik aspek-aspek pelestarian sumberdaya alam, keamanan lingkungan dari se-nyawa senyawa pencemar, keamanan hasil panen bagi kesehatan manusia serta nilai gizinya sangat diperhati-kan. Di samping itu dalam budidaya kopi organik aspek sosial ekonomi juga menjadi perhatian utama. Jadi, tidak seperti anggapan masyarakat selama ini bahwa kopi organik adalah budidaya kopi tanpa pestisida, pupuk buatan dan tanpa pemeliharaan sama sekali. Justru, pada budidaya kopi organik jauh lebih banyak aspek yang harus diperhatikan. Kopi organik hanya dapat diproduksi pada kondisi sumberdaya lahan yang tingkat kesuburan tanahnya tinggi, curah hujannya cukup serta daya dukung lingkungannya tinggi.

Saya masih di basecamp sementara Jakal 8,5 ketika Bung Yossy nelpon, “Mas, Kang Ipul mau kesini…” Saya segera meluncur ke komplek IAIN bersama Kang Pacul. Dan benar disana Kang Ipul Juragan Angkot dari Forum Warga Cilacap yang baru pulang dari Makasar sudah ada disitu. Ngobrol ngalor ngidul tentang pemberdayaan ekonomi kerakyatan dan dikaitkan dengan rencana pembuatan website Cilacap. Akhirnya kang Ipul mengajak saya dan Bang Yos ditemani Kang Marjuki untuk meluncur menuju ke Wonolilo.

 

Tujuan kami adalah ke rumah Pak Muhyidin, dedengkot Forum Warga Kabupaten Bantul yang membina kelompok pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang dinamakan Selasa Kliwonan. Pengelolaan peternakan kambing di plasma ini sama saja dengan yang lain, tapi ada satu hal yang menarik perhatian saya. Bila selama ini umumnya, termasuk waktu rame-ramenya Program Inpres Desa Tertinggal (IDT) dulu, kelompok dibantu dengan kambing lalu setelah berkembang dana digulirkan sehingga seluruh anggota kelompok memliki ternak kambing secara pribadi.

Di plasma yang dikomandani Pak Munasir ini, kambing yang awalnya dibantu permodalannya oleh LSM Forum Warga, dipelihara secara bersama-sama. Dan warga atau anggota kelompok malah menggaduhkan (maro – coro jowone) kambing milik pribadinya untuk dikelola oleh kelompok. Dan ini ternyata efektif untuk membesarkan asset kelompok sekaligus mencegah terjadinya kemacetan modal seperti yang terjadi pada sistem guliran seperti IDT dulu. Jumlah kandang saat ini ada 10 kandang dengan total ternak mencapai 80 ekor. Sistem penggaduhannya juga cukup unik dan Islami. Contoh perjanjiannya adalah sebagai berikut :

PERJANJIAN PENGGADUHAN KAMBING

BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM

“Hai orang-orang yang beriman penuhilah akad – akad perjanjian itu”. “Cukupkanlah takaran jangan kamu menjadi orang-orang yang merugi”. (Surat Al Maa’idah, 1, Asy – Syu’ara, 181)

Perjanjian Pengelolaan Kambing Gaduhan ini dibuat dan ditandatangani pada hari ini, Sabtu, 29 September 2007 oleh dan antara:

III. PIHAK PERTAMA
Pihak pertama memberikan gaduhan kambing kepada pihak kedua seharga
1. 475.000.00,-
2. 650.000.00,-

IV. PIHAK KEDUA
A. Pihak kedua berkewajiban memelihara kambing gaduhan dengan penuh kasih sayang.
B. Pihak kedua berhak atas dua pertiga bagian dari keuntungan pemeliharaan.
C.Jika pihak kedua dalam memelihara kambing gaduhan kurang baik maka kambing yang sudah digaduhkan akan diambil oleh pihak pertama.

Dalam pelaksanaan perjanjian ini tidak di harapkan terjadinya hal-hal yang tidak di inginkan, dikarenakan dasar perjanjian ini adalah semata-mata karena Allah SWT. Namun apabila karena kehendak-Nya pula terjadi permasalahan kedua belah pihak setuju untuk menyelesaikannya secara musyawarah untuk mufakat. Demikianlah perjanjian ini di buat dan di tandatangani di Melikan Pada hari dan tanggal sebagaimana di cantumkan di atas.

 

KISAH PASUKAN VILLA DOMBA

Villa Domba punya pasukan? Pastinya yang dimaksud pasukan di sini adalah para warga sekitar yang terbiasa memasok rumput ke Villa Domba. Warga yang dengan setia mendatangi kandang dengan menyetor rumput demi sejumlah uang Rp. 200,- per Kg. Tanpa mereka pastinya Villa Domba akan kerepotan dalam pengadaan pakan ternak, dan berkat konsumen sekalian di mana mereka senantiasa dapat tersenyum ceria dalam menjual rumput untuk pakan ternak ke Villa Domba. Ucapan terimakasih Villa Domba kepada konsumen sekalian yang telah mempercayakan pengadaan ternak melalui Villa Domba: Aqiqah, Kurban, Syukuran, Pesta dan lainnya.

”Bang, punten, kalau bisa tolong dibantu untuk ongkos mobilnya kali ini, hasil ngarit kita tekor nih.” demikian ujian yang seringkali terjadi manakala musim kemarau berlangsung pada beberapa bulan ke belakang. Kisah berawal manakala para warga di desa lingkungan Villa Domba berinisiatif pergi mencari rumput ke wilayah Ciwidey dengan jarak tempuh kurang lebih 60 menit. Mereka bersepakat saling menyumbang untuk membayar sewa armada truk senilai Rp. 300.000,- dikarenakan rumput di sekitar desa semakin sulit didapat pada musim kemarau. Terkadang perjalanan ke lokasi sumber rumput bisa jadi lebih dari 60 menit apabila lokasi yang dituju sudah didahului peternak dari daerah lainnya sehingga mereka harus berjalan lebih jauh lagi.

Bila dalam 1 kali perjalanan armada truk diperoleh pendapatan rumput sebesar 2000 Kg maka uang yang bisa mereka peroleh adalah paling tidak Rp. 400.000,-. Setelah dipotong sewa truk maka tinggal tersisa Rp. 100.000,-. 1 kelompok warga umumnya dapat terdiri dari 5 s.d 6 orang di mana masing-masing akan mendapatkan Rp. 20.000,- per orang dari pembagian sisa uang Rp. 100.000,-. Kisah perjuangan para pasukan pencari rumput di Villa Domba mulai dari jam 10 pagi sampai dengan jam 7 malam. “Atuh mendingan ngarit rumput bang dan jual ke Villa Domba daripada menanam sosin mah, harganya lagi jatuh cuman dihargai Rp. 100,- per Kg, bisa-bisa lebih banyak ngutang ke bandar untuk beli pupuk.” ucap salah seorang anggota pasukan dengan nada memelas. Alhamdullilah musim hujan pun tiba dan menjadikan pasukan pencari rumput Villa Domba pun kembali ceria. Salam Peternak! Ciptakan senyum untuk Pasukan Pencari Rumput Villa Domba, Silahkan KLIK Link: http://dombagarut.blogspot.com/2008/10/bersiap-kurban-1429-h.html.

 

INDAHNYA NEGERIKU

Indahnya negeriku dengan adanya sinergi usaha antara sektor pertanian dan peternakan. Sebuah artikel menarik yang dapat penulis peroleh di mana semoga dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Amin. Bersumber dari web: http://www.kompas.co.id/.

Sabtu, 20 September 2008 21:28 WIB

Angin berembus tidak begitu kencang di bawah pohon kopi daerah pegunungan Busungbiu, perbatasan antara Kabupaten Buleleng dan Tabanan, menambah keakraban tiga-empat petani yang beristirahat setelah menikmati santap siang. Mereka beristirahat setelah membersihkan sela-sela tanaman kopi, berdiskusi kecil untuk bersama-sama mencari alternatif meningkatkan pendapatan, di tengah kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan, yakni semakin “meroketnya” harga-harga kebutuhan bahan pokok.

Petani dalam satu kelompok diskusi kecil yang berbeda latarbelakang agama dan kepercayaan, yakni Islam dan Hindu itu mengadakan dialog secara terbuka untuk pengembangan ternak kambing, sebagai alternatif meningkatkan pendapatan. Keinginan petani kopi di Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, 110 km barat laut Denpasar untuk mengembangkan ternak kambing mendapat respon positif dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bali dan Dinas Peternakan setempat, tutur Ketua MUI Bali Haji Ahmad Hasan Ali (75). Pria kelahiran Palembang, 19 Pebruari 1993 yang telah menetap di Bali hampir selama setengah abad itu merespon keinginan petani kopi untuk mengembangkan ternak kambing, karena usaha tersebut mempunyai prospek cerah.

Selain meningkatkan kesejahteraan petani, juga akan mampu menyediakan mata dagangan kambing dalam jumlah yang memadai yang selama ini selalu didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur maupun Nusa Tenggara Barat (NTB), terutama untuk memenuhi kebutuhan Idul Adha bagi umat Muslim setempat. Ir Suprio Guntoro dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali, segera melakukan penelitian terhadap kemungkinan pengembangan ternak kambing di sejumlah desa-desa di Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng. Penelitian yang dilakukan tahun 2004 itu menunjukkan, lahan di bawah tanaman kopi sangat baik untuk pengembangan ternak kambing yang sanggup meningkatkan pendapatan petani dua kali lipat setiap tahunnya, dibandingkan hanya membudidayakan kopi.

 

Melihat hasil penelitian tersebut, MUI Bali dengan dukungan Dinas Peternakan setempat langsung menggandeng Yayasan Sahabat Bali untuk membantu bibit ternak kambing guna dikembangkan masyarakat tani di bawah pohon kopi. “Keterpaduan pemeliharaan ternak kambing-kopi dirintis sejak awal 2005 yang ternyata telah mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, di samping lebih meningkatkan keakraban umat Islam-Hindu di Bali,” tutur pensiunan pegawai Bimas Islam Kanwil Departemen Agama Propinsi Bali itu. Suami dari Hj Ni Massalma yang tampak sehat bugar di usia senjanya itu, mengaku telah beberapa kali melihat dari dekat usaha peternakan kambing di bawah pohon kopi yang ditekuni ribuan petani Desa Sepang, Tista dan desa Sekitar Kecamatan Busungbiu.

 

Keterpaduan pemeliharaan kambing dan tanaman kopi yang dirintis petani Busungbiu sejalan dengan upaya MUI Bali mengembangkan dialog dan memantapkan kerjasama lintas agama, sebagai upaya memantapkan kerukunan yang selama ini mesra dan harmonis, hidup berdampingan satu sama lainnya. Agama Islam masuk wilayah Kabupaten Buleleng, bekas pusat ibukota Sunda Kecil yang wilayahnya meliputi Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, pada tahun 1587 dibawa oleh tiga orang umat Islam dari Jawa yang menjadi pengantar gajah hadiah Dalem Solo.

 

Pusat Islam tertua di Bali utara menurut Ketut Ginarsa dan Suparman Hs yang ikut menyusun buku sejarah masuknya agama Islam ke Bali, adalah Banjar Jawa yang kemudian menyebar ke daerah sekitarnya antara lain Pegayaman.

 

Berlipat Ganda

 

Ir Suprio Guntoro yang telah melakukan penelitian dan pengkajian terhadap keterpaduan pemeliharaan ternak kambing-tanaman kopi di Kecamatan Busungbiu mengatakan, selain meningkatkan keabraban petani juga mampu meningkatkan pendapatan berlipat ganda. Petani yang memelihara satu hektar tanaman kopi, awalnya hanya berpenghasilan Rp10 juta per tahun. Namun dengan memelihara sepuluh hingga 12 kambing induk pendapatannya bertambah menjadi Rp21 juta setiap tahunnya atau dua kali lipat.

 

Petani desa untuk meraup penghasilan yang lumayan besar itu tidak perlu susah-susah mencari hijauan pakan ternak untuk kambing piaraannya. Rumput yang tumbuh dan daun dadap sebagai tanaman peneduh menjadi makanan kambing sehari-hari. Kambing induk yang dipelihara itu setiap dua tahun mempunyai tiga anak, sehingga 12 ekor induk setiap tahun akan beranak 18 ekor. Setelah dipelihara delapan-sembilan bulan, laku seharga Rp 1 juta/per ekor. Kambing jenis peranakan ettawa (unggul) itu selain dagingnya gurih juga menghasilkan susu yang dapat memberikan nilai lebih. Dampak positif lainnya yang dapat dinikmati petani, adalah kemudahan tidak membeli pupuk untuk menyuburkan tanaman kopi, karena bisa memanfaatkan kotoran maupun air kencing kambing ternak piaraan.

 

Pemupukan lahan kopi seluas satu hektar, petani perlu pemeliharaan ternak kambing 10 hingga 12 ekor. Hal itu sudah dilakukan petani kopi di Desa Sepang dan Desa Tista. “Berkat keterpaduan pemeliharaan ternak kambing-tanaman kopi, sekaligus mampu meningkatkan populasi kambing di Bali,” tutur Guntoro. Populasi kambing di Bali tercatat 100.000 ekor, dinilai masih kurang, mengingat untuk memenuhi kebutuhan masih didatangkan dari daerah tetangga Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat. Pengembangan ternak kambing menurut Kepala Dinas Peternakan Propinsi Bali Ir Ida Bagus Ketut Alit, hanya dilakukan di daerah-daerah tertentu, berbeda halnya dengan pemeliharaan babi dan sapi yang hampir merata di pelosok pedesaan Bali.

 

Ke depan pengembangan ternak kambing perlu lebih diintensifkan minimal mampu memenuhi kebutuhan lokal maupun persediaan matadagangan antarpulau. Program keterpaduan itu kini dikembangkan dengan sasaran lebih luas yakni pengembangan ternak sapi, kambing dengan seluruh komoditi pertanian maupun perkebunan, sebagai upaya mewujudkan pembangunan pertanian ramah lingkungan. Untuk menyuburkan lahan petani tidak lagi tergantung pada pupuk urea, namun bisa memanfaatkan limbah kotoran dari ternak serta menggunakan pembasmi hama secara alami, ujar Guntoto. (ANT)
KLIK pula:
http://www.banyuwangionline.com/berita/ekonomi_bisnis_dan_keuangan/kopi_kotoran_kambing_kurangi_beban_petani_kop.html: Mahalnya harga pupuk non organic yang kian hari membuat petani sengsara karena nilai beli melambung tinggi, ternyata membuat petani kopi Kelurahan Gombengsari Kecamatan Kalipuro Banyuwangi sadar memanfaatkan pupuk sekitar kebun kopi. Salahsatu contoh agar tanaman kopi tetap diberi pupuk tanpa tergantung kepada pupuk non organic yang harganya mahal serta susah dijangkau petani, warga kelurahan Gombeng memanfaatkan kotoran kambing pelihaharaan yang diternak secara tradisional dan mayoritas warga Gombengsari menekuni wira usaha ternak kambing. Ternyata kotoran kambing dijadikan pupuk kandang untuk merawat tanaman kebun kopi Sunrise yang dimiliki warga.
Bagaimana dengan tanaman Kopi di Villa Domba?

Alhamdullilah, tanaman Kopi yang Kami tanam secara tumpang sari dengan tanaman Vanilla di Villa Domba dan mendapatkan pasokan pupuk dari usaha peternakan domba yang Kami kembangkan kembali memunculkan bunga setelah produksi (panen) beberapa bulan lalu. KLIK Video: http://www.youtube.com/watch?v=nWCuvPHQY6k.

 

SENYUM SI DEDEN, WANDI& CHEPI

”Kang, bisa tidak kita ajak anak-anak desa untuk tampil pada acara Cita-Citaku di mana mereka dapat berinteraksi dan beraktivitas dengan hewan ternak domba!” tanya mba Melly dari Trans 7 yang meliput acara Cita-Citaku. Alhamdullilah, suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi Villa Domba tentunya atas perhatian yang kembali diberikan oleh Trans Corp terkait upaya penanaman kecintaan hewan ternak pada anak dari sejak dini. Alhamdullilah, anak-anak desa di lingkungan Villa Domba pun kembali dibuat tersenyum dengan kehadiran Trans Corp. Tidak sekedar bersekolah, mengarit rumput dan bermain di mana kini mereka pun dapat bergembira dengan berkesempatan tampil di tv. Bravo Trans Corp!

Tampak gambar di atas adalah anak-anak desa di lingkungan Villa Domba yang tengah bersiap kegiatan pengambilan gambar acara Cita-Citaku. Diantara mereka ada yang telah terbiasa mengarit rumput untuk Villa Domba sembari bersekolah ataupun orangtuanya sebagai pemasok rumput di Villa Domba selain bertani. Suasana pengambilan gambar pun berlangsung dengan penuh keceriaan. Bahkan agar lebih akrab maka sengaja tim liputan Trans 7 bermain bersama dengan anak desa di lahan penggembalaan Villa Domba, KLIK: http://www.youtube.com/watch?v=RrYInkjjXA8.

Adalah Deden, Wandi dan Chepi, trio anak desa yang tinggal di sekitar lingkungan Villa Domba di mana tampil menjadi bintang pada acara Cita-Citaku. Ketiganya merupakan anak-anak yang selama ini setia menjual rumput ke Villa Domba bersama keduaorangtuanya sebagai salah satu mata pencaharian. ”Uang hasil ngaritnya biasa saya tabung, Alhamdullilah jumlahnya pernah sampai seratus lima belas ribu (Rp.115.000,-)!” ucap Chepi. Malang bagi Chepi, uang hasil ngarit yang sudah dikumpulkannya dengan susah payah ternyata harus hilang bersama celengan di rumahnya. ”Saya taruhnya sembarangan.” ucap Chepi lirih. Jumlah uang yang mungkin untuk ukuran kehidupan kota dapat langsung habis hanya dengan 19 liter bensin, belanja di mall sembari nonton ataupun makan di restoran, akan tetapi tidak bagi Chepi, artinya bila harga rumput di Villa Domba adalah Rp. 200,- per Kg maka paling tidak Chepi harus mengarit rumput lebih dahulu sebanyak 575 Kg! Dan bila kemampuan anak seusia Deden, Chepi dan Wendi hanya sanggup mengarit rumput sebanyak 20 Kg sehari, paling tidak perlu waktu 1 bulan untuk mengumpulkan uang sebanyak itu! Dan itupun dengan catatan bila mereka tidak menggunakan uangnya selama 1 bulan! Sungguh bahagia melihat si Deden tampil tersenyum di depan kamera. ”Anaknya pemberani dan tidak canggung kang!” komentar mba Melly dan mba Syarah manakala penulis mengajukan si Deden untuk tampil di acara Cita-Citaku. ”Halo teman-teman, nama saya Muhammad Deden Sulaiman!” ucapnya bangga dan penuh percaya diri di depan kamera.

Tidak hanya aktivitas peternakan di Villa Domba, Deden, Wandi dan Chepi pun terlibat dalam aktivitas pertanian organik. Tampak gambar di atas manakala trio anak desa ini terlibat dalam kegiatan pemanfaatan kotoran ternak domba sebagai bahan baku pupuk organik untuk tanaman. Tidak ketinggalan pemanfaatan urine domba sebagai bahan baku pupuk cair. ”Ingat bang, kebahagiaan yang dapat kita beri kepada mereka adalah Insya Allah berbalas doa.” teringat pesan yang selalu disampaikan oleh sang penggagas Villa Domba kepada penulis manakala penulis melihat keceriaan anak-anak desa bersama tim Cita-Citaku Trans 7.

Paling mengharukan adalah ketika penulis bersama tim Cita-Citaku Trans 7 berkunjung ke salah satu rumah penduduk yang anaknya akan berpartisipasi pada kegiatan syuting di Villa Domba, adalah Wandi anak dimaksud, kakek si Wandi seolah tidak yakin bila cucunya akan tampil di acara televisi. KLIK Video: http://www.youtube.com/watch?v=xfu85cErzNY. ”Dulu papah terlahir hanya dari anak seorang pedagang buah serta anak tukang tempe bang! Jangan pernah lupa untuk saling berbagi bersama walaupun hanya sedikit!” pesan yang selalu disampaikan pula oleh sang penggagas Villa Domba kepada penulis. Bravo Trans Corp! Optimis bilamana kebangkitan usaha ternak dan pertanian organik di Indonesia akan segera tiba! Amin.

Chepi pun kembali tersenyum, sebagai hasil jerih payahnya selama 3 (tiga) hari syuting di Villa Domba bersama Trans 7 maka ia pun mendapatkan uang yang pastinya bisa sebagai pengganti uang tabungan ngaritnya yang hilang! Alhamdullilah, bentuk pertolongan Allah SWT yang datangnya bisa dari mana saja untuk ujian yang dialami oleh Chepi. Ucapan terimakasih kepada tim Cita-Citaku Trans 7, Bravo Trans Corp! Silahkan KLIK Video Youtube Senyuman Chepi di Villa Domba: http://www.youtube.com/watch?v=roKRipVyzcw. Tampak gambar kanan adalah keseharian Chepi yang terbiasa memasok rumput untuk Villa Domba bersama ayahnya. Bagi para pembaca Blog yang ingin berbagi senyuman dengan si Deden, Wandi ataupun Chepi serta anak-anak desa lainnya di lingkungan tempat Villa Domba berada maka semoga berkenan kiranya KLIK Link berikut: http://dombagarut.blogspot.com/2008/10/bersiap-kurban-1429-h.html

 

LAMUNAN BOSS TONY(2)

Semoga boss Tony berkenan bilamana penulis tetap bermimpi seiring dengan lamunannya: Waduh boss? 750 ekor domba muda per bulan? Alhamdullilah, siap boss dan kenapa tidak? Mari kita mulai bermimpi boss! Prosesnya kita awali dengan memelihara induk domba betina yang bisa melahirkan anak sebanyak 750 ekor per bulan. Setelah coba dibuat proyeksi di mana dengan kondisi kehamilan induk domba betina selama 5 bulan, istirahat kawin induk selama 1 bulan dan usia penjualan anak yaitu pada umur 5 bulan maka dibutuhkan paling tidak sebanyak 2220 ekor induk domba yang terbagi dalam 6 kelompok kawin ternak, tiap kelompok kawin ternak adalah sebanyak 370 ekor tiap bulan. Ini pun dengan catatan tiap ekor induk domba melahirkan rata-rata 2 ekor anak dan tidak berhitung kewajiban seleksi bibit anak lahir. Untuk menghindari ekonomi biaya tinggi khususnya dalam hal pakan, 2220 ekor induk domba di mana saya berharap boss tidak memeliharanya seorang diri, mitrakan boss ke peternak rakyat sebagai plasma, bila 1 peternak rakyat oleh boss dimitrakan 5 ekor induk maka boss sudah memberikan secercah kehidupan pada 444 orang peternak rakyat!

Boss, andaikan 1 kelompok kawin ternak di atas dipelihara dalam 1 desa pada suatu kecamatan. Berarti akan ada 6 desa dalam 1 kecamatan mendapatkan peluang pengembangan usaha ternak domba! Dan bila 1 desa mendapat 370 ekor Induk Domba, dengan tiap-tiap peternakan rakyat diberikan kepercayaan 5 ekor induk domba maka itu berarti akan ada 74 kepala keluarga terbantu oleh boss pada suatu desa! Amin boss, Insya Allah akan banyak doa untuk boss! Seiring dengan tugas dari boss besar untuk membuka Warkima (Warung Kaki Lima) menu domba maka bila outletnya bermaksud dibuka di 5 kota, Jakarta, Bandung, Bekasi, Subang dan Bogor, sumber ternaknya mungkin cukup dari 6 desa pada 1 kecamatan saja boss pada suatu wilayah. Nah kembali bahasa gaulnya bilang mah Village Breeding Centre. Punten dikoreksi bilamana salah. Kemudian agar lebih mantap disamping memberikan kepercayaan pada masyarakat untuk memelihara ternak yang boss miliki, bantu mereka dengan bibit rumput boss! Bila pada 1 desa terdapat 370 ekor induk domba maka paling tidak 3 ha lahan mohon dapat disediakan untuk menanam rumput, lebih murah boss dan tidak akan sengsara saat musim kemarau tiba! Tetap sependapat boss, boss hendaknya ditunjang oleh sdm yang handal di sini khususnya sektor hulu dalam hal produksi. Kalau berbicara sektor kemasan hilirnya dari bincang-bincang dengan banyak senior kuliner di mana tidaklah sesulit hulunya. Demikian impian saya boss! Mohon dapat dimaklumi bilamana ada kekeliruan dalam bermimpi dan Insya Allah Saya akan tetap semangat dalam bermimpi! Salam Peternak!

 

TENTANG BALERANG

Semoga masih melekat pada pembaca Blog sekalian tentang posting penulis terdahulu bersumber dari: http://web.bisnis.com/sektor-riil/agribisnis/1id61446.html, PT Balerang Livestock Centre (BLC) berencana kerja sama dengan Al-Jabri Company untuk pemasokan 1 juta ekor kambing di Saudi Arabia. Presdir BLC Tjetty dijadwalkan akan menandatangani nota kesepahaman dengan Syaikh Sulaiman AlJabri, Presiden Direktur Al-Jabry. “Mereka sudah meninjau ke tempat kami di Indonesia setahun lalu,” ujar Tjetty kepada Bisnis sebelum acara Pertemuan Tahunan ke-33 Dewan Gubernur Bank Pembangunan islam (IDC). BLC merupakan perusahaan niaga yang berbasis di Batam. Di perushaan ini, Sudomo, mantan menteri di era Orde Baru, tercatat sebagai komisaris utama, sementara Alwi Shihab sebagai penasihat senior BLC. Tjetty menyatakan rintisan kerja sama tersebut tidak terlepas dari peran Alwi Shihab. “Pak Alwi juga mengupayakan agar IDB ikut membantu kerja sama dan investasi nantinya,” ujarnya. Menurut Tjetty, Al Jabri merupakan perusahaan yang berbasis di Jeddah dan selama ini membutuhkan pasokan sedikitnya 5 juta ekor domba dan kambing setahun. Jabri memiliki tujuh unit kapal pengangkut ternak masing -masing berkapasitas 250.000 ekor. Perusahaan yang berbasis di Jeddah ini mengimpor domba dan kambing dari Somalia dan Uruguay. “Pengangkutan dari Uruguay butuh waktu 28 hari. Dari Batam cukup 21 hari. Indonesia juga memiliki banyak populasi domba dan kambing untuk dikirim,” ujarnya. BLC menjalin kerja sama denga Balai Penelitian Ternak Departemen Pertanian, dan pada tahun lalu mulai merintis investasi di Batam senilai Rp500 miliar. Sementara ini, pengadaan kambing dan domba dipasok dari sejumlah daerah di Jawa, Lampung, Nusa Tengggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. “Kami tengah menyiapkan breeding di Batam. Mereka juga menyiapkan investasi, termasuk untuk pengembangan pertanian yang terintegrasi,” ujarnya. (tw)

Alhamdullilah, perjumpaan penulis dengan salah seorang senior dalam bidang peternakan yaitu Dr. M. Winugroho, APU dari Balai Penelitian Ternak, Balitnak, Bogor sewaktu penulis membawakan presentasi tentang organisasi HPDKI pada International Goat Conference di Bogor beberapa bulan lalu tetap berlanjut. Berikut salah satu Email dari beliau yang penulis terima: InsyaAllah pak Agus. Mohon buka http://blc-batam.com/index.html, disitu kami coba untuk melihat permasalahan sakado Indonesia dari sisi yang lain yang mudah2an manfaat. Saran konstruktif kami butuhkan. Keep in touch, Wassalam, Win. Semakin lebih menarik lagi untuk KLIK Web. http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/industri/1id74084.html: Winugroho menjelaskan kapasitas produksi kambing dan domba di Indonesia sekitar 24 juta ekor yang setara dengan kapasitas produksi di Australia. “Tapi, kenapa Australia berhasil melakukan ekspor ke berbagai negara, sedangkan kita tidak? Itu disebabkan oleh manajemen dan teknologinya belum memadai.” Untuk itu, lanjutnya, bantuan berupa kambing dan domba serta dukungan dana dari Kerajaan Arab Saudi diharapkan akan memperbaiki sistem peternakan kambing dan domba di Indonesia. “Saya yakin setelah tiga tahun mengembangkan peternakan dan penggemukan, peternak Indonesia mampu mengekspornya ke berbagai negara,”ungkapnya. Utusan Khusus Indonesia untuk Timur Tengah Alwi Shihab mengatakan kerja sama dengan pesantren itu menggunakan sistem syariah. Nantinya induk kambing yang telah melahirkan dikembalikan kepada pemilik (perusahaan). Kemudian pemilik dan penerima akan berbagi hasil 50%:50%. “Kerja sama ini akan terus dikembangkan.”

 

SAVE BAKSIL

Sebuah posting yang penulis terima dari salah seorang senior penulis dalam bidang perdombaan dan bidang pengembangan masyarakat terkait pertanian serta peternakan, Bp. Imam Soeseno. Posting tentang sebuah artikel dari harian umum Kompas terkait rencana perubahan kawasan Babakan Siliwangi (Baksil) untuk tujuan komersial, yaitu untuk hotel atau rumah makan. Berikut artikelnya: Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) Jawa Barat menentang perubahan kawasan Babakan Siliwangi (Baksil) untuk tujuan komersial, yaitu untuk hotel atau rumah makan. Perubahan kawasan Baksil dikhawatirkan akan mematikan pertunjukan seni adu domba. Menurut Ketua HPDKI Jawa Barat Yudi Guntara di Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Minggu (5/10), Baksil adalah cikal bakal tempat pertunjukan seni adu domba di Jabar dan saat ini masih digunakan secara rutin. Ia mengatakan, Baksil pertama kali digunakan untuk adu ketangkasan sekitar tahun 1960 saat Kota Bandung dipimpin Husein Wangsaatmadja. Saat itu kawasan Baksil disediakan sebagai sarana memelihara seni adu domba khas Jabar. “Kalau nanti dijadikan kawasan komersial, saya khawatir sarana adu domba juga akan dihilangkan. Dari Baksil, adu domba Jabar ini terus berlangsung sampai sekarang. Pertunjukan bisa melibatkan ratusan peternak dan domba,” kata Yudi. (CHE)

Respond penulis: Sangat disayangkan bilamana kawasan Babakan Siliwangi harus berubah total 100% menjadi kawasan komersial untuk hotel dan rumah makan, terlebih di kawasan tersebut juga terdapat lapangan untuk seni ketangkasan domba! Apa tidak bisa disinergikan? Hotel dan rumah makan adalah bagian dari pariwisata, dan setahu saya di mana seni ketangkasan domba pun adalah bagian dari wisata! Utamanya, Babakan Siliwangi adalah ruang publik di mana masyarakat dapat berkumpul dan menikmati sesuatu yang sudah sangat serta semakin jarang ditemukan dalam kehidupan kota, keharmonisan dan keindahan alam! Babakan Siliwangi ibarat stadion wembley nya sepakbola bagi bobotoh seni tangkas di mana saya pernah merasakan atmosfernya sewaktu liputan bersama trans7. Bahkan terimpikan dalam diri saya bila dibuat semacam acara televisi dengan tema gelar seni tangkas Domba Garut yang akan memancing ketertarikan masyarakat untuk mengetahui lebih jauh terkait salah satu budaya masyarakat Jawa Barat ini! Menunggu instruksi para senior!

Tidak sendiri, http://savebabakansiliwangi.wordpress.com: Sampurasun, Teman-teman yang baik, pada hari Senin 22 September 2008 pukul 22:55, petisi online Save Babakan Siliwangi (http://www.petitiononline.com/baksil) telah mencapai 4000 pengisi, suatu hal yang luar biasa, mengingat petisi ini baru dibuat 12 hari sebelumya (pada hari Rabu 10 September 2008 pukul 23:12). 4000 pengisi dalam 12 hari saja bisa dibilang sebagai sebuah pencapaian yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya, bahkan dalam lingkup pengguna internet dari Indonesia. Petisi ini akan terus dibuka sampai pada saatnya sudah dirasa cukup. Sementara, 4000 isian yang telah ada ini akan segera di print (tanpa menyertakan alamat email pengisi karena menyangkut privasi) dan di lampirkan pada dokumen-dokumen yang akan dimanfaatkan oleh teman-teman dari Masyarakat Peduli Babakan Siliwangi serta komunitas dan rekan-rekan aktivis terkait untuk membantu dalam perjuangan mempertahankan kondisi Babakan Siliwangi sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan Ruang Publik yang bisa diakses oleh masyarakat secara terbuka. Mungkin banyak yang mempertanyakan, validitas dan pengaruh nyata petisi ini di mata pihak-pihak tertentu. Perlu ditekankan bahwa aktivitas pencatatan dilakukan secara independen melalui situs http://www.petitiononline.com, dan sedikit banyak petisi ini telah menampung aspirasi publik dari berbagai kalangan. Selain itu, dampak nyata yang telah terlihat adalah penyebaran “awareness” atau penyadaran publik lintas lokasi, komunitas, profesi, kota, regional, nasional dan internasional melalui media internet. Harapannya adalah, petisi ini kemudian bisa membuka perhatian dari berbagai pihak yang selama ini memandang sebelah mata, selain juga mendorong lahirnya kesadaran dan simpati publik terhadap hidup mati Babakan Siliwangi, serta ruang terbuka hijau lainnya di kota Bandung. Demikian tulisan ini saya sampaikan, hatur nuhun bagi teman-teman yang telah bersedia untuk mengisi petisi ini. Ryan Koesuma (Forum Masyarakat Perduli Babakan Siliwangi). Email. http://deathrockstar.info.

 

DIBALIK MATA DOMBA

“Gampang bang kalau mau tahu dombanya sudah sering beranak atau belum? Bisa dilihat dari gigi untuk usia dan juga kelopak mata!” ucap kang Diman salah satu pekerja di Villa Domba kepada penulis. Percaya tidak percaya karena penulis cukup kesulitan dalam mencari penjelasan ilmiahnya. “Kalau domba sudah sering melahirkan pasti kelopak matanya tebal!” lanjutnya kepada penulis. “Ibarat mata cerah seorang dara.” sembari tersenyum kang Diman kepada penulis. Ilmu baru bagi penulis dalam dunia perdombaan.

Saking penasarannya maka penulis pun coba membandingkan kelopak mata domba betina mulai dari usia tua hingga dara. Tapi tetap masih penasaran diri penulis karena belum menemukan penjelasan ilmiahnya pada domba! Sebuah artikel menarik di mana penulis peroleh dari web http://cyberwoman.cbn.net.id/: Masalah penuaan mata lain adalah keriput di ujung mata, biasa disebut crow’s feet, atau keriput lain dan lingkaran hitam di seputar mata. Penuaan di mata pada dasarnya dipengaruhi oleh faktor lingkungan. “Sebenarnya itu alami terjadi, tetapi masalah kantong mata dan mata jadi terlihat cepat tua dipengaruhi gaya hidup dan lingkungan. Hidup hendaknya sehat dan selaras, tidak sering stres supaya tidak cepat tua. Hindari sering terkena paparan sinar matahari karena memengaruhi cepatnya terjadi penuaan,” ucap Dr. Teddy. Gejala penuaan pada domba sama dengan manusia?

 

LAMUNAN BOSS TONY

Sebuah respond atas postingan penulis pada Multiply dari boss Tony sebagai senior penulis dalam bidang usaha perdombaan, perkambingan dan persapian: “Saya di beri tugas untuk membuka tempat jualan makanan euy. Tapi syaratnya dari hulu ke hilir harus berasal dari satu sumber. Kalau Mie KOCLOK ada kandungan produk hulu nya mungkin bisa kita pikirkan Boss. Yang baru kepikir mah bikin warkima (warung kaki lima) sate, kambing guling, steak kambing, sop kambing, dengan harga kaki lima, rasa bintang lima. Saumpamana we lah ieu mah Juragan, buka 5 warung kaki lima di satu kota, maka untuk Jakarta – Bandung – Bekasi – Subang – Bogor, maka jumlahnya 25 warung kaki lima, kalau setiap warung mengkonsumsi satu ekor kambing balibul, maka sapoe teh meuncitan 25 ekor kambing sayur balibu, sabulan 750 ekor, da se’ep atuh gagaduhan Juragan Vila Domba dalam waktu sebulan. Lamun teu laku mah pulangkeun deui we ka kandang masing2, untuk di gemukan lagi walaupun telah di peuncit, — namanya juga ngalamun Boss. Masalah yang saya hadapi adalah mencari SDM yang mumpuni. Ada ide lain Boss, yang bisa saya pikir kembangkan.”

Berikut jawaban Penulis: Boss, apa yang boss pikir saat sekarang ini untuk membuka warkima menu domba adalah yang sedang jadi impian saya juga saat sekarang ini. Punten karena dalam rangka brand image maka pastinya saya lebih sreg menyebutnya dengan warkima domba!He3x…..Masih dalam tahap research dan muka tebal untuk bertanya sana-sini dengan para senior kuliner yang ada, sebuah link bermanfaat diberikan oleh pak Bondan kepada saya boss: http://dombrut.blogspot.com/2008_03_01_archive.html. Waduh boss? 750 ekor domba muda per bulan? Alhamdullilah, siap boss dan kenapa tidak? Mari kita mulai bermimpi boss! Prosesnya kita awali dengan memelihara induk domba betina yang bisa melahirkan anak sebanyak 750 ekor per bulan. Setelah coba dibuat proyeksi di mana dengan kondisi kehamilan induk domba betina selama 5 bulan, istirahat kawin induk selama 1 bulan dan usia penjualan anak yaitu pada umur 5 bulan maka dibutuhkan paling tidak sebanyak 2220 ekor induk domba yang terbagi dalam 6 kelompok kawin ternak, tiap kelompok kawin ternak adalah sebanyak 370 ekor tiap bulan. Ini pun dengan catatan tiap ekor induk domba melahirkan rata-rata 2 ekor anak dan tidak berhitung kewajiban seleksi bibit anak lahir. Untuk menghindari ekonomi biaya tinggi khususnya dalam hal pakan, 2220 ekor induk domba di mana saya berharap boss tidak memeliharanya seorang diri, mitrakan boss ke peternak rakyat sebagai plasma, bila 1 peternak rakyat oleh boss dimitrakan 5 ekor induk maka boss sudah memberikan secercah kehidupan pada 444 orang peternak rakyat!

Bahasa gaulnya bilang mah Village Breeding Centre di mana untuk teknis perkawinannya nanti agar tidak ribet di mana boss bisa coba gunakan yang namanya teknologi sinkronisasi birahi dan penggunaan semen beku cair! Jangan kalah dengan pak Mistar yang sedang rajin bermimpi pada berita Cirebon! Kumaha boss? Setuju boss, boss hendaknya ditunjang oleh sdm yang handal di sini khususnya sektor hulu dalam hal produksi. Kalau berbicara sektor kemasan hilirnya dari bincang-bincang dengan banyak senior kuliner di mana tidaklah sesulit hulunya. Demikian impian saya boss! Mohon dapat dimaklumi bilamana ada kekeliruan dalam bermimpi! Salam Peternak!

 

SERTIFIKASI DOMBA GARUT

Sebuah SMS diterima oleh penulis yang datangnya dari kang Krisna selaku personil lapangan tim sertifikasi Domba Garut gabungan Fakultas Peternakan Unpad dan Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia. Adapun SMS dimaksud adalah terkait Sertifikasi Domba Garut di Villa Domba yang merupakan kali yang kedua. Ucapan permohonan maaf penulis di mana beritanya baru dapat diposting saat ini.

Tampak gambar di atas adalah pelaksanaan kegiatan sertifikasi Domba Garut di lahan perkebunan organik dan peternakan Villa Domba. Standar yang digunakan adalah mengacu pada hasil penelitian dari salah seorang senior penulis dalam ilmu perdombaan yaitu Bp. Denie Heriyadi, dkk (2003), pengukuran indeks rangka tubuh Domba Garut berdasarkan panjang badan, lingkar dada, tinggi pundak dan lebar dada. Informasi lebih lanjut tentang Sertifikasi Domba Garut silahkan pembaca untuk KLIK Link Berikut ini:

http://blogs.unpad.ac.id/domba_kambing/?p=13.

Informasi VD Training Camp:

Alhamdullilah, setelah beristirahat selama bulan Ramadhan maka VD Training Camp kembali akan diselenggarakan oleh Villa Domba pada sisa tahun 2008 ini. Informasi Pendaftaran, Biaya, Materi dan Jadwal Pelaksanaan Pelatihan dapat menghubungi: agusramadas@yahoo.co.id, HP. 0815.941.3826. Insya Allah VD Training Camp akan membantu pembaca Blog sekalian dalam upaya meningkatkan kemampuan teknis lapangan terkait pemeliharaan ternak domba. Training ini lebih berorientasi pada praktik lapangan sehingga sangat dianjurkan bagi calon pekerja ataupun pekerja dari pembaca Blog sekalian selama 7 (tujuh) hari di Villa Domba.
Informasi Bibit Domba Betina:

Insya Allah Villa Domba siap dalam pengadaan bibit Domba Garut Betina bagi para pembaca Blog sekalian yang berminat. Harga bibit Domba Garut Betina adalah mulai Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah) per ekor belum termasuk ongkos kirim, bibit Domba Garut Betina adalah sudah dalam keadaan hamil (bunting). Penentuan harga jual bibit yang Kami tetapkan saat ini adalah berdasarkan acuan standar indeks rangka tubuh hewan ternak Domba Garut, artinya semakin besar ukuran tubuh Domba Garut maka harga yang Kami tetapkan dapat di atas Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah). Informasi lebih lanjut dapat menghubungi: 

 

TENTANG DOMBA SAYUR

Sebuah pertanyaan belum lama ini diajukan kepada penulis tentang apa yang dimaksud dengan domba sayur? Semoga penjelasan ini dapat memberikan manfaat sebagai hasil obrolan penulis selama ini dengan para pedagang senior domba di pasar hewan, bandar dan pengumpul termasuk peternak tradisional. Ucapan permohonan maaf bilamana ada kekeliruan dan mohon saran, kritik serta masukan. Domba Sayur sebenarnya hanya sebuah istilah yang berlaku dikalangan dunia perdombaan sebagai julukan untuk domba yang memiliki kuping panjang. Bahasa gaulnya di lapangan menyebutnya dengan Kuping Jablai. Konon dahulunya domba ini berkuping pendek namun karena perkawinan yang tidak terseleksi olehkarenanya berkuping panjang.

Standar sertifikasi Domba Garut sebagaimana yang selama ini penulis peroleh informasinya sebenarnya memperbolehkan kuping panjang asalkan tidak melebihi 8 cm. Bahasa gaulnya di lapangan menyebutnya dengan Kuping Daun Hiris. Silahkan KLIK, http://blogs.unpad.ac.id/domba_kambing/?p=3: Kriteria inklusi untuk Domba Garut haruslah memiliki ciri khas kombinasi antara ekor yang berbentuk segi tiga terbalik (ngabuntut beurit atau ngabuntut bagong) dengan bentuk kuping yang rumpung/rudimenter (<>

Believe it or not! Hasil pantauan penulis di lapangan terhadap keberadaan Domba Jablai ini ternyata memang tidak memiliki mahkota tanduk yang seindah dan seaduhai Domba Garut. Tingkat agresif dan berat tubuhnya pun tidak sedasyat Domba Garut Jantan yang tampil gagah dengan performance rangka tubuhnya, mungkin karena kondisi ini maka dijuluki domba sayur, olehkarenanya kembali ditetapkan pula standar sertifikasi Domba Garut berdasarkan indeks rangka seperti panjang badan, lingkar dada, tinggi pundak dan lebar dada. Prinsipnya tidak perlu khawatir, untuk pasar di luar penghobi ataupun di luar domba tangkas di mana domba sayur ini sebenarnya tetap memiliki nilai jual, misalnya untuk akikah, kurban ataupun konsumsi daging harian. Namun akan ditolak mentah-mentah apabila domba berkuping jablai ini misalnya ditawarkan ke penghobi Domba Garut ataupun penggemar domba tangkas! Coba mengawinkan domba berkuping panjang dengan domba berkuping pendek? Misalnya untuk perbaikan genetik? Nah bila kondisi ini yang coba dilakukan umumnya hasilnya nanti akan bergantung pada faktor genetik mana yang lebih kuat dan dominan di mana bukan waktu yang sebentar tentunya terkait upaya pemuliaan. Bisa saja dan mungkin terjadi kupingnya pendek ala Garut akan tetapi ukuran rangkanya sayur? Kenapa tidak memperbanyak Domba Garut murni sekalian saat awal beternak! Toh makannya sama-sama rumput? Semoga bermanfaat! Ucapan permohonan maaf bilamana ada kekeliruan dan mohon saran, kritik serta masukan.
KLIK:
Sahara Sadulur Terjun ke Ternak Domba Tangkas
DARI segi postur tubuh, domba tangkas jauh lebih besar daripada domba sayur. Pertimbangan inilah yang mendorong peternak domba sayur untuk banting setir menjadi peternak domba tangkas. Salah satunya H. Pandi Sadulur, peternak domba yang tinggal di bilangan Porib (Caringin) Bandung. H. Pandi bersama Denny Sahara, H. Wawan, H. Harris, H. Agus, dan H. Lili sepakat membentuk perkumpulan peternak dengan nama HPDKI Sahara Sadulur yang bermarkas di Jln. Caringin Dalam (Porib) Bandung.”Dilihat dari segi postur tubuh, domba tangkas lebih besar daripada domba sayur. Apalagi kalau domba tangkasnya memenuhi kriteria kejuaraan, jelas harganya jauh lebih mahal. Dengan demikian, beternak domba tangkas jauh lebih menguntungkan daripada domba sayur. Hal itulah yang mendorong saya untuk berpindah pegangan dari beternak domba sayur menjadi domba tangkas,” ujar H. Pandi didampingi Denny Sahara. Tekad mereka untuk mengembangbiakkan domba tangkas semakin menggebu setelah hadir di pamidangan. Di sana, mereka bisa melihat domba tangkas dengan bentuk tanduk dan postur tubuh yang beragam, namun sangat unik.
Setelah kepincut, mereka nyaris tak pernah absen menghadiri berbagai pintonan di setiap pamidangan. Bahkan, Denny saparakanca bertekad suatu waktu koleksi dombanya ada yang mampu bertengger di kelas papan atas. Untuk itu, mereka terus belajar tentang tata cara merawat domba tangkas. Mulai dari memilih bibit unggulan, pemberian pakan, hingga melatih domba. Kini, para pendatang anyar di tubuh HPDKI Kota Bandung itu telah mengoleksi sekitar 39 ekor domba. Di antaranya 20 ekor domba siap tanding. Sederetan domba yang siap menyemarakkan pentas ketangkasan itu di antaranya “Sahara”, “Wisnu”, “Panji”, “Gobi”, “Sumpit”, dll. Bagi Denny, deretan nama itu semuanya merupakan domba andalan yang diharapkan bisa menyabet gelar juara. Atau setidaknya mampu menapaki domba papan atas yang menjadi langganan juara. (ayep setiaji)**
Diposkan oleh Agus Ramada di 08:27 0 komentar

 

JUS DAUN PEPAYA

Jus daun pepaya? Kenapa kok daunnya yang dibuat jus? Pastinya bagi hewan ternak domba di mana jus yang terbuat dari daun pepaya adalah juga bermanfaat sebagai obat tradisional untuk pencegahan dan pengobatan penyakit cacing. Tidak sekedar untuk membuat empuk daging! Apakah bisa juga diterapkan pada manusia? Semoga informasi berikut dapat memberikan manfaat, http://cybermed.cbn.net.id:

Setiap bagian dari tumbuhan pepaya memiliki khasiat. Bahkan, getah pepaya yang terdapat di seluruh bagian tanaman, mulai dari buah, daun, batang, sampai akarnya, bersifat antitumor dan kanker. Ini karena lebih dari 50 asam amino yang terdapat di dalamnya. Buah pepaya memiliki kadar serat yang tinggi. Itu sebabnya saat mengalami sulit buang air besar, pepaya adalah buah yang pas untuk dikonsumsi. Tentu, khasiat pepaya tak hanya pada buahnya saja. Linda misalnya. Ibu rumah tangga yang tinggal di Jakarta ini pernah membuat ramuan alami untuk mengatasi gejala cacingan pada anaknya yang berusia 3 tahun dengan memanfaatkan akar kering pepaya dicampur dengan bawang putih. Hasilnya tak kalah dengan obat cacing yang banyak dijual di toko. Munaroh, juga ibu rumah tangga, pernah merasakan manfaat daun papaya untuk menambah nafsu makan anaknya yang sempat menurun setelah sakit. Hasilnya lumayan, berkat ramuan daun pepaya segar seukuran telapak tangan, sedikit garam, dan air hangat setengah cangkir yang kemudian diblender dan disaring guna diambil airnya untuk diminumkan, nafsu makan anaknya jadi bertambah.

Tampak gambar di atas di mana adik penulis tengah meracik obat cacing tradisional berbahan baku daun pepaya. Caranya sama seperti yang dilakukan oleh Ibu Munaroh, daun pepaya segar seukuran telapak tangan, sedikit garam, dan air hangat setengah cangkir yang kemudian diblender dan disaring guna diambil airnya untuk diminumkan, akan tetapi yang bertambah bukan nafsu makan anak ya melainkan nafsu makan domba terkait ramuan yang dibuat oleh adik penulis. Silahkan KLIK Video, Ramuan Daun Pepaya untuk Domba: http://www.youtube.com/watch?v=vMlm6vX3vj0. Kemudian KLIK Video Youtube tentang pemberian Jus Daun Pepaya pada Domba: http://www.youtube.com/watch?v=ytP76bfau1s.

Diposkan oleh Agus Ramada di 08:22 0 komentar

 

OLEH-OLEH BOSS TONY

Pembaca Blog sekalian, ulasan berikut adalah tentang oleh-oleh dari boss Tony salah seorang senior penulis dalam dunia perdombaan, perkambingan berikut persapian ketika berkunjung ke peternakan kambing perah kepunyaan uncle Hay di Singapura bersama boss besarnya. Detail berita silahkan KLIK: http://tonysapi.multiply.com/: Pada hari lebaran kedua Boss Besar harus di antar untuk menemui Mister Hay, yang biasanya dipanggil Uncle Hay, pemilik Peternakan Kambing Perah, untuk ngobrol-ngobrol dan tanya ini itu, sehubungan rencana si Boss untuk membuka peternakan serupa tapi tak sama di Indonesia.

Segala sesuatunya berjalan dengan sangat mulus serta menggembirakan, namun sesudah pertemuan dan kunjungan ke peternakan tersebut si Boss terus termenung dan sering menarik nafas panjang, seperti menyesali sesuatu. Tony_sapi tak tahan melihat ini, dan seperti biasanya langsung bertanya, dengan penuh kurang ajar : KENAPA BOSS , KOK SEPERTINYA BOSS KESURUPAN SETAN KAMBINGNYA UNCLE HAY ??? Jawabannya sangat mengejutkan, dengan judes dan galaknya si Boss menjawab. “TONY !!!! APA SIH KURANGNYA PEMERENTAH KITA. DIA (uncle HAY) MEMBAYAR PAJAK SEDEMIKIAN TINGGINYA, MENDAPAT BIMBINGAN, ARAHAN, PENGAWASAN, SERTA ASUHAN DARI PEMERENTAHNYA SEDEMIKIAN TINGGINYA JUGA” – “MENGAPA KITA HANYA DISURUH BAYAR PAJAK WALAUPUN BARU PUNYA KANDANG – BELUM ADA KAMBINGNYA???? – CEPETAN JAWAB !!!!!!!!.

Serasa di sambar petir seribu kali rasanya, jarang-jarang si Boss berani membentak dan memarahi si tony_sapi, wah gawat – berarti si Boss Besar sedang marah besar banget — gawat-gawat !!!!!!! Dengan jujur saya menjawab: “JUSTRU DISITU KEHEBATAN PEMERENTAH KITA, MEREKA HANYA MEMAKSA ANDA BAYAR PAJAK, PROCEDURE SELEBIHNYA ANDA BISA SAEN ROOTREE” Eeeeh si Boss Besar malah makin garang dan menghardik: “APA ITU SAEN ROOTREE !!!!!!. Jawaban saya adalah:“SAEN ROOT REE kan bunyinya SA-EN-RUT RI, artinya SAENaknya peRUT sendiRI, yang maknanya BEBAS MERDEKA, kan SUDAH BEBAS NEGRI KITA juga ada lagunya, bahkan kita harus SORAK-SORAK BERGEMBIRA”. Si Boss Besar menjawab dengan penuh wibawa sperti biasanya:“ HIDUP KAMU MEMANG MASIH BERGUNA TONY!!!!!!.

Lega-lega benar hatiku, periuk nasi dan dapurku masih bisa ngebul-bul-bul, dan kami bersama-sama ber- SORAK SORAK BERGEMBIRA, sambil cari makan siang.SEDIKIT PENJELASAN MENGENAI HAY’S GOAT FARM: Peternakan ini terletak di LIM CHU KANG – Lane 4 – Singapore. Pemiliknya bernama Bapak Hay, beliau tadinya adalah peternak babi, sepuluh tahun yang lalu peternakan babi nya di tutup dan di ganti dengan peternakan kambing perah. Kambing-kambingnya di datangkan dari Amerika, kemudian di ternakan di Singapore. Kini jumlah kambingnya sekitar kurang dari seribu ekor, dengan karyawan sebanyak sepuluh orang, yang semuanya adalah anggauta keluarga Bapak Hay, termasuk anak-anak kandungnya. Hasil produksi utamanya adalah Susu Kambing. Pemerahan dilakukan dengan menggunakan mesin hisap (vacum) yang serba otomatis, dan yang sangat di jaga kebersihannya, dimana 10 sampai dengan 12 ekor kambing dapat di perah pada waktu yang bersamaan.

Pada saat kami memohon untuk mencoba melakukan pemerhan dengan menggunakan tangan (manual milking), Pak Hay dengan sangat santun menolak dengan keras. Karena peternakan ini harus MENTAATI BIMBINGAN SERTA PERATURAN YANG TELAH DI TETAPKAN oleh Dinas Peternakan dan Pengawasan Makanan negara setempat/Singapore. MEMERAS SUSU DENGAN MENGGUNAKAN TANGAN- DILARANG DENGAN SANGAT KERAS, jika hal itu dilakukan maka peternakan harus menanggung konsekuensi yang sangat berat,yang antara lain – Kambing nya harus di karantina setelah di perah, dan susu hasil perahannya harus di buang, karena di anggap tidak bersih dan sehat.
Lim Chu Kang adalah daerah peternakan dan perkebunan organik, yang terletak jauh dari keramaian. Ada terdapat beberapa peternakan, yang antara lain-Ikan Koi, Ikan Arawana, Kodok, Burung dan lain sebagainya. Cara menuju ke daerah peternakan tersebut dengan biaya yang murah adalah: enuju ke stasion MRT KRANJI. Keluar dari stasion ini anda harus menuju ke tempat Bus Transfer. Di tempat Bus Transfer ini anda akan melihat petunjuk di Berth Nomor 3 (tempat pemberhentian Bus nomor 3), yang menyatakan bahwa pemberhentian nomor 3 adalah untuk Shutle Bus Service Kranji – Farm – Kranji. Bus ini berangkat setiap 30 menit, harga karcisnya 2 dolar Sing untuk dewasa, anak-anak 1 dolar Sing, dan akan berhenti di beberapa peternakan dan perkebunan.
Cara menuju ke daerah peternakan dengan biaya yang agak mahalan dikit, adalah: Menuju ke stasion MRT Choa Chu Kang. Naik taksi meter ke Hay’s Goat Farm, dengan biaya sekitar 10 dolars Sing. Cara yang paling termurah jalan kaki dari stasion MRT terdekat yaitu Choa Chu Kang, tapi kalau tidak biasa bisa lecet, teler dan kesasar masuk Akademi Militer Singapore, itupun kalau lagi mujur, kalau lagi sial – ketembak para calon tentara yang lagi belajar perang-perangan, jadi jangan jalan kaki deh – cape Boss. Terimakasih dan salam hormat.

 

SI UNYIL BERMAIN DI VILLA

Suatu kebahagiaan tentunya bagi Kami tim Villa Domba manakala kembali mendapatkan kesempatan dari pihak stasiun televisi Trans 7 untuk ikut serta dalam memberikan informasi pengetahuan kepada masyarakat. Tidak hanya untuk orang dewasa, Alhamdullilah di mana terkait kegiatan liputan acara Laptop Si Unyil belum lama ini di Villa Domba semoga dapat menjadi suatu bagian dalam upaya memperkenalkan kecintaan hewan ternak kepada pemirsa anak-anak dari sejak dini! Si Unyil bermain di Villa Domba: Bravo Trans Corp yang senantiasa berupaya memberikan informasi bermanfaat kepada pemirsanya!

Kegiatan syuting pun dimulai dengan melibatkan beberapa anak desa di lingkungan Villa Domba. Ucapan terimakasih dari Villa Domba kepada mba Faulina dan mba Windah dari tim liputan Laptop Si Unyil Trans 7 yang telah memberikan kesempatan kepada anak desa di lingkungan Villa Domba untuk tampil mengisi acara. Penulis yakin: Penanaman kecintaan hewan ternak kepada pemirsa anak dari sejak dini khususnya Domba Garut adalah bagian dari upaya melestarikan kekayaan plasma nuftah bangsa dan memajukan usaha ternak Indonesia! Optimis bilamana kebangkitan usaha ternak Indonesia akan segera tiba! Amin. Tampak gambar beberapa anak desa yang terlibat dalam kegiatan syuting Laptop Si Unyil di Villa Domba.

Kedatangan Si Unyil ke Villa Domba adalah tidak sendiri. Tokoh boneka yang merupakan favorit penulis sejak jaman sekolah dasar ini juga datang bersama pak Ogah. Salut dengan alur cerita yang dikemas oleh mba Faulina terkait aktivitas kedua tokoh boneka tersebut selama di Villa Domba, terlebih pak Ogah dengan aksi-aksi isengnya. Kedatangan Si Unyil dan pak Ogah ke Villa Domba pastinya juga menjadi tontonan bagi anak-anak desa di lingkungan Villa Domba termasuk anak penulis yang sengaja datang untuk bertemu secara langsung. Bahagia rasanya dengan senyuman yang terpancar dari raut wajah anak desa. Dikarenakan kegiatan pemeliharaan domba pada acara Laptop Si Unyil ini melibatkan anak-anak maka sengaja domba yang dipergunakan adalah yang kecil ukurannya. Semoga saja dengan acara ini dapat terlahir para Insan Peternakan baru yang akan semakin memajukan usaha ternak di Indonesia! Salam Peternak! KLIK Video Youtube tentang Keceriaan Anak-Anak Desa di Villa Domba bertemu Si Unyil dan pak Ogah: http://www.youtube.com/watch?v=rP6e94B2WnE.

 

LEBARAN SI KECIL RAMA

”Tadi rumahnya pegawai ya pah? Kok kecil ya?” demikian tanya jagoan cilik penulis yaitu si kecil Rama manakala penulis mengajaknya bersilaturahmi saat hari raya ke beberapa rumah pekerja dan peternak mitra. Liburan lebaran si kecil Rama kali ini juga dihabiskan di lokasi perkebunan organik dan peternakan Villa Domba. Tidak hanya bersama hewan ternak domba di mana penulis pun ingin sekali memperkenalkannya pada kehidupan masyarakat desa. Kaget dirinya manakala menjumpai warga desa yang malam-malam harus pergi ke sungai untuk buang air besar, ”Kok mereka enggak punya wc ya pah?” tanyanya kembali kepada penulis. Ataupun keheranannya manakala ada rumah warga desa yang memiliki tv dan vcd. Semakin terenyuh hati penulis manakala dia pun sudah bisa kritis, ”Pah, sawahnya mau dibangun apa sih itu? Kok ditutup pakai tanah?” ucap si kecil Rama manakala ia melihat pemandangan tentang sebuah sawah yang sedang diurug untuk dibuat suatu bangunan.

Waktu yang dihabiskan si kecil Rama manakala berlebaran di Villa Domba seperti biasa juga diisi dengan bermain bersama domba kesayangannya. Tidak takut dirinya mendekati si Layung salah satu Domba Garut Jantan kesayangannya seperti tampak pada gambar di bawah. ”Layung sudah tua nih pah, tapi jangan dijual ya!” pesan yang selalu disampaikannya kepada penulis. Tidak takut dirinya pula ikut memberikan pakan kepada hewan ternak domba, KLIK Video Youtube manakala si kecil Rama bersama isteri penulis sedang memberikan pakan pada hewan ternak domba. ”Mah, mah, Satria belum dikasih makan.” teriak si kecil Rama, http://www.youtube.com/watch?v=kMKdCM3mFCc. ”Enak banget bang sudah punya calon pengganti sejak dini.” ucap sang penggagas Villa Domba kepada penulis. Mari kita tanamkan kecintaan anak kita sebagai generasi penerus bangsa pada bidang pertanian dan peternakan dari sejak dini! Merdeka!

”Ini kuburan siapa sih pah?” tanya si kecil Rama kepada penulis manakala penulis pun mengajaknya untuk berjiarah ke makam kakek dan nenek penulis tercinta. ”Ini kuburan kakeknya papah! Berarti Buyutnya Rama, mamahnya Oma.” ucap isteri penulis menjelaskan. ”Nanti kita dikuburnya di mana lagi kalau sudah sempit kaya gini tanahnya!” tanya si kecil Rama kembali yang pastinya membuat penulis semakin bingung untuk menjawabnya. Adik penulis akhirnya pun mencoba membantu menjawabnya.

Kesedihan bagi diri penulis manakala kakek penulis tercinta sudah mendahului semasa penulis masih kecil. Satu moment yang selalu penulis ingat tentang pesan yang disampaikan oleh nenek penulis semasa hidupnya, ”Kibarkan selalu Indonesia Raya di manapun Kamu berada!” KLIK Video Youtube tentang si kecil Rama bersama keluarga manakala penulis ajak berjiarah: http://www.youtube.com/watch?v=AAl3l9JTmZQ. Terharu diri penulis manakala si kecil Rama dibantu adik penulis menaburkan bunga di atas makam kakek dan nenek tercinta. KLIK Video Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=Cg6SkWoDv48.

 

BERBUKA BERSAMA

Walaupun bulan Ramadhan telah berlalu namun janganlah hilang hendaknya setiap hikmah dan pelajaran yang kita dapat pada bulan yang suci dan mulia tersebut, bulan yang Insya Allah penuh dengan ampunan dan barakah bagi kita semua. Amin. Tradisi rutin di Villa Domba adalah acara berbuka puasa bersama yang Alhamdullilah kembali dapat dilangsungkan pada bulan Ramadhan tahun ini. Seluruh pekerja bersama keluarganya berkumpul di Villa Domba dan berikut sang penggagas tentunya. Terlebih pada pagi sampai dengan sore harinya baru saja usai merampungkan kegiatan pengambilan gambar Laptop Si Unyil di Villa Domba.

Sejenak penulis termenung dan teringat pesan yang pernah disampaikan oleh mas Heru dari Jejak Si Gundul Trans 7, ”Ikuti selalu hati nurani mas di mana akan ada pertolongan yang tidak diduga!” Kemudian pesan sang penggagas dan guru ngaji penulis tentang kekuatan doa yang datangnya bisa dari mana saja, ”Ada doa pekerja, ada doa isterinya pekerja, ada doa anaknya pekerja, kemudian ada doa tukang ngarit, ada juga doa isterinya tukang ngarit……” ”Ya Allah, ucapan syukurku pada Mu atas segala nikmat, rezeki dan karunia yang telah diberikan kepada keluarga kami selama ini”. Amin. Rasa duka mendalam bagi diri penulis pada bulan Ramadhan kali ini begitu terasa dengan ketiadaan guru ngaji yang telah mendahului penulis menghadap Nya. Doa penulis untuk sang guru, Sultan Sati Merapi, semoga pintu surga dibukakan oleh Allah SWT atas segala amal dan perbuatannya ketika mendidik murid-muridnya selama ini. Amin. ”Jadilah selalu seorang pembeda, seorang yang selalu bisa membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.” pesan yang selalu disampaikannya kepada penulis.

Acara berbuka puasa bersama di Villa Domba pun seperti biasa diisi pula dengan motivasi dan nasihat dari sang penggagas kepada seluruh pekerja. Mulai dari kiat menjalani hidup, mendidik anak dan lainnya, penulis yang masih terbilang junior pastinya mendapatkan kesempatan untuk memperoleh ilmu yang Insya Allah berguna. ”Melihat pekerja jangan dari sisi tenaganya saja bang! Lihat juga sisi manusianya, bagaimana keadaan keluarganya, seperti apa rumahnya, apa kesulitannya, ini yang akan menjadikan mereka Insya Allah semakin setia dengan kita!” pesan sang penggagas kepada penulis. Silahkan KLIK Video Youtube terkait motivasi dan nasihat sang penggagas pada kegiatan acara berbuka puasa bersama di Villa Domba kepada salah satu pekerja: http://www.youtube.com/watch?v=2W8TGk-yau4.

 

BERSIAP KURBAN 1429 H!

Bersiap Kurban 1429 H! Sebuah telepon diterima oleh penulis belum lama ini, ”Kang, saya sudah pernah menelepon sebelumnya, bermaksud untuk pesan kurban sedari sekarang sudah bisa? 2 ekor ya kang yang harga 1 jutaan.” ucap pak Ivan salah satu pembaca setia Blog Domba Garut. Alhamdullilah. Insya Allah sampai dengan posisi per hari ini di mana ketersediaan stok hewan kurban berupa Domba Garut yang Kami miliki adalah masih mencukupi. ”Jangan lupa ya kang punya Saya sebanyak 6 ekor harus yang mantap!” pinta pak Dede pembaca setia lainnya dari Blog Domba Garut. Doa Kami bagi para pembaca setia yang telah memesan hewan kurban dari sejak dini kepada Villa Domba sehingga mendukung kepastian program kemitraan dan pemberdayaan yang tengah Kami jalankan. Semoga Allah SWT melipatgandakan rejeki pembaca sekalian. Amin.

Memesan hewan kurban sejak dini di Villa Domba? Insya Allah Kami siap! Terlebih pelaksanaan ibadah kurban 1429 H Insya Allah akan berlangsung kurang lebih 2 bulan lagi. Proposal Kurban 1429 H akan Kami kirimkan via Email di mana pembaca sekalian dapat mengisi formulir pemesanan terlebih dahulu yang terdapat pada proposal dimaksud. Tentang pembayaran adalah dapat via transfer yaitu 1 minggu menjelang waktu pengiriman ataupun tunai saat serah terima hewan ternak di lokasi tujuan. Area Pemesanan adalah meliputi wilayah Bandung dan sekitarnya, Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi termasuk Tasikmalaya berikut Cirebon. Terkait harga adalah dimulai dari Rp. 950.000,- per ekor untuk berat 30 Kg, kemudian Rp. 1.250.000,- untuk berat 35 Kg dan Rp. 1.500.000,- untuk berat 40 Kg. Harga hewan ternak Domba Garut sudah termasuk ongkos kirim sampai ke alamat tujuan walaupun jumlah pemesanan hanya sebanyak 1 (satu) ekor! Email. agusramadas@yahoo.co.id, HP. 0815.941.3826.

Bagi para pembaca sekalian yang ingin berbagi senyuman dengan warga desa di lingkungan Villa Domba saat kurban nanti, Insya Allah Villa Domba pun siap dalam mendistribusikan hewan ternak kurban yang dipesan oleh pembaca melalui Kami. Proposal Kurban 1429 H akan Kami kirimkan via Email di mana pembaca sekalian dapat mengisi formulir pemesanan terlebih dahulu yang terdapat pada proposal dimaksud. Tentang pembayaran adalah dapat via transfer yaitu 1 minggu menjelang waktu pelaksanaan pemotongan. Terkait harga adalah dimulai dari Rp. 950.000,- per ekor untuk berat 30 Kg, kemudian Rp. 1.250.000,- untuk berat 35 Kg dan Rp. 1.500.000,- untuk berat 40 Kg. Harga hewan ternak Domba Garut sudah termasuk ongkos pemotongan dan dokumentasi walaupun jumlah pemesanan hanya sebanyak 1 (satu) ekor! Email. agusramadas@yahoo.co.id, HP. 0815.941.3826.
KLIK Video Youtube:

http://www.youtube.com/watch?v=CzHOX6X7tJk
Pasukan rumput Villa Domba: Pemberdayaan bagi warga sekitar baik dalam bentuk alokasi dana kemitraan ataupun sebagai pemasok rumput guna memenuhi kebutuhan pakan ternak. Setiap hewan ternak Domba Garut yang dipesan oleh pembaca melalui Kami Insya Allah adalah Masa Depan bagi mereka! Majulah Usaha Ternak Indonesia! Pesan Hewan Ternak Kurban berupa Domba Garut by Email. agusramadas@yahoo.co.id, atau HP. 0815.941.3826. Proposal Kurban 1429 H akan Kami kirimkan via Email di mana pembaca sekalian dapat mengisi formulir pemesanan terlebih dahulu yang terdapat pada proposal dimaksud.
Download Proposal Kurban 1429 H:

http://www.snapdrive.net/files/491516/3.PROPOSAL%20KURBAN%201429%20H.doc

 

BERITA CIREBON

Lama penulis tidak berkunjung ke kota kelahiran sang penggagas Villa Domba yaitu kota udang Cirebon sekaligus bersilaturahmi pula ke rumah mertua di Kuningan sebagai kota kelahiran isteri penulis tercinta. Ditemani oleh bapak mertua maka Alhamdullilah tidak hanya mampir ke perkebunan Vanilla organik yang juga ditanam olehnya di daerah Kuningan akan tetapi penulis berkesempatan juga berjumpa dengan senior lainnya dalam usaha ternak domba di kota Cirebon. ”Alhamdullilah Gus tanaman Vanilla nya sehat-sehat, cuman mahal beli pupuk kandangnya saja dan pada rebutan, makanya harus pelihara domba kalau begini!” ucap bapak mertua penulis. Tidak hanya tanaman Vanilla akan tetapi dikembangkan pula pohon Jati dan Durian di kebun mertua penulis yang merupakan pensiunan seorang guru Biologi.

Tampak gambar di atas adalah bapak mertua penulis di lahan perkebunan Vanilla organik miliknya di daerah Kuningan. Sedangkan tampak gambar bawah adalah bibit pohon Jati yang siap ditanam di lahan perkebunan bapak mertua penulis masih di daerah Kuningan. ”Ini mungkin hasilnya nanti bukan untuk Bapak Gus! Bisa jadi untuk dinikmati si Rama!” ucapnya. Mari kita bertanam tidak hanya untuk kita semata akan tetapi kelanjutan generasi di masa yang akan datang. Hijaukan Bumi Pertiwi Indonesia dengan Bertani Organik!

Tidak hanya berkunjung ke perkebunan Vanilla milik bapak mertua, Alhamdullilah kunjungan ke Kuningan dan kota udang Cirebon yang lalu di mana penulis pun dapat bersilaturahmi dengan senior lainnya dalam bidang usaha ternak domba. Adalah Bp. Mistar selaku Ketua Kelompok dari Peternakan Domba bernama Karya Kinasih yang berlokasi di desa Bakung Kidul, kecamatan Jamblang, kabupaten Cirebon. Peternakan domba ini merupakan mitra binaan dari Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan di kabupaten Cirebon. Di mana Peternakan Domba Karya Kinasih ini juga merupakan bagian dari program Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S).

Sektor usaha penggemukkan adalah bidang yang dipilih oleh Bp. Mistar saat ini, ”Saya belanja bakalan penggemukkan biasanya dari Bandung.” ucapnya kepada penulis. ”Pasarnya cukup bagus juga di Cirebon karena masyarakat di sini bila aqiqah atau kurban senang yang gagah-gagah!” lanjutnya kepada penulis. Geleng-geleng penulis dengan harga di daerah Cirebon yang cukup cantik. Sementara untuk sektor usaha pembibitan di mana dibantu oleh dinas peternakan setempat maka semen beku cair Domba Garut Unggulan digunakan untuk reproduksi induk domba betina yang ada dalam kelompok ternak Karya Kinasih. Tampak gambar bawah adalah kandang koloni induk domba di kelompok ternak Karya Kinasih. ”Masyarakat sebagai anggota kelompok setiap sore hari akan datang ke kandang untuk memberikan pakan rumput” demikian penjelasan adik Bp. Mistar. ”Dibuat juga jadwal piket untuk pemeliharaan ternak.” lanjutnya kembali. KLIK Video Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=bMi_g0D9U6I. Suasana Kandang di Peternakan Domba Karya Kinasih, KLIK: http://www.youtube.com/watch?v=5mfY_L2usWg dan KLIK juga: http://www.youtube.com/watch?v=i2dJ4yfhOPE.

Saling bertukar informasi dan pengalaman dalam beternak domba pun terjadi dalam pertemuan silaturahmi ini, terlebih dengan posisi penulis yang masih terbilang junior pada usaha ternak domba. ”Kalau rumput sedang susah di musim kemarau ya jangan panik, apalagi kalau ampas tahu menjadi rebutan dengan peternak Sapi, di sini limbah kacang eks pabrik juga bisa digunakan untuk pakan ternak!” demikian nasihat pak Mistar. Tiap harinya hampir 1 mobil bermuatan kacang eks pabrik dipasok untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak di peternakan domba Karya Kinasih. KLIK Video Youtube tentang kacang eks pabrik sebagai Pakan Ternak: http://www.youtube.com/watch?v=RNhZ_5cWZUA.

Sebelum bertolak pulang namun tidak ada salahnya dengan sisa waktu yang ada di mana penulis menyempatkan diri untuk berwisata keliling kota Cirebon, mulai dari menikmati sajian kuliner khas wilayah Cirebon seperti Empal Gentong, Nasi Jamblang ataupun Mie Koclok mas Edi yang sudah tersohor di mana berlokasi di jalan Lawang Gada kota Cirebon, dan pastinya mengunjungi Keraton Kasepuhan dan Kanoman yang ada di kota udang tersebut. Nikmatnya bekerja sambil berwisata! Salam Petani dan Peternak! Indonesia Bisa!

Perjalanan penulis sebenarnya terus berlanjut sebelum bertolak ke Bandung dengan coba menyisiri wilayah ternak yang ada di pantai utara jawa, secara bertahap Insya Allah akan diulas pada Blog Domba Garut dan Organic Indonesian Vanilla. Alhamdullilah di mana penulis berkesempatan bersilaturahmi dengan salah satu anggota Insan Peternakan di wilayah Tegal provinsi Jawa Tengah dan pastinya mencicipi sajian kuliner khas kota Tegal yaitu Sate Balibu (Bawah Lima Bulan). Di manapun wilayahnya maka bilamana ada potensi terkait dukungan lahan dan pakan memadai maka ciptakanlah selalu ruang untuk kemajuan usaha pertanian organik dan peternakan di Indonesia!

BERBASIS EKONOMI KERAKYATAN& BERLANDASKAN PRINSIP SYARIAH

Manuk Dadali


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: